Catatan

Ketika perempuan menjadi “terdakwa” pencemaran lingkungan

Suatu hari saya pernah berkunjung ke salah satu pondok pesantren putri. Saya yang punya kebiasaan keliling jika di tempat baru langsung tertegun saat melihat ada tumpukan sampah “aneh” di belakang salah satu bangunan. setelah lompat sana dan lompat sini akhirnya saya tahu bahwa tumpukan sampah tersebut adalah bekas pembalut perempuan sekali pakai.

Melihat tumpukan sampah tersebut menjadi pukulan telak bagi saya yang sering ngomong cinta lingkungan dan alam. Ternyata saya adalah terdakwa utama yang ikut serta menyumbang sampah yang saat itu ada di depan mata saya.

Iseng saya tanya kepada salah seorang santriwati apakah mereka menggunakan pembalut sekali pakai seperti saya? jawabannya iya. Pada saat saya tanya dibuang dimana dia menjawab setelah di cuci dibungkus plastik lalu di buang di tempat sampah. Dan saya yakin itu juga dilakukan bukan hanya oleh perempuan yang tinggal di pesantren tapi seluruh perempuan yang masih dalam usia produktif.

Saya garuk garuk kepala. Sebagai salah satu terdakwa penyumbang sampah saya merasa bersalah. Beralih ke kain buat saya salah satu pilihan yang berat, Dimana saya dapatkan kain yang tepat? lalu dengan aktivitas saya semacam ini? bisa “bocor” dimana mana.

Penelitian dari Ecological and Environmental Observation (ECOTON) menemukan ikan di hilir Kali surabaya yaitu Karangpilang dan Gununsari mandul karena pengaruh hormon dari popok dan pembalut. 85 persen dari ikan berjenis kelamin perempuan dan interseksual (kelamin ganda) sehingga berdampak langsung kepada ikan. Bukan hanya mandul, ikan yang ditemukan mengalami kecacatan atau bibir sumbing akibat gizi buruk.

Hitung hitungan sederhana adalah jika satu perempuan membuang minimal empat pembalut dalam waktu satu hari dikalikan enam hari sama dengan 20 sampah pembalut. Jika dikalikan sama jumlah wanita di Indonesia saat ini kurang lebih 118.048.783 jiwa sama dengan 2.360.975.660 lembar sampah pembalut tiap bulan atau 78.699.188 tiap hari atau 26.233.063 gr tiap hari atau 26 ton setiap hari.

Gila. Satu hari saja ada 26 ton sampah pembalut !!!!!!

Jika ikan ikan mandul maka ikan tidak akan beranak pinak dan itu tandanya ikannya akan habis dan saya tidak bisa makan ikan. Lalu bagaimana kelangsungan makhluk bumi ini? Iya dampak dari pncemaran lingkungan tidak langsung ke manusia, tapi kelangsungan hidup binatang dan tumbuhan yang akan langsung terasa.

Menstruasi bulan ini saya tidak lagi menggunakan pembalut sekali pakai. Saya memilih menggunakan Menspad atau pembalut kain produksi Banyuwangi. Dibuat oleh pasangan suami istri asal Kecamatan Srono. Mereka mengusung merek menspad.org.Sayangnya saat menawarkan produk ini, dari 10 perempuan hanya 3 perempuan yang mau beralih. Alasannya sederhana nggak mau ribet karena harus di cuci. Hei perempuan. Bukankah pembalut sekali pakaimu sebelum di buang juga harus di cuci.

Pertama kali menggunakan menspad dalam otak saya apakah saya nyaman? apakah tidak bocor? apakah ini itu dan pertanyaan lainnya. Dan akhirnya saya benar benar nyaman menggunakan menspad. Tidak iritasi dan sama sekali tidak “tembus”. Untuk nyuci? tidak ada “drama queen”. Gampang sekali cukup gunakan sabun batangan yang tidak banyak mengandung detergent. Lebih mudah jika mencucinya menggunaka soda kue. Harganya? bersahabat dengan kantong antara 13.000 – 25.000.

Iya. setiap orang bisa mengambil peran untuk menyelamatkan rumah ibu bumi ini. Perempuan pun bisa melakukan. Tidak harus demo teriak teriak di pinggir jalan. Tidak harus motret orang orang yang buang sampah di kali lalu menguploadnya di medsos lalu dlanjutkan dengan pembullyan yang katanya tidak punya etika. Nggak pernah sekolah kok buang sampah sembarangan.

Ambil kaca lalu bicara. Apakabar pembalut sekali pakaimu yang kamu buang setiap bulan? Cintai ibu bumimu dengan menggunakan pembalut yang ramah lingkungan.

Stok penggerutu sudah cukup banyak, tapi stok yang peduli dan mengambil peran sekecil apapun itu yang masih harus ditambah.

Baiklah. Ini selasa. Jangan lupa ngopi sebelum berangkat kerja.

terimakasih mbak Nila Arifa sudah berbagi cerita dan menginspirasi saya untuk merubah diri.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *