Uncategorized

MALAM DATANG TERLALU AWAL

Malam datang terlalu cepat bagi saya. Sesorean wajah saya memucat. Entah kenapa…… mata saya berat. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang lebih awal, bahkan sebelum matahari tenggelam.
Saya memutuskan mengkurung diri dalam kamar. Hanya ditemani kipas angin yang batu saja saya beli semalam. Suaranya pelan, bersaing dengan suara gitar anak ngamen depan rumah.
Berdiri, berjalan ke depan, ke belakang. Saya hanya diam. Tidak ada satupun yang saya ajak bicara.
” nanti ya dek…. aku masih meeting”
Dan akhirnya saya memilih menghempaskan badan di atas kasur. Diantara tumpukan buku-buku dan catatan konyol. Saya mengintip ke jendela luar. Bulan sempurna…… saya menghela nafas. Seharusnya kamu menemani saya menikmati  segelas teh mungkin atau segelas kopi. Saya menghapus air di ujung mata. Ini pilihan hidup saya. Bertahan dengan ada atau tidak ada kamu. Badan saya tiba-tiba panas. Saya mengerjap-ngejapkan mata. Saya akan mati sia-sia jika saya tetap diam dalam kamar ini.

Keluar …. iya keluar. Mengenakan jaket, mengendarai motor dan duduk diam di tengah taman sritanjung. Merapatkan jaket dan membetulkan letaknya nya di kepala. 
“Capuchino satu mbak”
Iya saya selalu memesan caphucino yang rasanya semacam dengan the tarik di tanah melayu. Hanya sekedar mengenang. Taman ini sudah banyak berubah. Hanya pohon beringin yang masih kokoh. Dulu saya, ibu dan bapak selalu menghabiskan waktu disini. Saya berlari-lari diantara ibu dan ayah, menggelanyut manja di lengan ayah.
Bola warna merah menggelinding di kakiku. Bocah usia belum 3 tahun berlari. Saya menunduk mengambil bola dan meberikan bola pada gadis kecil dengan jilbab merah muda
“Lia… bilang terimakasih sama tante. Salim…”
Seorang ibu muda mungkin usianya di bawahku ikut menghampiri. 
“Aulia…. makasih ya tante”, gadis kecil itu mencium ujung jariku.
Saya tersentak dan pura-pura tidak mendengar dan membiarkan gadis kecil itu berlari menghampiri ayah dan ibunya.
Saya mengusap ujung air mata untuk kedua kalinya. “Nak kenapa kamu datang dengan cara seperti ini?”
Saya mendongak ke atas. Ada bulan ……. sempurna seperti wajah mu saat saya sangat memujamu.
Ada rasa sesak di dada saya. Nyeri sangat. Saya menggigit bibir. Perih biar saja. Malam ini datang lebih awal. Seharusnya saya tidak pulang. Seharusnya saya tidak di taman ini. Seharusnya saya mengurung diri dengan tumpukan pekerjaan dan adobe audition di dalam studio.
“Blambangan tidak akan hilang raa. Pulang lah”
Kamu tahu kenapa saya selalu pulang malam? Sederhana mas…. semakin malam saya pulang maka akan semakin pendek waktu saya untuk diam seorang diri. Semakin pendek waktu saya untuk tidak bersuara karena memang tidak ada yg di ajak berbincang.
Seperti kaki ini, malam datang lebih awal, dan berarti lebih lama saya tersiksa sepi, sendiri dan diam. Ini gelas capucino kedua saya.  Saya habiskan sambil menggambar kupu-kupu ndaru untuk kamu.
: kau tau saya sangat rindu. Memejamkan mata di tengah taman. Ada bulan yang tersimpul. Iya kamu cermin dari sebuah catatan masa lalu.
Badan saya memanas. Kepala saya pusing. Perut saya menegang.  Saya limbung.
Saya butuh morphin…. ini terlalu menyakitkan
Published with Blogger-droid v2.0.9
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *