Uncategorized

KATANYA. “MENCINTAI LELAKI YANG SALAH”

“Laki-laki itu hanya butuh tubuhku. Lalu di berkata tentang dosa”

Perempuan itu menggelung rambutnya dan merapikan baju warna hijaunya.
Tangannya merogoh isi tasnya dan mengambil rokok dan menyulutnya segera.
Saya duduk di sampingnya dan menyentuh tangannya.

“Jangan
sentuh saya Raa. Saya hanya perempuan pendosa yang tidur dengan suami
orang. Menggodanya dengan menarik dia di atas tempat tidur saya”

Saya melongo terdiam.
“Bahkan berkali-kali pun di masukkan neraka dosa saya tidak akan tertebus”

Saya menarik-narik sendiri ujung jilbab ungu milik saya.


“Saya lelah Raa”
Saya menjawabnya dengan cepat, “Sama… Saya juga lelah. Perjalanan hidup saya panjang”

“Tapi masih punya mimpi. Nah aku? Kehilangan suami, anak, keluarga, rumah dan semuanya. Kini menjadi pelacur”

“Pelacur juga masih bisa masuk surga”


“Kata siapa? Mana dalilnya? Surga dan neraka itu beda tipis”

Saya diam dan memaki-maki diri saya. Kesalahan fatal dari pernyataan saya

“Raa saya mau mati saja”, ucapnya perlahan diantara kepulan asap rokoknya.

“Jangan … Kamu masih punya banyak mimpi. Masih banyak yang bisa dilakukan. Apa ada jaminan mati masuk surga”

Dia menginjak putung rokok dan menyalakan batang yang ketiga sambi
tertawa ngakak dia menjawab, “apa ada jaminan di dunia ini aku bahagia
hah? Mimpi? Mimpi apa? Aku bukan kamu Raa yang punya segudang mimpi dan
rencana. Aku cuma bisa jadi pelacur. Selesai”

“Jangan mati”, kataku lirih sambil melihat ujung sandalku.

“Aku berusaha ikhlas Raa. Mengikhlaskan semuanya. Bisa peluk aku Raa”

Saya mengangguk dan memastikan perempuan itu menangis terisak. Saya
membentangkang tangan dan membiarkan dia menelungkup di dada saya.

“Aku mencintai lelaki yang salah Raa”

Tubuh dia bergoncang hebat saat menyebutkan satu nama. Saya diam saja dan membiarkan dia terus menangis.

Saya menghela nafas.
“Terlalu sederhana hal yang membuat perempuan hebat ini terpuruk”

Dan saya membiarkan saja dia menangis berjam-jam mungkin sampai pagi
nanti. Dua bahu saya sudah lelah luar biasa. Perlahan saya lepas
pelukannya dan membiarkan dia menelungkup di atas tempat tidur.

Saya keluar kamar dan duduk di kursi hijau mengambil satu buku ttg Soe
Hoe Gie. Perempuan itu tidak perlu sebuah nasehat panjang lebar.
Tiba-tiba saja saya butuh segelas Tequila.

Saya mengusap air mata untuk cerita perempuan di dalam kamar depan yang saya panggil “Perempuan Kedua”

Ternyata saya juga bisa lelah.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *