Uncategorized

KETIKA IKA BERSEPEDA (edisi tour de ijen 2013)

 

copy dari google
Saya
punya teman baru. Namanya Ika. ehh ini bukan Ika sahabat saya. Ika yang
saya ceritakan adalah Ika teman yang baru saja saya kenal beberapa
minggu yang lalu di kelas Inspirasi. Dia dari Sidoarjo dan bekerja di
salah satu perusahaan di Banyuwangi. Dia unik buat saya karena dia
bersepeda pake sepeda mini dengan keranjang di depannya.

Saya terbengong-bengong ketika dia mengatakan mengendarai sepeda
mini dari kost ke tempat acara. Ini sudah tahun 2013. Beli gorengan
yang jaraknya 10 meter saja orang banyak yang naik motor. Saat pulang
saya menemani dia mengendaai sepeda mini dan saya disebelahnya dengan
sepeda motor matic saya.

“Kok naik sepeda pancal. Nggak capek”. Pertanyaan konyol saya yang pertama. Karena kalo naik sepeda sudah jelas-jelas capek.

“Sekalian olah raga,” jelasnya. Saya terbengong-bengong lagi. Karena
buat saya olah raga itu harus pake baju olahraga, sepatu olahraga, dan
di tempat olahraga.

“Terus kalo keburu-buru gimana. Kan bisa telat”.

“Berarti harus menyediakan waktu yang pas. Untungnya nggak pernah telat
soalnya sudah diperkirakan sama waktu perjalanan. Udah kebiasaan sejak
kuliah”

Saya menganguk-angguk lagi. Saya mendapatkan pelajaran selanjutnya yaitu disipilin.


“Naik sepeda aja mbak. Enak kan santai sekalian olah raga”

“Kalau aku naik sepeda gimana ceritanya. Kerjaan ku kan mobile semacam sales ataupun tukang ojek”

“Bisa dipake sore atau pagi-pagi. Biar nggak Ndut”. Hais…. saya
tertawa ngakak ketika memang kenyataan baju saya sudah mulai banyak yang
tidak muat.

Baiklah kali ini tentang sepeda dan olah raga.

Saya menulis catatan ini di sela-sela liputan Bnayuwangi Tour De Ijen
yang katanya adalah ajang Balap Sepeda Internasional yang diikuti oleh 1
Tim luar dan dalam negeri.

“Bupati sedang mengolahragakan masyarakatnya,” cetus saya.

Tidak percaya? Liat saja pagi-pagi bapak dan ibu guru sudah menggiring
murid-muridnya di pinggir jalan sambil mengacungkan bendera. Mereka
berolah raga kan? para pegawai negeri sipil yang di suruh kumpul semua
dengan dalih mensukseskan acara bersama. Bergerak kan? mereka berarti
olah raga. Tukang sapu, tukang taman semuaaaanyyya berolahraga. Bahkan
kawan-kawan jurnalis pun berolahraga berpindah dari satu nara sumber ke
nara sumber yang lain. Motret sana dan motret sini. Saya duduk manis
saja di tempat official.

Yesss…. semua berolahraga. Semua sehat kan? Menteri saja datang.

Sepagi ini saya menulis status di BB saya “Banyuwangi sedang
mengolahragakan masyarakatnya. Sungguh serius sekali Bupati saya.
*kerjabakti dan kerjarodi beda tipis”

Lalu narasumber saya. Ehhmmmm boleh lah kalau dia saya sebut sahabat. Dia berkomentar.

“Tour De Ijen itu bukan usaha mengolahragakan masyarakat Banyuwangi.
Tapi mengolahragakan masyarakat luar daerah dan luar negeri selaku
peserta Tour De Ijen

Coba adakan kompetisi balap full
Banyuwangi dengan putaran finalnya tour de ijen yang pesertanya 50
persen pembalap Banyuwangi, 30 persen luar daerah dan 20 persen luar
negeri. Itu baru bisa dikatakan mengolahragakan masyarakat Banyuwangi”

Dari depan pemkab Banyuwangi saya tertawa terbahak-bahak sendirian.
Saya sepakat Pak Haji. Mengolahragakan masyarakat Banyuwangi tidak harus
mengundang merek “luar negri”.

Baiklah……. saya tidak akan
berkomentar banyak. Saya tiba-tiba saja memikirkan bagaimana jika Ika,
kawan baru saya ikut Tour De Ijen. Dengan kekaleman dian. Dengan pilihan
dia untuk setia menggunakan sepeda mini kemana-mana. Karena saya yakin
dia kuat kok buat beli sepeda motor.

Ketika tiba-tiba saja
saya ingin juga beli sepeda mini yang bisa saya naiki saat saya pergi ke
Pantai Cacalan mengirim surat pada Neptunus atau sekedar jalan-jalan ke
Pasar Blambangan keliling Gesibu saat saya tidak dikejar waktu dan
deadline.

Sepertinya keren…..

Baiklah kalau ada dana lebih. Karena saya pingin beli kamera baru lagi atau paling tidak beli lensanya saja.

“Untuk merubah dunia bukankah harus di mulai dari merubah diri kita sendiri,” katamu suatu waktu

Okelah…. mari kita mengolahragakan diri sendiri dulu. Kapan Raa. Jangan sekarang karena aku masih ada acara ini ….itu…..

Duh Raa…. kamu adalah penunda sejati, *hening.

Sebentar… hei. Pembalapnya ganteng-ganteng. Keren-keran. Tapi buat
saya mereka tidak seberapa. Lebih keren dan ganteng kamu. Karena kamu
telah memenangkan di lintasan menuju hati aku.

Glodag! pasti kamu akan bilang, “yaa malah nggombal”

Serius. Aku kangen kamu.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *