Uncategorized

MAS…. AYO PULANG KE DESA

Saya di Perkebunan Selogiri

 Mas…. mari kita pulang ke desa.

Kita buka sebuah rumah baca. Kita ajarkan anak-anak membaca. Bukan
hanya anak-anak yang lahir dari rahimku. Pokoknya anak-anak. Di depan
rumah nanti kita tanam beberapa pohon Kersen. Biarkan saja meninggi agar
anak-anak nanti membangun rumah pohon di atasnya.

Mas…. mari kita pulang ke desa.

Kita tata buku-bukuku di rak yang kita taruh di ruang tamu dengan meja
kecil kayu di lantai. Aku nanti akan buat bantal bantal kecil agar
nyaman. Di pojokan aku akan letakkan buku gambar dan krayon. Biar saja
anak-anak mengacaknya
.
Lalu nanti aku minta tolong kepadamu
membuka lahan di depan rumah. Nanti aku akan ajak anak-anak bercocok
tanam. Menanam apa saja sesuka suka mereka. Mau menanam bayam, cabe
ataupun tomat. Aku tidak masalah ketika pagi hari mereka akan mengetuk
rumah kita hanya untuk meminjam buku ataupun sekedar menumpang tidur.


Mas… mari kita pulang ke desa.

Kita akan duduk berdua menikmati matahari pagi. Aku akan buatkan
segelas kopi untuk kita berdua. Dan menawarkan kamu mau sarapan apa?
singkong yang kita tanam di belakang rumah? atau ubi yang kita simpan di
dapur? aku akan kukus agar bisa menjadi camilan anak-anak atau tamu mu
atau mungkin tamu ku yang datang hari ini.

Lalu akan menulis lama
di meja yang menghadap ke jendela. Jika tidak sungai, maka tolong
buatkan aku air-air yang mengalir dari kolam kecil di samping rumah.

Mas… ayo kita pulang ke desa. Kota ini sudah penuh sesak. Kamu tahu?
untuk pulang ke rumah saja aku harus muter-muter. Jalan di tutup.
Katanya ada konser. Musiknya buat telingaku sakit parah. Keringatku
dingin. Aku tidak suka ini. Aku tidak suka pesta pora. Aku bosan dengan
festival tiap hari yang hanya akan menghasilkan banyak sampah. Banyak
masalah.

Kalau seandainya dana berpesta ini untuk mendirikan
rumah-rumah baca di seluruh kota ini. Menerbitkan buku-buku bermutu dan
hasil penelitian tentang kota ini. Atau untuk membelikan pupuk para
petani yang hilang. Atau membuat biopori agar tidak banjir. Atau…
atau… atau….

Mas. Pokoknya aku mau pulang ke desa.

Biar saja aku merajuk lama-lama. Karena aku mau pulang ke desa. Kita
biarkan anak-anak bermain main di rumah kita. Walau mereka bukan anak
biologis tapi aku mau menciptakan anak-anak ideologis.

Apa? kamu bilang kita miskin. Mas. Kita jangan hitung-hitungan sama Gusti Allah.

Mas…. mari kita pulang ke desa. Nanti aku akan ceritakan kepada
mereka bagaimana nenek moyangnya yang membangun Kerajaan Blambangan.
Agar mereka bangga lahir di tanah ini.

Lalu aku akan menyuruh
mereka untuk memejamkan mata dan mengajak mereka ke negara antah
berantah. Tentang mimpi menjadi orang orang hebat.

“Aku mau ke mesir Kak….”. Mungkin contoh yang tepat

Mas. Aku mau pulang ke desa. Di sini terlalu ramai. Aku kehilangan
suara burung dan suara angin. Bahkan aku kehilangan suaraku sendiri.

Mas. Aku mau pulang ke desa..

ehh…. sebentar. Bagaimana jika aku menjadi Bupati? ah pasti tidak
perlu merajuk pulang ke desa. Bukankah aku bisa memindahkan desa ke
kota? Merubah semua tatanan kota ini yang tiba tiba berantakan dalam
sekian bulan.

Baiklah mas…. Aku mau jadi Bupati . Iya aku mau jadi Bupati Banyuwangi.

Paling tidak aku tidak akan gunakan lagi pawan hujan.

Tentu aku akan jadi bupati ter romantis se indonesia. Bupati yang suka membaca, suka hujan, dan suka senja

Banyuwangi, 20 desember 2014

Belajar origami di Perkebunan Selogiri

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *