Uncategorized

KETIKA SAYA MEMUTUSKAN

Malam ini begitu beda. Ketika hari-hari terakhir ini saya
berjibaku dengan berbagai permasalan saya. Membolak balikkan hati saya agar
tetap kuat. 
Ketika saya harus memutuskan dengan cepat untuk pulang ke
Banyuwangi untuk menjalani operasi usus buntu yang sudah kronis. Melakukan
perjalanan Batam – Banyuwangi seorang diri dengan menahan sakit yang sangat
karena usus buntu saya sudah bengkak dan bernanah. Mencari rumah sakit terbaik
untuk segera menyelamatkan nyawa saya dan akhirnya saya harus menandatangani
sendiri persetujuan penyelesaian administrasi dan persetujuan operasi. Ya tanda
tangan saya yang tertera. Pasien sekaligus penanggung jawab atas diri saya
sendiri. 
Saat saya masuk ke dalam ruang operasi, saya hanya menatap
dua perempuan yang mengantarkan saya. Dua perempuan yang sudah saya anggap
sebagai pengganti ibu saya. Di depan ruang operasi saya hanya bilang,
“jangan menangis mbak! Ntar ira ikut nangis. Ira cuma operasi kecil usus
buntu bukan untuk setor nyawa pada Tuhan” Saya melangkah sendiri ke dalam
ruang operasi tanpa bantuan kursi roda karena saya pikir bahwa saya sangat
sehat saat itu. Dan saya kalah dengan meja operasi saat morfin disuntikkan ke
tulang belakang saya. Saat lampu operasi membuat saya silau. Saat dokter
mengajak saya untuk berdoa. Saya hanya meminta,”Dok! Boleh saya genggam
tangan dokter sebentar saja! Karena saya butuh kekuatan” Dokter itu
melepaskan sarung tangannya dan membiarkan saya menggenggamnya dalam sekian
detik. “saya siap dokter”. Saya tidak tau apa yang terjadi! Saya
hanya memejamkan mata sambil mendengarkan alat-alat medis itu membelah perut
saya. 

Semua doa saya panjatkan, saya takut terjadi apa-apa dengan
ilalang kecilku dalam rahimku. Hingga tiba tiba dokter sedikit berteriak dan
ada sedikit kesibukan dalam ruang operasi itu. Banyak alat yang di pasangkan
pada dadaku ujung-ujung jemariku! Selang oksigen pernafasan di hidungku Dan
saat saya berusaha membuka mata, saya melihat ada bayang ibu di samping saya
dan memegang kepala saya sambil berbisik, “adik harus kuat ya” . Aku
berusaha mengangguk dan tiba-tiba semuanya berubah putih dan saya merasa
melayang dituntun oleh seseorang yang tidak pernah saya lihat
mukanya.  
Saat saya sadar, saya sudah berada di tempat tidur dan beberapa
orang disekitar saya menangis. Ahh kenapa tidak aku lihat wajah ibuku. Aku
meraba perutku dan berusaha mengangkat kakiku. Tapi susah! 
“Kamu masih
dipengaruhi bius Raa” 
Aku berpikir! Morfin sialan…aku menjadi korban depopulation
program dalam Novel Codex. 
Dan hari-hari berat mulai dilewati! Dan lebih berat lagi saat
ilalang kecilku tidak bertahan dan akhirnya kalah dengan keadaan. Senin 1
Agustus 2011 13.05 Saya meregang! Perut saya kejang dan kesakitan yang luar
biasa seperti 2 tahun yang lalu. Saya menggigit bibir sendiri agar tidak ada
satu pun orang-orang disekitar tahu. “Ojo sambat! Tanggung jawab sendiri
apa yang telah kamu lakukan” 
Dan akhirnya saya hanya bisa meneteskan air mata sambil
melihat ke luar jendela. 
Ilalang kecilku kalah dalam peperangan keegoisan. 
Dan saya kembali terpuruk dalam kesendirian dan kesepian
saya. Belajar untuk bangkit kembali. Walau ternyata Bukan hal yang mudah. 
Hingga malam ini sebelum saya melanjutkan perjalanan panjang
saya.  Melakukan pertemuan dengan sahabat-sahabat saya disini
Koseba! 
“Raa….kembali saja ke Banyuwangi. Untuk apa kamu ke
Batam? Disini banyak yang bisa kamu kerjakan. Memberikan sumbangsih untuk
Banyuwangi. Banyuwangi masih membutuhkanmu. Disini semua tau bagaimana kamu
berproses. Sedang di Batam? Mereka hanya tahu kamu yang sekarang! Kamu tertekan
sendiri! Tanpa teman! Keluarga! Orang-orang yang kamu sayangi! Psikologis dan
kesehatanmu lebih penting dari pada keegoanmu Raa. Jangan alasan untuk belajar
dan mencari pengalaman.
Karena semuanya jauh dari apa yang kamu miliki” 
“Tapi saya mencintai batam seperti saya mencintai
banyuwangi” 
“Bulshit…..kamu lebih mencintai Banyuwangi. Kamu
mencintai batam karena keegoisan kamu Raa. Tantangan iya kan? Ingat kesehatan
dan psikologis kamu Raa! Aku mengenalmu bukan setahun atau 2 tahun” 
Saya terdiam cukup lama. Dan memikirkan perbincangan itu
semalaman. Ya..di Banyuwangi ini saya di besarkan. Setiap saat saya bisa menuju
ke pantai yang sangat saya cintai. Rumah masa kecil saya walaupun kosong dan
berdebu tapi masih tenang dan nyaman. Makam ibu saya, ayah, nenek dan dedek.
Yang bisa saya kunjungi setiap saat. Teman-teman berdiskusi yang seimbang.
Berbicara tentang sejarah pragtis dan semuanya bisa saya lakukan disini. Hidup
tanpa di kejar-kejar ketidak tenangan. Adik-adik sepupu saya yang bisa setiap
waktu menemani saya untuk jalan menyusuri pantai atau sekedar menikmati
secangkir kopi di pinggir jalan. Disini saya menemukan pelukan-pelukan hangat
setiap kali saya butuhkan. Ketenangan pagi dan saya masih bisa menikmati
rutinitas pagi seperti dulu yang biasa saya lakukan bersama ibuku. 
Hidup tanpa ketegangan aku temukan di Banyuwangi.
Semalam saya berpikir apakah saya memutuskan untuk tetap
tinggal di Banyuwangi atau Batam? Apalagi saat pagi ini saya berpamitan pada
adik sepupu saya Rani yang masih kelas 3 SD. “Mbak ira mau pulang ke
Batam” dia diam dan berkata, “Batam itu jauh ya mbak? Terus kalo jauh
kapan mbak ira kesni lagi” 
Dia menangis matanya berkaca-kaca. “Mbak ira jangan
pergi lagi ta! Emang nggk capek jalan-jalan terus. Nggk pernah pulang”.
Dia merajuk berangkat sekolah tanpa bersalaman dan mengusap air matanya.
Saya tidak bisa membayangkan jika dia pulang ke rumah sudah tidak
menemukan saya di kamar. Tidak ada yang menemani saat buka puasa selepas adzan
dzhuhur atau sore hari saat jalan-jalan sambil menggandeng tanganku yang masih
susah untuk melangkah. Atau nonton tv sambil merajuk di pelukku saat malam hari
Rani….mbak ira pasti pulang ke Banyuwangi.
Kebimbangan saya semakin menjadi-jadi! Diskusi panjang
berjam-jam dengan mereka-mereka yang terpilih. Yang mengenal aku sejak aku
lahir. Perenungaku terdalam berjam-jam di makam ibu yang membuat kulitku
menghitam. Ahhhh….ibuku dulu selalu mengajarkan aku untuk cepat mengambil
keputusan, dan belajar untuk bertanggung jawab dengan keputusan yang saya
ambil. Meninggalkan Batam untuk tinggal di Banyuwangi bukan keputusan yang
tepat saat ini. 
Tanggung jawab! Hal yang sangat bodoh dan bukan seorang Ira
yang meninggalkan masalah tanpa penyelesaian. Saya bukan pecundang. Saya tidak
akan pernah kalah sbelum saya melakukan peperangan.
Ya…dengan cepat saya putuskan untuk kembali ke Batam. Yaaa
lebih tepat memilih kata kembali! Karena kepulanganku hanya untuk Banyuwangi.
Suatu saat aku akan kembali ke Banyuwangi tapi tidak untuk sekarang tapi suatu
saat nanti. Saat Tuhan memberikan skenario yang terindah dalam kehidupanku.
Saya selesaikan catatan kecil yang sama sekali tidak penting
ini di sebuah kereta. Memulai perjalanan panjang sepertia biasa seorang diri.
Hanya ada yang berbeda tidak ada ilalang kecilku menemani. Ahh bagaimana nanti
aku bertemu denganmu nanti? Tanah melayu ku? Mimpiku? 
Dan lelaki pecundangku? 
Ketika saya harus dengan cepat untuk memutuskanmu! Hidup saya
terlalu indah jika saya hanya terpuruk dalam kegamangan dan keegoisan! 
Bukankah Tuhan memberikan kekuatan untuk bertahan di kaki
saya sendiri! 
Hhhmmmm barusan ada sms masuk,”wonder women
wess” 
Ahhhhh…saya juga perempuan biasa yang butuh di manja! 
The End 
Mengakhiri tulisan ini Selasa 9 Agustus
2011 di Kereta Mutiara pagi Eksekutif 1 kursi 6A
Lanjutkan perjalanan dan mimpimu Raa! Saat kamu telah memutuskan kembali ke
Batam dan bertahan
Tagged

1 thought on “KETIKA SAYA MEMUTUSKAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *