Uncategorized

KIRI – KANAN : genjer-genjer

“Kalau seandainya nanti adek wawancara kamu
tentang lagu genjer-genjer, mas bersedia kan? Adek mau buat film
dokumenter sama teman-teman. Harus ada pelurusan sejarah”

“Nggak usah macem-macem dek…… kita ini sudah di cap orang kiri”

“Itu kan cap dari orang-orang yang menggunakan tangan kanan nya untuk makan. Kalo kidal gimana?”

Kamu meneguk satu sloki.

“Aku nggak nawarin kamu”

“Lagian adek juga nggak minum gituan”, saya memilih meneguk air putih
dari botol minum di dalam tas ransel. “Lalu bagaimana dengan rencana
wawancara nya mas?”

Akhirnya kuliah malam tentang sejarah. Tentang menyanyi …. tentang 65…. tentang pengasingan …. tentang korban.

“Kita ini juga korban dek… korban sejarah. Kamu jangan macem-macem
lagi. Aku tau niat mu baik. Tapi … sudahlah. Masih banyak yang bisa
kamu gali selain nyanyian genjer-genjer”

Saya membetulkan posisi duduk.

“Mas ku …. putune sidopekso. Tidak ada hukum yang melarang orang
bernyanyi. Mas lupa di film So hok Gie yang sering kamu ceritakan ada
lagu genjer-genjer yang di jadikan backsound. Dan itu tandanya sudah
lulus sensor”

Kamu melihat saya tajam, “Dan kamu lupa dek…
kita hidup bukan di film. Tau perasaan ku. Saat aku nyanyi itu di forum
terbuka dan kehidupanku terancam selama 2 minggu lebih?. Bukan takut aku
mati dek… tapi takut ormas-ormas, golongan masyarakat lain datang
kerumah ini. Bagaimana dengan keluarga? bagaimana dengan kampung ini.
Mas nggak mau korban kan mereka demi keegoisan mas sendiri”

Saya menuang minuman di botol ke dalam sloki dan menyorongkan di muka nya.
“Minum sajalah …. jangan marahin aku. Janji tidak akan melibatkan kamu. Adek janji tidak akan merugikan siapapun”

“Ngambek…. marah…..? Repot ngomong sama orang keras kepala kayak kamu”

Saya berdiri sambil menekuk muka.

“Dek…. mas ndak ingin terjadi macam-macam sama kamu. Ingat kamu itu perempuan”

Muka saya semakin menekuk dan berbalik arah menuju pintu, “Adek pulang”

“Iraa Rachmawati……..”

Saya menoleh saat nama lengkap saya di panggil dengan lengkap.

“Bawa teman mu ke sini. Tapi jangan pikir pertemuan nanti adalah sebuah wawancara resmi. Mas nanti akan pertimbangkan lagi”

Saya tertawa terbahak-bahak. “Actingku luar biasa ya mas.” Saya berlari
dan menyalami tangan mu. Gantian kamu yang menggeleng-gelengkan kepala.

Lirih lagu itu terdengar di kampung ini. Dan saya tiba-tiba merasa
menari dengan berselendang merah. Dengan senandung suara khas ‘nglaik’
kamu dengan musik angklung yang kamu pasang di depan rumah

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emak’e thole teko-teko mbubuti genjer
Emak’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tolah-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih


Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Emak’e jebeng podho tuku nggowo welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah


Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak


Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak


Setengah mateng dientas yo dienggo iwak


Setengah mateng dientas yo dienggo iwak


Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco


Genjer-genjer dipangan musuhe sego
Tagged

2 thoughts on “KIRI – KANAN : genjer-genjer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *