Uncategorized

: KATAKU DONGENG SANG PUTRI DUYUNG

Kali ini saya ingin berdongeng tentang Putri Duyung.

Iya putri duyung yang menukar suara dan ekornya kepada penyihir laut
agar ia mendapatkan cinta dari seorang pangeran yang pernah ia tolong
saat kapalnya karam. Namun cintanya tidak terbalas karena sang pangeran
lebih memilih seorang putri yang bersuara merdu untuk menjadi istrinya.

Sedangkan tanpa cinta pangeran, sang Putri duyung akan binasa.
Maka sang penyihir laut mengatakan, agar tidak mati dan kembali ke
wujud awal satu-satunya cara adalah membunuh sanga pangeran. Namun cinta
sang Putri Duyung sedemikian besar sehingga memilih untuk menyeburkan
diri ke dalam laut. Tenggelam dan mati menjadi busa-busa ombak. Putri
Duyung jiwanya kosong saat patah hati, namun rela berkorban untuk sang
Pangeran. Ia akhirnya berubah menjadi roh di udara dan menghibur
perempuan-perempuan yang kesepian.

Sebelum putri duyung
berawal, bangsa Yunani terlebih dulu mengenal siren, anak-anak perempuan
Dewa Sungai Achelous yang kemudian berubah menjadi perempuan dengan
sayap burung bersuara merdu. Siren, dengan nyanyian cinta dan kata-kata
manis, membujuk para pelaut mengubah haluan dan datang ke pulau mereka
untuk kemudian dimangsa.

Dalam epos Odyssey (sekitar 800
SM), penulis dan filsuf Yunani Homer menuliskan pengalaman Odysseus yang
meminta awak kapalnya menutup telinga mereka dengan lilin untuk
menghindari nyanyian siren. Dia sendiri memutuskan melawan siren dengan
meminta awak kapal mengikat tubuhnya kuat-kuat di salah satu tiang
kapal. Para siren yang mendekati kapal Odysseus akhirnya berguguran dan
musnah dengan kepala membentur badan kapal.

Selain siren,
bangsa Yunani mengenal naiades atau lelembut berwujud perempuan (nymph)
yang hidup di air – Laut Mediterania, samudra, sungai, danau hingga
sumur. Naiades dianggap memiliki kekuatan menyembuhkan dan kesuburan
sehingga menjadi objek penyembahan. Serupa siren, Naiades juga dianggap
sebagai penggoda para dewa dan manusia.

Begitu buruknya kah namanya perempuan? harus menjauh hanya untuk sebuah alasan nama baik.
Oke… nama baik saya bisa mengerti. Tentu dengan konteks permasalahan yang berbeda-beda.

Kembali ke Putri Duyung.Putri duyung adalah makhluk abadi yang kerap
menarik pelaut ke dasar laut untuk diambil jiwanya dan binasa. Untuk
menjaga kesetiaan terhadap agama, mereka mengajarkan kemolekan putri
duyung sebagai daya tarik duniawi yang menghalangi manusia mendapatkan
keselamatan.

Duh perempuan….


Sepagi tadi saya
mengikuti wawancara istri Fathanah salah satu koruptor kasus suap daging
import yang menyeret salah satu partai besar berbasis agama. Ia di
mintai pernyataan tentang beberapa perempuan yang tertarik dalam kasus
korupsi suaminya.

Perempuan itu berkata, “Jika perempuan baik-baik dan terhormat maka dia akan melakukan itu. Menerima uang dari suami saya”

Saya sedikit banyak menyetujui. Tapi bukankah sebuah hubungan antara
laki-laki dan perempuan adalah sebuah kesepakatan. Saya pikir tidak adil
jika hanya menyalahkan sisi perempuan saja.

Nah ini sama saja dengan kasus Sang Putri Duyung.

Penglihatan akan putri duyung, terutama oleh para pelaut, di kemudian
hari disimpulkan para peneliti sebagai sosok dugong dan manatee yang
memiliki kelenjar susu di bawah sirip dada dan ekor menyerupai ikan.
Dugong dan manatee pun dikelompokkan dalam Ordo Sirenian, yang namanya
diambil sesuai anggapan umum.

Ilmuwan Richard Dawkins dalam The
Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution (2009) menulis,
“Mungkin para pelaut yang sekian lama menahan hasrat biologisnya, dari
kejauhan di tengah laut memandang dugong dan manatee serta keliru
menganggap mereka sebagai perempuan” Dan itu diyakini sama dengan yang
dilihat oleh Columbus di perairan Karibia.

Sirenian adalah
mamalia laut yang memiliki beberapa persamaan sekaligus perbedaan dengan
lumba-lumba dan paus. Seperti lumba-lumba dan paus, Sirenian hanya
mampu hidup di dalam air dan dapat bertahan dalam air hingga 15 menit.
Untuk menghirup oksigen, ia akan muncul ke permukaan air serta bernafas
melalui hidungnya. Namun berbeda dari lainnya, Sirenian adalah
satu-satunya mamalia laut yang herbivora; pemakan rumput laut dan alga.
Melalui tahapan evolusi, Sirenian pun mengalami perubahan fungsi fisik
sehingga berkarakteristik mamalia laut seperti sekarang.

Lalu
siapa yang disalahkan? apakah Dugong dan Manatee, mamalia laut yang
menyusui? atau otak para pelaut yang mayoritas laki-laki dan colombus
yang menganggap bahwa binatang serupa perempuan karena kebutuhan seksual
yang tidak bisa di tahan?

Saya tidak akan menghakimi laki-laki atau perempuan untuk dongeng sang Putri Duyung.

Ketika saya belajar berdamai dengan kenyataan atas sebuah keputusan
sepihak yang tidak pernah diperbincangakan empat mata. Hanya alasan nama
baik dari satu pihak. Lalu bagaimana dengan saya? lalu bagaimana dengan
dongeng putri Duyung yang memilih bunuh diri dari pada harus membunuh
sang Pangeran yang telah menolaknya agar sang Putri kembali normal?

Ah… Jiwa Sang Putri Duyung masih hidup dan dia menghibur dan menangisi perempuan-perempuan yang tersakiti.

akhirnya biar saja Neptunus dan Putri Duyung tetap menjadi sebuah kisah
yang abadi dalam hidup saya. Menyimpan nya seperti Kisah Hang Tuah dan
Putri Gunung Ledang, atau Sri Tanjung dan Sidopekso.

Kamu lupa …. perempuan juga mempunyai kekuatan yang luar biasa ketika telah memilih jalan hidupnya,

Putri Duyung, Sri Tanjung, dan Putri Gunung Ledang semuanya berakhir pada keabadian yang mengatas namakan pengabdian.

Dan saya banyak belajar disana

tiba-tiba saya ingat Film Titanic

“”Promise me you’ll survive. That you won’t give up, no matter what
happens, no matter how hopeless. Promise me now, Rose, and never let go
of that promise.”

apa kabar Jack ya? apakah dia bertemu dengan Neptunus dan Putri Duyung?

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *