Catatan, Traveling

“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” – ANAMBAS

“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
Dari pancasila sila kelima, yang selalu di ingat oleh para Jomblo Yang Hapal Pancasila terasa sekali aplikasinya pada kami yang berangkat ke Anambas. Selain “ketidak adilan” pada akses transportasi yang memang tidak mudah dan tidak murah, ketidakadilan yang sangat sederhana adalah akses jaringan komunikasi.
Jangankan untuk update status facebook atau upload foto di instagram, untuk telpon ke Jawa pun saya harus teriak teriak semacam bertengkar dengan seorang kawan. “Aku lost sinyal. Doakan biar cepet bisa nulis status di facebook”. Pesan saya kirim ke orang sahabat.
Saat bertemu dengan Bu Mina salah satu SM3T di Pulau Etan yang hanya di tinggali 34 kepala keluarga, ia bercerita untuk menelpon keluarganya ia harus menggantung hpnya.
“Ini apa”, kataku sambil menunjuk semacam tempat kartu nama yang diletakkan di meja depan teras kelas
“Ini tempat kami letakkan handphone untuk dapatkan sinyal. Jika letak sini kak nanti sms masuk semua,” jelasnya. “Nah ini kak sms udah masuk semua,” ujarnya sambil tertawa.
Yang mengesalkan dari 5 sms yang masuk, 4 sms yang masuk dari provider. Jika saya mungkin sudah maki maki panjang lebar.
“Sudah putus sama pacar?,” tanya saya dengan perasaan tanpa bersalah. Konyol sekali.
“Apelah kakak ini,” perempuan lajang asal Bandung itu hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan saya.
Pikiran saya sih sederhana, usia muda tentu akses berteman sangat banyak. Dan mengajar di wilayah tanpa akses jaringan internet khususnya akan mengurangi tingkat kenarsisan di media sosial yang saat ini sudah menjadi gaya hidup di kalangan anak muda.
“Namanya pengabdian kakak. Yang penting keluarga tau kalau saya baik baik saja di sini”
Dan saya yakin ini akan meningkatkan jumlah jomblo di Indonesia. Tapi tidak masalah karena jumlah anak anak muda yang peduli akan bangsanya akan lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang sibuk pacaran atau sibuk dengan hal hal yang nggak penting.
“Kak boleh bagi pin bb dan facebook. Tapi addnya setahun lagi ya”
“Setahun itu waktu yang sebentar buat mereka yang mencintai. Mencintai anak anak anak”
Maka kembali ke sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Iya. Keadilan itu masih belum merata dan ini masih berbicara tentang sinyal dan jaringan. “Menulis saja di buku atau notebook. Paling tidak kita mendokumentasikan untuk sejarah hidup kita. Menulis apa saja”
Ini baru sinyal. Apalagi berbicara yang lain. Tentang transportasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain lainnya.
“Tapi hidup di sini tenang walau tanpa sinyal. Mungkin tepatnya beradaptasi”
Deegghhhh. Saya terpukul sekali. Mungkin saja saya yang terlalu lebay saja. Toh mereka tetap hidup tanpa sinyal. Iya memang tapi kembali ke sila kelima tentang keadilan. Masyarakat di perbatasan seperti Anambas punya hak yang sama dengan yang ada di Jawa atau tempat lain termasuk akses komunikasi.
“Selamat pagi dek. Apa kabar”
Sebuah sms masuk pagi sekali ketika saya menginap di Pulau Nyamuk Siantan Timur. Dan saya berteriak kesenangan. Walaupun saya tahu itu sms salah kirim.
“Di sini ada sinyal mulai jam 7 sampai sore kak. Setelah itu tak ade lagi sinyal di Pulau Nyamuk”
Saat tahu ada sinyal kawan kawan saya mulai berteriak. Ada yang telpon keluarga dan telpon suaminya. Atau koordinasi dengan Jakarta karena kami “menghilang” hampir 24 jam dari peredaran.
Kalau saya hanya kirim WA ke kawan dan.mengabarkan bahwa saya baik baik saja. 
“Kamu jaga kesehatan ya Raa”
Maka kembali ke sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Wilayah perbatasan seperti Anambas tetap bagian dari Indonesia dan berhak untuk mendapatkan akses mudah untuk komunikasi.
Akhirnya catatan ini terpublish setelah lebih dari 24 jam ditulis. Kami telah merapat kembali ke Tarempa. Kemarin kami telah mengarungi 4 pulau dan mengunjungi 8 sekolah nonstop menggunakan speed.
Bertemu sinyal di sini semacam bertemu dengan mantan. Sedikit harap harap cemas. Toh ada sinyal tak ada sinyal hp saya tetap saja hening dari pesan “heii cepat pulang”
Saya berdoa semoga Bu Mina dan kawan kawan SM3T yang ada di pulau pulau tidak galau karena sinyal internet hilang semacam saya.
Masih ada beberapa pulau lagi dan stok baju saya sudah benar benar menipis. 
“Sila kelima apa?”
“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
Iya. Anambas masih bagian dari Indonesia.
4 Desember 2015
Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *