Uncategorized

JAZZ …. USING…MELAYU…..

Malam ini kasih
teringat aku padamu / Seakan kau hadir disisi menemaniku
// Kuyakinkan diri ini agar tiada sepi / Kulewatkan hari didalam
mimpiku //
Seandainya mungkin ku
mampu terbang ke awan / Detik ini juga ku akan melayang kesana / Kau
kubawa pulang dirimu yang slalu ku sayang / Bersama, berdua kita bahagia
Kasih dengarlah hatiku
berkata / Aku cinta kepada dirimu sayang / Kasih percayalah kepada
diriku Hidup matiku hanya untukmu //
Saya yakin. Siapapun
yang merasa dekat dan mengenal saya secara personal  akan hapal dengan
lirik lagu diatas. Ya….Irama milik Ermy Kulit dengan “kasih”.
Apalagi dengan teman-teman studio saya. Hahahha…mereka pasti akan bosan
karena irama itu akan berputar lebih dari 50 kali sehari. Apalagi sekarang ada
yang versi dangdut. Hhhmmmm…….berjam-jam saya akan nyaman dengan irama itu. 
Tidak penting siapa
yang mengenalkan irama Jazz kepada saya. Yang pasti saya mencintai irama-irama
jazz karena merasa nyaman dan tenang serta terdengar lebih ekskusif. Easy
Listening. Saya mengenal musik Jazz sebelum saya mengenal lagu-lagu daerah
Banyuwangi atau sering disebut lagu Using.  Tapi jangan pernah tanya siapa
penyanyi Jazz yang saya sukai. Karena saya tidak pernah hapal dengan
penyanyinya sepertu saya yang tidak pernah hapal dengan lirik lagu. Saya hanya mengenal
Ermy Kulit dan Tompi. -pasti kamu tau kebiasaan burukku ini. susah menghapal
lirik lagu-
Hingga akhirnya saya
juga jatuh cinta untuk kedua kali pada jenis musik Banyuwangi yang dikenal
dengan musik Using.
– Kau tau…Using
adalah suku asli Banyuwangi. Walaupun darah saya bukan darah Using asli. Tapi
saya sangat mencintai Banyuwangi dan budaya Using. Dan saya kira semua dunia
tau jika saya sangat mencintai Banyuwangi –

Cintaku pada lagu Using
juga tidak jauh-jauh dari musik Jazz. Aransemen baru di dunia musik Banyuwang
yang sedikit Jazzyi. Kendang kempul dan Jazz. Kerennn…….dan tidak perlu
saya jelaskan secara detail karena awal tahun 2000-an POB berhasil merebut hati
masyarakat Banyuwangi.  Dari kendang kempul ke Patrol dan kolaborasi
dengan alat-alat musik lain, membuat saya berpikir bahwa musik Using adalah
musik yang pantas di dengarkan oleh dunia. Aransemen-aransemen baru yang
membuat musik Banyuwangi lebih berwarna. Dan saya semakin mencintai musik
Banyuwangi, musik Using, sejarah dan budaya yang ada di Banyuwangi. Tanah
Blambangan dan segala kenangannya disana. Walaupun akhirnya saya angkat tangan
dan sedikit mundur untuk ikut campur dalam dunia musik Banyuwangi. Saat
aransemen semakin keluar dari pakem yang ada. Dengan lirik-lirik yang tidak mendidik
dan bahkan jorok. Dengan video klip yang murahan. Dan saya akhirnya berdoa.
Agar sahabat-sahabat musisi saya yang ada di Banyuwangi kembali pada
“kodrat”nya. Membanggakan musik Banyuwangi. Menjadikan musik
Banyuwangi sebagai “tuan rumah” di tanah Blambangan.
– saya sempat meluncur
di dunia Youtube. dan mendapatkan video klip lagu-lagu Banyuwangi yang membuat
saya miris dan mengelus dada – Saya berdoa….Tuhan kembalikan Musik Banyuwangi
Musik Using saya tercinta
Lalu apa hubungannya
dengan Melayu? 
Kurang lebih satu tahun
saya di kota Batam. Bergabung dengan radio yang mengambil segmentasi Etnik
melayu Kepulauan Riau. Memaksa saya untuk akrab dengan dengan lagu-lagu melayu.
Dengan logat aneh yang saya sendiri tertawa sambil mengerutkan jidat karena
sama sekali tidak memahami. Mempelajari budaya-budaya melayu, mulai dari
Pantun, Gurindam 12, Zapin, Gazal, kompang, kerajaan melayu, Jong, Mie lendir,
nasi lemak, teh tarik dll. Memaksaku untuk memasukkan jiwa melayu dalam
keseharianku. Sebuah proses yang tidak mudah!
Apalagi referensi
tentang budaya melayu kepulauan riau sangat minim atau bahkan di katakan tidak
ada sekali. Termasuk musik melayu Kepulauan riau yang perkembangannya sangat
jauh di bawah standar -bagi saya- jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain.
Budaya dan musik melayu dalam pengamatan saya adalah tamu di rumahnya sendiri.
Ironis!
Saya tahu. Batam adalah
miniatur Indonesia. Tapi apakah dengan mengatas namakan “kemajemukan”
maka budaya melayu harus terpinggirkan dang terbuang? maka saya akan pasang
badan jika ada yang mengatakan hal tersebut. Walaupun saya bukan orang melayu!
saya hanya akan menghargai dan ikut menjaga budaya yang ada! Jika bukan kita
yang jaga maka budaya melayu hanya akan menjadi sejarah!
Tapi saya masih harus
banyak belajar tentang melayu dan karakter orang melayu yang “unik”.
Dan akhirnya sedikit demi sedikit saya menjelma menjadi perempuan melayu.
Saat saya membuat
tulisan ini tiba-tiba saya ingat Banyuwangi. Seandainya geliat musik Melayu
Kepulauan Riau sama seperti dengan geliat musik di Banyuwangi. Maka akan lahir
ratusan album dari tangan-tangan dingin seniman daerah melayu kepualaun riau.
Tapi jika ingat “kebablasan” insdustri musik Banyuwangi ?
aahh…jangan…jangan sampai.
Biarkan melayu
kepulauan riau berkembang dengan sendirinya. Tanpa ada paksaan. tanpa ada
tuntutan pasar. tanpa ada tuntukan produser yang mengkebiri musik untuk
menghasilkan pundi-pundi untuk dirinya. Karena saya percaya dan yakin bahwa
musik itu adalah universal dan dia akan bergerak sendiri mengikuti jiwanya.
Saya akhirnya kembali
berpikir. Jika seandainya musik melayu kepulauan riau diaransemen dengan musik
Jazz! pasti akan lebih keren.*  Saya menggunakan pakaian dengan songket
Melayu dan menyanyikan lagu Jazz milik Ermy Kulit. Ditengah-tengah mereka yang
lebih memilih musik dangdut dan melayu. Bukankah Beda itu indah……(ternyata
keren juga ya saya menggunakan songket melayu
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *