Uncategorized

KERETA SRITANJUNG GERBONG 5 KURSI 3 A

 
 
Ada
banyak alasan di saat-saat tertentu saya lebih memilih menggunakan
kendaraan pribadi atau pun menggunakan kendaraan umum yang berkelas
eksekutif.

Bukan karena saya kebanyakan uang, tapi di Indonesia kenyamanan menggunakan transportasi memang harus di bayar mahal.

“Nggak ada yang eksekutif ya mbak arah Banyuwangi?”
“Nggak ada mbak. Ada nya oper Surabaya”

Jika oper Surabaya maka saya masih membutuhkan waktu lama untuk menunggu kereta selanjutnya.

“Baiklah mbak”. Saya menghela nafas dan cukup mengeluarkan uang 50 ribu
untuk perjalanan kurang lebih 10 jam. Surabaya Jakarta jika menggunakan
kereta pun tidak selama itu.

Akhirnya saya duduk manis di
gerbong 5 bangku 3 A. Ramai semacam pasar. Penumpang makan dan
membuangnya begitu saja di lantai. “Nanti juga di sapu sama petugasnya,”

Saya mengehala nafas saat remah remah nasi yang mereka makan juga di
biarkan berceceran di lantai dan dionggokkan begitu saja di pojokkan.
Bau bercampur dengan keringat dan asap rokok bapak-bapak yang merokok di
bordes masuk ke dalam gerbong mengalahkan dua AC yang berukuran
setengahj PK. Membuat mual seketika. Baju yang sama saya kenakan sejak
beberapa hari ini ternyata masih berukuran wangi.

Saya diam saja dan pasrah menikmatinya. Karena tidak mungkin ada pilihan lain seperti meloncat dari gerbong. Konyol.

Memejamkan saja. Menikmatinya. Membiarkan semuanya masuk dalam pori
pori tubuh. Tidak melawannya. Mengikuti saja gerak di sekitar.


Saya tidak tau apa teorinya. Tiba tiba saja saja semuanya hening.
Semuanya tenang. Mungkin ini yang namanya berdamai dengan kenyataan?

Sesuatu yang sering juga saya rasakan ketika saya marah, protes, membenci dan berpikir bahwa hidup tidak adil untuk saya.

Dinikmati saja. Bukankah banyak kota yang tidak di singgahi kereta
eksekutif? Kalau pun ada, belum tentu kita punya uang cukup untuk
membelinya.

Dari titik saya duduk. Seorang balita tidur di
pelukan ibunya. Dan ibunya memejamkan mata tertidur di bahu lelakinya.
Saya tersenyum. Nikmati saja perjalanan mu Raa. Seorang diri.

“Kamu senang Raa?”
“Iyalah”

Saya seakan-akan menjadi kelinci yang meloncat-loncat saat berdiri di
sebelahmu saat itu ketika saya datang untuk menemuimu. Iya. Sungguh.
Saya menyimpan kenang itu di otak saya.

451 kilometer arah saya pulang ke kota saya. Banyuwangi.

 
Banyuwangi, 20 Mei 2014
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *