Catatan, Traveling

Kisah mbak Suriyat yang berjualan kembang kirim sejak jaman Jepang

Saat ditanya berapa usianya, Mbah Suriyat menggelengkan kepala dan berkata sudah tidak ingat lagi kapan lahir. Tapi dia menceritakan secara detail masa masa penjajahan Jepang dan juga Belanda. Mbah Suriyat hidup di dua masa itu hingga sekarang.

Di usia masih sangat muda dia harus menikah tapi pernikahannya hanya berusia 15 hari, ia kemudian diceraikan oleh suaminya. Pernikahan kembali terjadi sampai empat kali dengan laki laki yang berbeda namun tidak ada yang langgeng. Semuanya berujung perpisahan. Suaminya yang terakhir bahkan menghabiskan harta warisan yang diberikan ayah mbak Suriyat.

“Semua dijual. Habis. Sejak saat itu saya memutuskan tidak menikah lagi. Saya trauma.” Tentu dia berbicara dalam bahasa Using.

Semua pernikahannya tidak menghasilkan anak. Sampai saat ini dia tinggal sendiri di rumah kecil yang dibangun diatas tanah milik PT KAI mengandalkan pekerjaan berjualan kembang kirim yang didapatkan dari bunga bunga yang ditanam disekitar rumahnya dan di lahan kosong seberang rumahnya yang berbatasan langsung dengan rel kereta api. Pekerjaan yang dilakoni sejak dia masih muda dan melewati banyak era, mulai penjajahan Belanda, Jepang, Orde lama, Orde Baru, Reformasi sama era milenia. Berkali kali dia mempertanyakan kepada saya mengapa tidak seperti perempuan lain yang bisa memiliki anak. Saya sedih mendengarnya, tapi saya memilih diam dan menjadi pendengar yang baik.

Bukan sekedar bunga bunga melati atau mawar atau kembang kertas atau kembang pacar cina, Mbah Suriyat juga menanam Jambe dan juga Kelapa untuk diambil Manggar nya. Dia mengunduh sendiri bunga bunga yang dia tanam dengan tangga. Semalam suntuk jika menjelang malam Jumat Legi dia masih mengiris halus daun pandan untuk kembang kirim, kembang tabur untuk ziarah ke makam.

Dia mengajak saya berkeliling lahan yang dia tanami dan menunjukkan tanaman tanaman yang ia tanam. Tanaman yang ia cintai karena menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. “Sebenarnya saya capai, tapi saya tidak ada pilihan lagi. Jika tidak bekerja siapa yang akan memenuhi kebutuhan saya,” katanya. Dan suaranya bergetar. Entah mengapa saya selalu jatuh cinta pada suara bergetar seorang perempuan, karena disana ada kehebatan dan ketegaran..

Dia bertanya apakah saya memiliki suami. Saya memilih menggelengkan kepala. “Cari laki laki yang benar. Tidak menyakiti. Yang sayang. Tanggung jawab walaupun nggak kaya raya,” ujarnya sambil mengelus lengan saya.

Capai. Iya capai. Saya juga merasakannya. Kami berpisah dan sama sama saling mendoakan siang itu. Meninggalkan Mbah Suriyat tetap dengan kenangannya.

Dan pagi itu ada pesan di meja. “Kita berbeda dan tak akan pernah bisa ketemu. Aku pergi dan tak kan pernah kembali”

Hidup ini seperti drama.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *