Buku, Traveling

Kartono, membangun mimpi di lokalisasi

Saat mengetahui alamat yang saya tuju adalah jalan Putat Jaya Surabaya, tidak pernah terbersit itu adalah eks lokalisasi di wilayah yang terkenal dengan nama Dolly Jarak. Tidak pernah saya sangka yang saya temui adalah seorang Kartono, mantan mucikari yang mendirikan sebuah taman baca di gang kecil diantara wisma-wisma yang saat itu masih aktif menjadi lokalisasi.

“Anggap saja ini adalah bagian penebusan dosa saya. Dulu saya mafia di dunia ini,” kata Pak Kartono kepada saya. Waktu saya datang, dia masih sibuk membantu istrinya membagi makanan tambahan kepada balita di gang Putat Jaya. Sedangkan di depan rumahnya sedang berlangsung lomba mewarnai dengan peserta anak-anak TK. Ada banyak relawan yang membantu.

Pak Kartono mendirikan taman baca sejak tahun 2007 dengan modal 100 komik dan beberapa buku bekas. Ia dan rekannya menyewa satu kamar 150 ribu per bulan di salah satu wisma. Taman baca didirikan oleh Kartono untuk anak-anak yang berada di lokalisasi sebagai tempat singgah. “Bisa bayangkan anak-anak tidak nyaman di rumahnya karena bertemu dengan orang-orang asing. Orang tuanya juga banyak yang tidak peduli. Akhirnya mereka beristirahat, singgah dan belajar disini,” katanya.

Laki-laki kelahiran Banyuwangi itu kemudian menikahi istrinya asal Pasuruan yang juga korban traficking. Mereka sampai hari ini masih istiqomah merawat mimpi anak-anak di lokalisasi yang sudah berlabel eks. Walaupun sudah dinyatakan ditutup, warisan masalah sosial di eks lokalisasi tidak sepenuhnya selesai.

Pasangan suami istri ini menyewa satu kamar di bagian belakang seharga 400 ribu per bulan. Sedangkan 3 ruangan bagian depan rumah juga mereka sewa untuk rumah baca dengan harga sekian juta pertahun. “Rumah ini dulu adalah wisma dan bukan milik saya. Disini sewanya per ruangan bukan per rumah,” katanya

Menelusuri jalan jalan di eka lokalisasi jarak dolly membuat saya banyak merenung. Berapa ratus ribu mimpi yang pernah dibangun disini. Mimpi dari mbak mbak penghuni wisma, mimpi para lelaki lelaki yang sekedat singgah kesini dan mimpi anak anak yang terlahir dan tinggal disini.

Bicara tentang pak kartono buat saya bukan hanya sekedar bicara tentang buku dan rumah baca. Tapi tentang kehidupa.

Dan saya merasa sangat bersyukur bisa ketemu beliau. Menulis tentang beliau. Pak Kartono yang berani memilih melakukan perubahan untuk dirinya sendiri dan untuk anak anak indonesia.

Apa kabar kaum sumbu pendek? Masih suka nyinyir?

Tulisan ini untuk pak Kartono. untuk anak anak Indonesia. Untuk ibu dan bapak yang melahirkan aku.

Gusti Allah selalu bersama njenengan

Banyuwangi 19 Mei 2017

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *