Catatan

Lampu

7 September 2018

Bu Ipah, adik mbah saya sering cerita, dulu saat masih muda dan baru memiliki satu anak, selalu menyempatkan diri untuk membca komik Kopingho setiap malam di bawah temaram lampu jalan. “Di depan rumah Sukowidi itu wes Raa. Baca kopingho karo nggendong mas didik. Sek bayi,” cerita Bu ipah. Komik tersebut di pinjam bu Ipah dari perpustakaan milik pabrik kertas Basuki Rahmat. Saya sempat pernah kesana sebelum tutup. Tepatnya di selatan toko Tazza Kampung Arab yang sekarang ada orang jual martabak dan kebab.

Bu Ipah memilih membaca di bawah lampu jalan karena saat itu hanya itu satu satunya lampu yang paling terang. “Membaca jalan terus,” cerita bu Ipah sambil tertawa.

Saya jadi ingat ketika ke Serui Papua beberapa minggu yang lalu. Bapak wakil bupati Yapen mengajak saya ke salah satu proyek yang digagas oleh Presiden Joko Widodo, pembangkit listrik tenaga gas dan minyak. Beliau bercerita jika kebutuhan listrik di Serui hanya 6 ribuan megawatt. “Jika sudah menyala, pembangkit listrik tersebut bisa menghasilkan 20 ribuan megawatt mbak Ira, Itu lebih dari cukup untuk menerangi Serui dan Yapen. Bisa untuk operasional pabrik pembekuan ikan. Anak-anak juga bisa belajar dengan tenang,” katanya sambil menatap bangunan warna biru di tepi pantai perjalanan menuju Pantai Ambai. Saya mengaminkan.

Perasaan maknyes juga saya rasakan ketika Charles, bocah yang belum genap 10 tahun bercerita jika dia lari dari ujung kampung Sarawandori ketika listrik masuk di kampungnya. Dia bisa minum es dan mamaknya bisa menyimpan ikan hasil tangkapan bapaknya sehingga saat malam hari mereka bisa berkumpul di rumah mereka tanpa khawatir bapak belum pulang dari kota karena ikan harus segera dijual. “Jika tidak dijual ikan busuk dan bapak tidak ada uang buat bayar sekolah,” katanya. Atau di Pulau Arguni, yang listriknya menggunakan genset termasuk untuk mengumandangkan adzan magrib. Listrik hanya malam hari.

Beberapa hari ini, wilayah Jawa Timur blackout. Sudah lebih 3 hari. Saya membaca sumpah serapah banyak orang melalui media sosial. Tidak sedikit menyerang pribadi Jokowi. Saya yang tinggal di jalur utama sedikit beruntung karena listrik tidak mati karena banyaknya industri di sepanjang jalan Banyuwangi utara. Beruntung kedua adalah saya sudah melakukan pengiritan listrik sejak cukup lama dan tidak ada niat untuk nambah watt di rumah. Hanya 450. Apalagi saya jarang juga ada di rumah. Namun saya tetap berempati kepada banyak ibu rumah tangga yang kelabakan saat listrik mati. Namun mengiat-ingat anak-anak di kampung yang pernah saya temui, betapa saya jauh dari kata mandiri dan berdikari untuk urusan pelistrikan. Jika mereka bisa, saya juga bisa. Minimal berdamai jika listrik mati. Minimal tidak ikut ikutan caci maki. Minimal ngobrol dan bermain dengan anak anak dengan sarana yang ada tanpa harus mengandalkan listrik. Berdongeng mungkin?

Dari pada sumpah serapan, akan lebih baik jika kita berdoa kepada petugas PLN yang saya yakin sedang bekerja keras dan mati-matian agar listrik kembali normal. Kreatifitas juga muncul disaat terjepit semacam membuat “dian” dari korek kuping dan minyak goreng atau membuat listrik tenaga matahari.

Seorang kawan baik yang bekerja di PLN pernah curhat ke saya. “Nyala nggak di puji, mati di caci maki. Padahal kita sudah melakukan yang terbaik Raa. Tapi tekhnis dan alam tidak bisa ditebak,” curhatnya.

Sehat dan panjang umur kawan-kawan PLN. Semoga diberi kesehatan, kelancaran dan kemudahan. Semoga akses listrik merata di seluruh Indonesia.

Mari berempati

Foto di Rumah Baca Pulau Arguni Fakfak Papua

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *