Catatan

Manusia itu rumit

Sudah tujuh hari tanpa medsos? dan ternyata semua baik-baik saja. Kehidupan sosial saya sudah kembali normal. Ya semacam saat makan bersama sudah mulai ngorol dengan orang- orang sekitar. Dan ternyata memang sangat menyebalkan saat mereka tetap asyik dengan handphonenya sedangkan saya sedang berbicara dengannya.

Film? jangan di tanya. sudah banyak film bermutu yang saya lihat. Minimal satu atau dua film dalam satu hari. Saya juga mulai bersilaturahmi dengan beberapa kerabat atau say hello melalui pesan whatsap. Beberapa buku pun mulai terbaca dan masih kabar baik adalah, rumah Sukowidi agak terurus. Cucian piring, gelas tidak menumpuk dan gas terbeli. Mungkin buat sebagai orang ah ini berlebihan. Tapi percayalah, buat seorang yang tinggal sendirian terkadang cuci piring dan gelas nunggu numpak dan banyak. Gas juga nggak perlu diisi cepat cepat la wong bisa beli air mineral dan makan diluar terus.

Kehidupan saya sedikit berkualitas. Dan saya berhasil mengalahkan ego untuk tidak sharing hal-hal pribadi yang saya pikir nggak ada pentingnya. Semacam beli durian satu karung. Beberapa hari lalu, kami jalan-jalan ke barat mulai sore hingga malam. Banyak hal yang kami bicarakan tanpa disibukkan dengan handphone atau keinginan untuk sharing sedang dimana. Atau ribet dengan buat vlog yang nanti akan di share ke media sosial kalo sudah nemu sinyal. Dan melihat wajah dia saat menjelang malam, membuat saya benar-benar takut kehilangan. Dia yang selalu merasa khawatir dengan diri saya yang sering tidak pulang. Dia yang selalu tanya kapan saya akan pulang walaupun dengan cara yang kadang tidak bisa saya terima. Dia yang selalu berpesan, cepat pulang dan lebih baik di rumah saja tanpa harus kemana-kemana. Terkadang hal tersebut tidak bisa saya terima. Tapi tidak untuk beberapa hari ini.

Selama ini, baru saya sadari betapa saya membesarkan ego dan mengalahkan serta mengesampingkan perasaan orang-orang terdekat saya. Dan seperti kata Cak Bien beberapa hari lalu. Penghambaan sebagai salah stau kata kunci dalam setiap perbuatan kebaikan.

Tapi bukan berarti setelah saya menyelesaikan detox medsos, akun media sosial akan ditutup. Tidak akan. Tapi yang terpenting adalah pengendalian. Lalu semuanya akan kembali berjalan seperti biasanya dan saya sudah bisa mengendalikan diri untuk tidak berlebihan mengakses media sosial.

Bukankan harus ada spasi untuk menjadikan sebuah kalimat menjadi utuh dan sempurna? bukankah harus ada jarak agar sesuatu itu bisa tumbuh?

Ini sudah hari ke tujuh dan kurang seminggu lagi. Hari pertama saya mengatakan, duh masih lama. Dan hari ini saya berkata, aih cepat sekali, sudah seminggu saja.

Manusia itu memang rumit!

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *