Uncategorized

LALU BAGAIMANA DENGAN SAYA BU

“Lalu bagaimana dengan adek?. Jangan pergi Bu”

5 tahun lalu di tanggal yang sama seperti hari ini saya pernah mengiba
berjam-jam di depan jasad perempuan yang melahirkan saya. Namanya
Ismiwati dengan pelafalan hampir mirip dengan nama lengkap saya
Rachmawati.

Ketika saya harus terbang dari Jakarta menuju
Banyuwangi lewat Bali. Saat itu saya berharap pesawat saya meledak
begitu saja lalu saya mati di hari yang sama dengan ibu saya yang katanya meninggal di 9 Maret di Banyuwangi sendirian saja tanpa saya.

Beberapa hari lalu saya menemukan dua kupu-kupu besar coklat yang mati
di sebuah teras rumah. Bukan di rumahku. Tapi di sebuah rumah yang
terkadang selalu membuat saya ingin pulang kesana.

Lalu apakah
itu kupu-kupu yang sama saya temui 5 tahun yang lalu di rumah Bintaro?
Kupu-kupu yang ingin menyampaikan sebuah pesan kematian? Saya menekan
dada saya yang terasa sakit hari itu. Meminggirkan kupu-kupu mati dengan
sayapnya patah. Saya menangis saat itu. Ketika kematian semacam kabar
gembira yang disampaikan sepasang kupu-kupu. Mungkin itu ibu dan ayah ku
yang sudah menyatu di surga.


9 Maret 2014

Saya
menyelesaikan hari ini dengan sempurna ketika berhari-hari saya merasa
di kejar kejar oleh waktu. Ketika saya saja tidak ada waktu sekedar
untuk mencuci muka dan tidur agak lama. Dan semuanya pulang. Rumah ini
kembali kosong dan hanya saya yang tertinggal. Karena memang saya tidak
punya tempat untuk pulang.

Menghempaskan tubuh di atas kursi
hijau. Rumah ini berantakan tapi menyenangkan karena berarti ada banyak
sahabat dan keluarga yang pernah datang di rumah ini. Menghela nafas dan
memilih mengurung dalam kamar.

Saya lelah sekali dengan pusing hebat yang saya lupakan berhari-hari.

“Bu. Boleh adek nangis. Ini hari kamu mati dan saya sendirian mengingatnya. Ketika semuanya seakan melupakan hari ini”

Membenamkan wajah di bantal. Lamat-lamat saya bermimpi. Ibu, Bapak,
anak-anak saya dan Emak berkeliling di sekitar saya. Ibu meraih kepala
saya dan membenamkan kepala saya di pelukannya. “Nak.. Luka kamu sudah
bernanah”. Saya merasa sedih yang sangat menyakitkan.

Ini tanggal 9 Maret. Dan akhirnya saya kembali menikmati kesendirian.

Kamu dimana? Ketika saya cukup egois menjadikan kamu seperti apa yang
saya mau. Lalu bagaimana jika saya balik kanan saja? Menikmati kembali
pilihan hidup yang pernah kamu anggap sebagai pilihan konyol.

“Saya akan menemani kamu Raa. Janji kamu jangan menangis lagi”

Kamu tidak menepati janji kamu dan saya pun tidak akan (lagi) memaksamu
untuk menepatinya. Termasuk hari ini. Sekedar menemani saya duduk diam
dan berdoa untuk ibu ku di hari kematiannya.

“Lalu bagaimana dengan saya”

Saya mempertanyakannya kembali jelang senja hari ini. Maka saya akan bilang semuanya akan baik-baik saya.

Balik kanan dan mengatakan “Kamu hujan, saya matahari. Mana mungkin
kita menyatu. Kita terlalu memaksakan sesuatu yang tidak di sepakati
alam”

Tapi konyolnya saya masih saja mencintai kamu. Temani saya berdoa hari ini. Kamu tidak ada dan saya berdoa sendiri

Tuhan terimakasih atas hari-hari hebat yang Engkau berikan kepada saya

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *