Catatan, Life Style

Kisah Marianne dan Tenaga Kerja Wanita, Lusia

28 Agustus 2017. jam 4 dini hari saya menyelesaikan film yang berlatarbelakang perang dunia ke II judulnya Allied. Film tersebut menceritakan mengisahkan tentang seorang komandan Royal Air Force (RAF), Max Vatan (diperankan oleh Brad Pitt) yang bekerja sama dengan seorang wanita pejuang Gerakan Resisten Prancis (La Resistance), Marianne Beausejour (diperankan oleh Marion Cotillard), untukmembunuh dubes Jerman di Casablanca.

Cerita singkatnya akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Dalam perjalanan waktu ternyata Marianne adalah seorang mata-mata Jerman. Meskipun Max tidak percaya, ia menerima perintah untuk membunuh istrinya jika Marianne terbukti merupakan seorang mata-mata Jerman.

Akhirnya, Max mengetahui jika istrinya ternyata mengambil identitas Marianne Beausejour yang asli dan ia seorang mata-mata Jerman yang diperintahkan untuk membunuh dubes Jerman di Casablanca karena kebetulan sang dubes adalah seorang pembangkang. Jika Marianne tidak melakukan itu, anak semata wayangnya akan dibunuh.

Max panik. Dia berusaha melarikan diri dengan membawa anak dan istrinya yang sangat dicintainya. Karena sebagai seorang prajurit, dia harus membunuh istrinya yang menjadi mata-mata dengan tangannya sendiri. Jika tidak maka mereka berdua akan ditembak mati.

Sad ending.

Saat di landasan pacu pesawat untuk melarikan diri, Marianne mengatakan bahwa ia sangat mencintai Max dan meminta Max untuk menjaga anaknya dalam keadaan apapun. Dan… Marianne memilih bunuh diri dengan pistol Max. Maka dibuatkan laporan resmi jika Max yang melakukan penembakan tersebut sebagai seorang prajurit yang mencintai negaranya dan berhasil membunuh mata mata.

Perasaan saya campur aduk saat Max, menutupi mayat istrinya sambil menangis serta membaca surat dari Marianne yang ditinggalkan untuk anaknya.

Perasaan yang sama juga saya rasakan saat bertemu dengan Mbak Lusia pekan lalu. Mantan buruh migran yang dua tahun terakhir ini lumpuh karena kanker payudara yang menggerogoti nya sejak 2014 lalu. Ironisnya dia dirawat oleh tetangganya, bu Katemi padahal suami mbak Lusia masih ada dan kontrak dirumah yang berhadapan dengan Bu Katemi.

“Saya diceraikan suami saya hanya lewat SMS dan disuruh ambil sendiri surat cerai di pengadilan padahal kondisi saya seperti ini,” katanya dengan suara terparah patah menahan tangis.

Dia bercerita mengenal suaminya pada tahun 2004 lalu melalui handphone saat dia bekerja di Singapura. Mbak Lusia yang asli Blitar akhirnya pulang dan menikah kemudian tinggal 2 tahun di Banyuwangi. Suaminya tidak bekerja, tabungannya habis sehingga dia harus kembali menjadi buruh migran ke Singapura. Semua gajinya dikirim ke suaminya dengan alasan bangun rumah dan modal kerja. Dia kemudian pindah ke Hongkong dengan harapan dapat gaji lebih besar untuk mencukupi kebutuhannya dan suami.

“Akhirnya saya kalah dengan sakit dan kembali ke tanah air tapi suami saya berubah. Dia semakin tidak peduli dengan saya padahal semua hasil kerja saya untuk dia,” katanya. Bahkan dia sempat ditempatkan dilantai dua rumah kontrakan seorang diri dan suaminya mulai jarang pulang.

“Kok tega ya padahal dulu katanya mau Nerima saya apa adanya,” mbak Lusia kembali bercerita. Apalagi kartu BPJS nya juga sudah tidak lagi berlaku karena dicabut oleh lelaki yang sangat ia cintai.

Saya mengelus tangannya yang kurus kering dan mengatakan bisa memahami apa yang dia rasakan. Bu Katemi yang merawat Lusia selama 6 bulan terakhir ini juga menghibur dan mengatakan akan terus merawat Lusia sampai sembuh. “Saiki fokus sama sakit nya biar sembuh. Ra usah mikir liane,” katanya.

Marianne – walaupun dia tokoh dalam film – dan mbak Lusia adalah sosok perempuan yang akan sering kita temui dalam kehidupan. Atau bisa jadi kita yang jadi Marianne atau menjadi mbak Lusia.

Perempuan perempuan yang berkorban dan mengorbankan dirinya sendiri untuk kebahagian orang lain. Konon katanya atas nama cinta.

Marianne rela mengorbankan nyawanya buat suami dan anaknya. Walaupun alasan menjadi mata-mata Jerman karena ancaman pembunuhan pada anaknya. Mbak Lusia? Dia juga mengorbankan dirinya, bekerja mati matian untuk suaminya dan menjadi tulang punggung walaupun toh akhirnya jauh dari bayangannya. Suaminya pergi meninggalkannya.

Bukan. Bukan. Ini kekonyolan atau kebodohan. Sederhananya karena kita punya naluri untuk melindungi dan membahagiakan siapapun yang kita cintai. Orang tua, anak, pasangan, adik, kakak atau siapapun itu.

Dan tiba-tiba saya ingat ketika saya harus bergadang semalaman menjaga seorang yang sangat saya cintai yang sedang sakit. Menjaga selimutnya agar tidak lepas dari tubuhnya. Mengelus kepalanya agar tenang saat menceracau karena panasnya tinggi.

Lalu esok? Dia pergi tanpa mengucapkan sedikit pun terimakasih.

Menyadari nya saya hanya tertawa dan dalam hati mengatakan terimakasih telah diberi kesempatan menjadi orang yang baik hati.

Maka mbak Lusia. Jika njenengan baca catatan ini percayalah Gusti Allah sedang menjadikan njenengan orang yang sangat baik hati.

Sehat sehat mbak Lusia.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *