Uncategorized

KARENA SAYA PEREMPUAN (INI TENTANG HARI IBU)

Saya selalu berpikir
tentang bagaimana awal munculnya hari ibu. Ya….mungkin saya adalah
bagian dari masyarakat yang uforia terhadap hari Ibu. Walaupun sebagai
seorang programer radio saya juga menjadikan moment hari ibu dalam media
tempat saya bekerja. Karena paling tidak saya ingin menyentuh sedikit
bagi mereka yang mungkin melupakan ibu mereka. Tapi saya pikir tidak
juga. Karena setiap saat, setiap hari saya selalu menulis tentang
pemikiran, perjalanan, dan “kebodohan” saya sebagi seorang perempuan.
Serta tentang ibu saya yang banyak mempengaruhi kehidupan saya. Dan
akhirnya saya menemukan sedikit jawaban tentang hari ibu. Ya
kawan……Sebuah hari akan muncul dari sebuah proses sejarah. Tidak ada
salahnya juga kan jika saya berbagi sebuah sejarah tentang munculnya
Hari Ibu? walaupun kita terkadang sudah melenceng dari makna hari ibu.

Selain
ke sentimentalan saya terhadap issue ibu dan perempuan. Saya hanya
ingin mengatakan bahwa saatnya Perempuan Bangkit. Jangan pernah menjadi
sebuah kaum yang menganggapnya dirinya diskriminatif. Apakah itu Ibu
rumah tangga ataupun wanita karier. Semua mempunyai hak yang sama untuk
mengaktualisasikan diri……….Ini bukan tulisan saya. Tapi saya ingin
semua membacanya.

Dan saya membagi catatan ini hanya dengan satu alasan! karena saya seorang perempuan!

HARI (PERJUANGAN) IBU

Hari Ibu bukanlah momen menyanjung peran domestik perempuan.

Di
jejaring sosial Twitter, Facebook sampai siaran radio sepagian ini
semua orang bicara soal hari Ibu yang diperingati pada hari ini, Kamis,
22 Desember. Ada yang mengucapkan selamat seraya menyanjung sang ibu
atas jasa-jasa mereka melahirkan, merawat dan membesarkan anak-anaknya.
“Happy mother’s day, I love you, Mom,” kata seorang penelpon di salah
satu stasiun radio. Sementara itu di Twitter, ucapan selamat hari Ibu
datang silih berganti berhamburan memenuhi linimasa diselingi beberapa
orang yang berkomentar bernada korektif terhadap salah kaprah peringatan
hari Ibu di Indonesia.

Memang benar,
hari Ibu yang kerap diperingati pada 22 Desember setiap tahunnya agak
salah sambung. Nyasar dari tujuan awalnya. Campur aduk dengan momen
Mother’s Day di Amerika Serikat yang selalu diperingati pada 9 Mei
setiap tahunnya. Mother’s Day di Amerika memang berbeda dengan hari Ibu
di Indonesia. Awal mula peristiwanya pun berbeda. Di Amerika Mother’s
Day selalu diperingati 9 Mei yang tak lain adalah tanggal meninggalnya
Ann Jarvis, seorang ibu yang pada 1868 menginisiasi gerakan untuk
menyatukan kembali keluarga-keluarga yang tercerai berai akibat perang
saudara (Civil War) di Amerika. Setalah ia wafat, usahanya diteruskan
oleh Anna Jarvis, anak perempuannya yang kemudian menetapkan tanggal
kematian ibunya sebagai Mother’s Day di Amerika.

Sementara
itu di Indonesia, peringatan hari Ibu pada 22 Desember didasarkan pada
penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22 – 25  Desember
1928 di Yogyakarta. Penetapan tanggal peringatan hari Ibu itu dilakukan
pada Kongres Perempuan Indonesia ketiga pada 23 – 28 Juli 1938 di
Bandung. Kongres Perempuan Indonesia pertama dilakukan dalam suasana
zaman kolonial yang mencengkeram kebebasan orang Indonesia untuk
berekspresi dan menyatakan pendapat. Kongres itu pula tak bisa
dilepaskan dari semangat kebangsaan yang baru saja digelorakan pada
Kongres Pemuda kedua, 28 Oktober 1928 di Batavia.

Faktor
pendorong penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia tak lain adalah
kondisi kehidupan perempuan di Indonesia yang masih dikungkung budaya
patriarkis yang berdiri di atas nilai-nilai feodal. Menurut sejarawan
Saskia Eleonora Wieringa ada sejumlah organisasi perempuan yang
terpenting ikut serta dalam kongres perempuan tersebut, antara lain
Wanita Oetomo, Aisyah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanito Moeljo,
dan bagian-bagian perempuan di dalam Sarekat Islam, Jong Islamieten Bond
dan Wanita Taman Siswa. Tiga tokoh perempuan penggagas pertemuan itu
adalah Nyi. Hadjar Dewantara dari Wanita Taman Siswa, Ny. Soekonto dari
Wanita Oetomo dan Sujatin Kartowijono dari Poetri Indonesia.

Sujatin,
salah seorang inisiator kongres tersebut menuturkan pengalamannya,
“Perjuangan kemerdekaan dan perbaikan hak serta nasib wanita menjadi
titik utama dalam hidupku sebagai orang muda… Di bulan Oktober 1928,
tepatnya tanggal 28, diadakan Sumpah Pemuda… Pada saat itu pulalah
timbul sebuah hasrat di antara kami kaum wanita muda, mengadakan sebuah
pertemuan antar-wanita se-Indonesia demi persatuan nasional,” kata
Sujatin kepada Hanna Rambe, penulis otobiografinya, Mencari Makna
Hidupku.

Ada banyak masalah yang
dibicarakan dalam kongres perempuan pertama itu, mulai dari pendidikan
kaum perempuan, nasib anak yatim piatu dan janda, perkawinan anak-anak,
reformasi undang-undang perkawinan Islam, pentingnya meningkatkan harga
diri kaum perempuan sampai dengan kejahatan kawin paksa yang masih marak
terjadi saat itu. Beberapa tokoh perempuan menyampaikan pandangannya
masing-masing terhadap persoalan yang dihadapi kaum perempuan di
Indonesia,  bahkan muncul gerakan anti-permaduan (baca: anti-poligami).
Kongres Perempuan Indonesia pertama itu menghasilkan sejumlah resolusi
dan membentuk Perikatan Perkumpulan Perempoean Indonesia.

Kehidupan
kaum perempuan di Hindia Belanda pada era tahun 1920-an dirundung oleh
sejumlah masalah yang cukup pelik. Tak banyak perempuan yang bisa
menempuh pendidikan; kebanyakan dari mereka sudah dikawinkan selang
beberapa saat setelah mengalami menstruasi pertama; tak punya kedudukan
kuat untuk menggugat atas perlakuan sepihak dari kaum pria dalam soal
kawin-cerai dan tak adanya aturan yang berpihak kepada mereka.

Dalam
surat-suratnya kepada Ny. Abendanon bisa diketahui bagaimana RA.
Kartini menggugat praktik permaduan yang terjadi di kalangan priayi.
Ironisnya, Kartini yang menggugat praktik permaduan dan perjodohan paksa
itu pada akhirnya harus takluk kepada kehendak ayahnya yang
menjodohkannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat,
bupati Rembang yang sudah beristri tiga. Surat-surat Kartini merupakan
gambaran alam pikiran dan perasaannya yang diserap dari pengalaman dan
kesaksiannya sebagai seorang perempuan Jawa-priayi yang hidup dalam
kungkungan budaya patriarkis. Semangat Kartini itulah yang terus
dinyalakan oleh kaum perempuan yang hidup sesudahnya, termasuk oleh
mereka yang menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22
Desember 1928.

Gerakan perempuan
Indonesia pada kolonial sempat hampir pecah karena adanya perbedaan
pandangan mengenai permaduan. Itu terjadi pada Kongres Perempuan
Indonesia kedua, 20 – 24 Juli 1935 di Batavia, ketika Ratna Sari, dari
Persatuan Muslim Indonesia (Permi) Sumatera Barat menyampaikan pidato
yang bernada mendukung poligami, sesuai dengan syariat Islam. Kontan
sikap Ratna itu menuai kontroversi. Suwarni Pringgodigdo dari
perkumpulan Istri Sedar menentang pendapat Ratna. Suwarni bahkan
memboikot jalannya sidang dengan menyatakan dirinya dan organisasi yang
dipimpinnya keluar dari kongres. Namun hal itu akhirnya dapat dicegah
setelah Maria Ulfah, tokoh perempuan utama lainnya, mengajukan usul agar
pembahasan pendapat Ratna tidak diteruskan di dalam kongres.

Dinamika
gerakan perempuan makin menguat seiring makin bersatunya orientasi
mereka terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan. Perempuan
tak lagi berdiam di dapur atau pasrah menerima nasib yang terjadi pada
diri mereka. Sejumlah advokasi terhadap perempuan korban pertikaian
rumah tangga dilakukan oleh organisasi-organisasi perempuan anggota
kongres perempuan. Perempuan Indonesia, sejak 22 Desember 1928 memasuki
ranah perjuangan politik praktis, sebuah wilayah yang sebelumnya tabu
mereka masuki karena nilai-nilai tertentu di dalam masyarakat yang tak
memungkinkan mereka bergerak aktif memperjuangkan hak-haknya.

Peringatan
hari Ibu 22 Desember kemudian ditetapkan perayaannya secara nasional
melalui Dekrit Presiden Sukarno no. 316 tahun 1959. Banyak yang
mengatakan bahwa penetapan tersebut merupakan upaya dari Sukarno untuk
memperbaiki citranya di hadapan gerakan perempuan karena dia telah
memadu Fatmawati dengan menikahi Hartini. Namun lebih dari itu, hari Ibu
di Indonesia merupakan tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan untuk
merebut posisi yang lebih adil di dalam masyarakat. Maka, peringatan
hari Ibu yang penuh haru-biru dengan segala puja-puji peran domestik ibu
di dalam rumah sejatinya justru mendistorsi makna hari Ibu itu sendiri.
Selamat hari ibu para perempuan pemberani! [BONNIE TRIYANA].

link tulisan asli Majalah Historia

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *