Uncategorized

KETIKA IBU RUMAH TANGGA MENJADI ODHA

: Lindungi Perempuan danAnak dari
HIV AIDS. Jauhi Virusnya bukan orangnya ……..

Tahun 2012
ini mbak, Ibu rumah tangga berada di posisi kedua penderita HIV AIDS. Angkanya adalah
270 orang. Satu level di bawah wiraswasta yang berjumlah 289 orang.
Lebih banyak ibu rumah tangga yang terkena HIV AIDS dari pada pekerja seks komersil.
Dan ini terjadi di Banyuwangi”
Saya menutup mulut. Tunggul Harwanto pengelola
program PMTS, Pencegahan HIV AIDS
Melalui Transmisi Seksual Kabupaten Banyuwangi terus menjelaskan data yang berada di
hadapannya.
“Ini nyatakan
Mas”

Dia mengangguk perlahan, 
“Awalnya ibu rumah tangga adalah resiko rendah mbak. Tapi sekarang sudah masuk dalam resiko tinggi. Mereka tertular dari lingkungan keluarganya sendiri,
salah satunya adalah seks tidak sehat yang dilakukan suaminya di
luar dari lingkungan keluarga”

Saya diam sambil meneruskan catatan saya
yang harus segera saya selesaikan. Iklan layanan masyarakat tentang bahaya HIV AIDS
untuk radio tempat saya bekerja. Ini bukan  main-main. Masyarakat harus tahu kenyataan
yang ada. Ibu rumah tangga nome rdua….. ODHA…….? Saya menghela nafas. Perempuan…….

Saya membuka-buka data skema
yang diberikan Mas Tunggul. Tahun 1999. Kasus HIV AIDS pertama kali di temukan
di Kabupaten Banyuwangi dengan 1 kasus. Tahun 2000 menjadi 4
kasus. Secara berurutan lalu 9, 10, 12, 22 ……
mata saya terus menelusuri angka-angka itu. Dan akhirnya September 2012 kasus HIV menembus angka
239 kasus, sedangkan kasus HIV AIDS 100 orang dan puncaknya adalah tahun 2009
sebanyak 108 kasus dan kematian pada September sebanyak 36 orang.  Sampai tahun 2012 jumlah penderita HIV
AIDS menembus angka 1292 orang !!!!! Dan Banyuwangi mendapatkan “penghargaan”
peringkat ketiga terbanyak penderita HIV AIDS setelah Surabaya dan Malang. Ironis, padahal Kabupaten Banyuwangi telah mensahkan Perda HIV AIDS sejak beberapa tahun yang
lalu. 
Bagaimana bentuk perdanya? Entahlah saya tidak peduli lagi dengan perda. Karena akhirnya saya berpikir perda tidak menjadi jalan utama untuk menyelesaikan kasus
HIV AIDS khusunya  di Banyuwangi.

“Pelaporan kasus
HIV AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif mbak …. yang artinya adalah kasus
lama di tambah dengan kasus baru. 
Sehingga angka laporan tidak akan mungkin turun atau berkurang. Walaupun Perda HIV AIDS
sudah disahkan, kasus yang terdeteksi tidak menggambarkan kasus HIV AIDS yang
sebenarnya di masyarakat. Epidemi HIV AIDS
erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi hanyalah bagian gunung es
yang mencuat ke atas permukaan air laut,  sedangkan kasus yang
tidak terdeteksi merupakan bagian bongkahan es di bawah permukaan air laut yang
melebar”
Saya mendengarkan kembali hasil rekaman wawancara saya.
“Penyebaran HIV
AIDS di Kabupaten Banyuwangi sudah cukup mengkhawatirkan mbak. Dari 24
kecamatan semuanya memiliki daftar penderita HIV AIDS mbak. Terbanyak berada di
kecamatan Banyuwangi dan Kecamatan Singonjuruh dan didominasi oleh kaum perempuan.
Kalau angkanya adalah 639 orang atau 49,45 persen. Kalau pria berjumlah 557 jiwa atau
44,66persen. Nah yang terakhir waria hanya 22 orang atau 1,70 persen.
Sedangkan transmisi penularan HIV terbesar melalui seksual 77 persen, melalui darah
13 persen, dan dari ibu ke anak melalui ASI adalah 2 persen”

Saya meneguk kopi
sambil memberikan jeda pada otaksaya. Perempuan lagi. Saya mengerutkan dahi. Ibu rumah tangga, saat penularan pada anak sudah menjadi sebuah pertimbangan penyebaran HIV AIDS ….. 
Seharusnya perempuan mempunyai hak untuk mendapatkan akses informasi terkait kesehatan reproduksi dan juga informasi terkait
HIV AIDS. Mereka sebagian besar tertular dari suaminya yang “jajan” diluar, 
dan menularkan kepada keluarganya. Tahun 2009, jumlah pembeli seks diperkirakan 3,2
juta di seluruh Indonesia,
dan secara tidak langsung laki-laki pembeli seks menempati peringkat teratas sebagai kelompok 
yang menularkan HIV AIDS kepada ibu rumah tangga. Laki-laki hidung belang yang
tertular,  akan menjadi mata rantai utama penyebaran HIV di masyarakat, terutama hubungan seksual tanpa kondom
di dalam atau di luar pernikahan.

“Ini hanya sekedar angkaRaa….”, saya menggerutu sendiri.

Kembali lagi mendengarkan wawancara kedua dengan Hariaji Direktur Kelompok Kerja Bina Sehat.

“ Perda HIV AIDS
masih belum maksimal untuk menekan angka penderita HIV AIDS, bukan hanya di
kalangan Ibu rumah tangga tapi secara umum mbak. Perda HIV AIDS
berusaha melindungi masyarakat umum dari penyebaran HIV AIDS, 
dengan melakukan beberapa pengaturan seperti penataan kasus di RS,
pengaturan lokalisasi dan pengaturan penggunaan kondom. Memang mbak harus diakui perlu ada revisi kegiatan-kegiatan yang
langsung bisa diakses masyarakat umum terutama ibu rumah tangga”

Saya tertawa dalam hati mendengarkannya. Di
akses masyarakat umum? Ibu rumah tangga? La wong saya saja yang
berprofesi seperti ini susahnya minta ampun untuk mencari perda HIV AIDS di Kabupaten Banyuwangi.

“Tapi kami
sudah melakukan sosialisasi menjelang hari AIDS 1
desember ke seleuruh kecamatan dan menggandeng stake holder terutama yang
berkaitan dengan organisasi perempuan seperti PKK, Fatayat,
Aisyah untuk mensosialisasikantentang HIV AIDS”

Saya sepakat. Tapi lebih sepakat jika tidak harus menunggu
moment 1 Desember. Bukankah bisa dilakukan sebagai salah satu program yang
dilakukansecara continue?

Akhirnya saya mengatakan PR
besar bagi Kabupaten Banyuwangi adalah memberikan pencerahan baik lewat kegiatan di
desa-desa, di pengajian RT RW, maupun kegiatan lain yang
menyentuh masyarakat banyak. Sosialisasi tidak hanya berkutat di sekolah-sekolah atau
di lokalisasi-lokalisasi. Masyarakat umum berhak di
beri pemahaman terkait dampak penyebaran penyakit mematikan tersebut.  Selain itu masyarakat juga diberi penjelasan bahwa tidak semua penderita
HIV AIDS adalah orang yang secara sosial berkelakuan buruk. Salah kaprah HIV AIDS yang melegenda. HIV AIDS bukan sebuah kutukan. Sebab tidak semua penderita HIV AIDS
adalah mereka yang menggunakan obat-obatan terlarang atau mereka yang
melakukan seks bebas. Karena bisa saja mereka tertular karena kesalahan penggunaan jarum suntik,
hubungan perkawinan tanpa mengetahui latar belakang pasangan.

Saya menyelesaikan catatan ini dengan sebuah pertanyaan besar yang membuat saya menundukkan kepala dalam-dalam. “Apa
yang telah kamu lakukan untuk mereka Raa? Kenapa kamu hanya diam?”

Saya hanya bisa menulis
…….memainkan mouse dan membuka adobe audition. Merekamnya. Edit. Finish. Memasukkan nya dalam sebuah file iklan layanan masyarakat. Dan mengirimkan pesan kepada para penyiar. 

“All crew. Mulai besok tolong putar Iklan Layanan Masyarakat HIV AIDS setiap jam sesuai dengan dengan menit yang ada di jadwal”

Lindungi Perempuan dan Anak dari
HIV AIDS. 

Jauhi Virusnya bukan orangnya ……..

Tagged

4 thoughts on “KETIKA IBU RUMAH TANGGA MENJADI ODHA

  1. Subhanallah,…inilah resiko para wanita/seorang istri diera modern ini ya. Semoga para suami lebih menjaga dirinya,untuk hny melakukan seks dengan istri di rmh tidak melakukan seks bebas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *