Kuliner

Lontong Cap Go Meh Bu Rudy

:Dari China hingga Surabaya

Bu Rudy bernama asli Lanny Siswadi lahir di Madiun tahun 1953. Pada tahun 1965, Madiun menjadi sorotan karena isue PKI sehingga dia hijrah ke Surabaya dan pada tahun 1978 menikah dengan Rudy Siswadi asal Banyuwangi yang punya hobi memancing.

Dari tangan Bu Rudy kemudian lahir kuliner Nasi Udang dan sambal yang melegenda hingga detik ini. Ide nasi udang muncul ketika udang yang dijadikan umpan memancing oleh suaminya tidak terpakai.

Merintis depotnya dari warung mobil, Bu Rudy sekarang memiliki 7 cabang depot di Surabaya. Dan yang khas adalah sambal Bu Rudy, dengan foto wajahnya di wadah sambal. Mungkin dia perempuan terkenal nomer dua di Surabaya setelah Bu Risma.

Datang ke depotnya adalah perjalanan yang luar biasa. Depot yang sangat sibuk dengan dapur di depan, khas depot peranakan. Banyak jajanan dan makanan besar. Sangat menyenangkan.

Tapi saya tertarik dengan menu yang masuk kategori baru di Bu Rudy. Lontong Cap Go Meh.

Cap Go Meh diambil dari dialek Hokkian berarti ‘malam ke 15’ alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Cap Go Meh sendiri adalah penutup dari perayaan tahun baru Imlek.

Lontong Cap Go Meh ini bentuk makanan adaptasi, bentuk baru untuk kaum peranakan. Bukan menggantikan, tapi menghormati tradisi masyarakat setempat yaitu masyarakat pesisir Laut Jawa. Di daerah-daerah peranakan China lain seperti di Singkawang, Palembang, atau Bangka Belitung tidak ditemukan Lontong Cap Go Meh.

Pada awalnya, Laksamana Cheng Ho pada Dinasti Ming tahun 1368-1644 masuk ke wilayah pesisir Laut Jawa di sisi Semarang. Laki-laki imigran China banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat seperti perkawinan dengan perempuan-perempuan Jawa. Imigran China dipesisir Laut Jawa tinggal dan lalu mengadopsi kebudayaan setempat. Seperti salah satunya dengan melihat tradisi kuliner ketupat lebaran dan opor ayam.Lontong sendiri lahir dari Santri

Maka terciptalah Lontong Cap Go Meh. Pakemnya itu harus ada lontong dan opor ayam, sambel goreng jeroan, sama kerupuk udang
Sayangnya waktu saya sebentar di Bu Rudy, hanya motret tanpa mencicipi. Sedih? Iyalah. Tapi suatu saat pasti akan datang kembali.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *