Uncategorized

KARTINI : Bukan sekedar Emansipasi tapi sebuah Inspirasi

Saya pengagum Kartini.
Tentang pemikirannya. Tentang sejarahnya. Dengan berjalannya waktu saya
selalu berpikir. Kenapa harus Kartini? bukankah masih banyak tokoh-tokoh
perempuan yang mempunyai pemikiran dan mencatat sejarah yang luar
biasa. Rohana Kudus? Cut Nyak Dien? Malahayati? Engku Puteri Raja
Hamidah? Embung Fatimah?. Saya baru sadar bahwa nama-nama yang saya
sebutkan barus saja adalah perempuan “hebat” yang berjalan di jalur
islam. Upssss……lalu bagaimana tentang kartini? saya membuka buku
Kartini semalaman, dan saya menemukan sebuah fakta tentang “Andai
Kartini Khatam Mengaji”. Banyak tulisan-tulisan Kartini pasca ia
mengenal Islam yang disembunyikan. Sebuah konspirasi asing !!!!!!!
Tiba-tiba saja terjebak dalam sebuah sejarah yang selama ini di jejalkan
dalam otak saya tentang Kartini.

Perbincangan saya dengan seorang sahabat yang lebih mengenal Islam


” Teteh….apakah Islam mengenal emansipasi?”, dia tersenyum


Islam tidak mengenal emansipasi Mbak Ira. Karena Islam telah mengatur
detail hak dan kewajiban dari laki-laki dan perempuan. Emansipasi adalah
sebuah pemikiran dari sebuah golongan yang dipaksakan secara general
pada semua golongan terutama perempuan Islam. Hanya Islam yang
memuliakan perempuan. Bayangkan jika berbicara kesetaraan. Tidak ada
cuti hamil untuk perempuan. Mempunyai peran ganda sebagai penanggung
jawab keluarga yang membuat suami juga melupakan peran mereka. Itu hanya
bagian kecil Mbak……..”

“Lalu kartini……?”

“Dia
hanya ‘korban’ sebuah konspirasi. Seandainya Kartini tidak mati muda.
Seandainya Kartini masih meneruskan kajiannya tentang Al-Quran.
Seandainya dia menuliskan juga bagian pemikran dia tentang Islam. Dia
pasti sama dengan tokoh-tokoh yang Mbak Ira sebutkan. Kartini hanya
butuh persamaan untuk akses pendidikan dan informasi di jamannya. Bukan
untuk melupaakn kodrat sebagai perempuan”

“Kodrat sebagai perempuan”

“Iya…Kodrat sebagai perempuan. Istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya”

Saya
diam……..Lepas dari kontroversi tentang Kartini. Saya tetap
mengagumi dia. Sebagai perempuan “penulis”. Tentang kemauan dia untuk
belajar. Tentang perjalanan hidup dia yang tetap menjadi inspirasi.

Saya menemukan sebuah tulisan yang di share salah satu teman saya

http://go-killz.blogspot.com/2011/03/mitos-kartini-dan-rekayasa-sejarah.html
http://www.inertseven.info/2011/10/mitos-dan-rekayasa-penokohan-kartini.html

MITOS DAN REKAYASA PENOKOHAN KARTINI

Mengapa
setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita
Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? Ada yang menarik pada
Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat
halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang
Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar
tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”
Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Sejarawan
yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini
mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa
Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia
lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong
tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan
merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu
saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali
dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya
pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr.
Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik
‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Gugatan Terhadap Penokohan Kartini

Dalam
buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul
“Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada
gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai
lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita
tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah
yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang
menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.
Harsja juga
menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai
simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang
hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam
Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We
Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu
tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia
(Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal,
papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah
Safiatudindikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif
mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia
menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa
pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah
lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan
Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk
menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh
monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah
memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan
pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh
wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We
Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan,
tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang
ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari
sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio.
Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun
1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat
pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun
untuk wanita.
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap
penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang
dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar
kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan
Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje,
penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon,
Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan
perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis
tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi
semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de
Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di
Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah
pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan
dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal
Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian
mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai
perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan
penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang
menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Terbitnya Surat – Surat Kartini

Lebih
dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun
1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul
Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya
dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian,
terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap
Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah
penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa
pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa
Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang
diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih
memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di
Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di
luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini
hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini
bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan
dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan
mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut:
“Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di
Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang
budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih
lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang
wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga
menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus
berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam
berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A.
Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat
daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA
Kartini.”

Antara Kartini, Dewi Sartika dan Rohana Kudus

Dalam
artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar
Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak
dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang
(kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang
tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang
dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu,
sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar
.
Dewi Sartika

Dewi
Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum
wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan
Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung
dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di
kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia
(1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis
sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat
sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau
Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih
jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini
dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya,
Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia
terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita
Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan
kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia,
Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh,
klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini
hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat
yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan
Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang
ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin
pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum
era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh
sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Jadi,
ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa
Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien?
Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia
juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk
kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang
penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif
berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi
keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita
menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan
kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan
dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani,
berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya
hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata
Rohana Kudus.

Peran Belanda Dalam Penokohan Kartini

Seperti
diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar,
penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar
bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan
Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis
Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari
bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama
mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk
memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam
bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan,
1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:

“Kecenderungan
ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah
nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir
abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis
selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan
mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya
pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa
hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya
kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck.
Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai
orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada
Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

”Salam,
Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan
penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu
dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada
beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum
akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?”
Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada
beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban
perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini:
Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah:
Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui
bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti
Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van
Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya
membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak
orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh
al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai
seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan
itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan
pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus
daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Van
Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck
dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum
Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya
sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul
Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam:
”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban
kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban
modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun
memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

Snouck
Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche
zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan
nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya,
Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto
mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje
kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah
melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan,
sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang
berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan
pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya
dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti
jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan
mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam
kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa
dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat
akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh
kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

Aqib Suminto
mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di
Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya,
Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk
menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan
menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam)
melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

Itulah strategi
dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan
taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’
Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih
dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah
berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan
silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau
pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat.
Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka
lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah
berbuat kebaikan.

#DAMAI UNTUK KAMU KARTINI……..SAYA BACAKAN ALFATIHAH DARI TEMPAT SAYA BERDIRI SAAT INI#

 
Saya ingat membeli buku dengan kamu. Saat saya merajuk …….

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *