Catatan

Kamus Bahasa Daerah Using Indonesia, pengobat lara orang yang patah hati

 : kenangan itu abadi di buku dan tulisan

2002

Saya berusaha mengingat-ingat apa yang membuat saya bersedih saat itu. Tapi sampai catatan ini terselesaikan saya tidak berhasil mengingatnya. Saya hanya ingat bersedih luar biasa karena kalah lomba.Tapi lomba apa saya gagal mengingatnya. Jika 2002 saat itu berarti saya sudah duduk di bangku kuliah.

Sore hari, saat itu ibu mengajak saya naik lin 9 dari pertigaan Sukowidi dan berhenti Taman Sritanjung. Mengapa naik lin? karena kami memang belum punya kendaraan pribadi. Jika pun baik becak tentu harus membayar mahal. Saya tidak tau akan diajak kemana oleh ibu saat itu.

Ibu lalu mengajak jalan kaki hingga ke toko Timur dekat dengan simpang lima dan bertanya apakah ada kamus Bahasa Using kepada penjaganya. Saya membelalak, ketika ibu menyerahkan tas plastik berisi Kamus Bahasa Daerah Using Indonesia yang disusun oleh Hasan ALi. Saat itu kalau tidak salah harganya sekitar 100 ribu. Sangat mahal tentunya bagi ibu, single parent yang bekerja sebagai guru. Kamus itu begitu saya idam-idamkan. Rasanya keren sekali punya kamus bahasa daerah.

“Adek nggak boleh sedih lagi. Sudah ibu belikan kamus lo,” katanya. Saat itu ibu sangat cantik sekali. Saya menciuminya di depan toko buku dan kami kembali berjalan kaki pulang ke rumah dan singgah berhenti di Taman Sritanjung. Kami duduk di bawah pohon Beringin. Saat itu sudah jelang malam. “Dek sejak-jauhnya kamu pergi, kamu harus mencintai Banyuwangi. Harus balik kesini. Bapak mu sudah dimakamkan di sini jauh dari Makassar. Ibu juga nanti bakalnya juga selamanya di Banyuwangi,” katanya. Kami berbicang lama sekali saat itu semacam dua sahabat yang lama tidak bertemu.

Kamus Bahasa Using mungkin hanya sekedar buku, namun tidak bagi saya yang sudah punya cita-cita jadi penyair sejak masih TK. Kamus Bahasa Using saya bawa keman-mana. Sebagai referensi saat menjadi penyiar bahasa Using di radio Jember. Menjadi bacaan wajib saat menulis puisi-puisi dalam bahasa Using. Sebut saja puisi yang berjudul Damar Gunung atau Panjer Kiling. Atau membacanya saat kost di jalan Sumatra Jember.

Hingga saya kehilangan kamus tersebut. Entah keman. Sedih pasti. Apalagi saat ibu meninggal. Saya meratapi dan membodohkan diri sendiri mengapa kehilangan kamus yang begitu penting dalam perjalanan hidup saya. Mungkin ibu harus hutang untuk membeli kamus tersebut saat itu. Setiap ada kesempatan saya selalu berniat untuk membeli kamus Bahasa Daerah Using Indonesia jika ada. Bekas pun tidak masalah. Sayangnya saya tidak pernah berhasil. Kamus itu semacam hilang dari peredaran.

Sabtu, 10 Februari 2018

Ada pelatihan penyusunan kamus, dan kebahagian yang luar biasa adalah setiap peserta mendapatkan Kamus Bahasa Daerah Using Indonesia secara gratis. Kamus yang sama dengan kamus yang dulu dibelikan oleh ibu dan hilang entah kemana.

Saat Holip, dari Sengker Kuwung Blambangan memberikan kamus tersebut rasanya saya ingin bersorak bercampur haru luar biasa.

Dan sore ini saya membuat catatan ini selepas membaca beberapa lembar Kamus Bahasa Daerah Using Indonesia. Kertasnya berbeda dengan kamus yang dulu ibu belikan buat saya, tapi tidak masalah. Bagi saya membaca setiap kata-kata di kamus tersebut, semacam membaca kembali ibu yang mengajarkan saya untuk terus mencintai tanah kelahiranya yaitu Banyuwangi.

Rindu saya luar biasa kepada Ibu dan Bapak. Kadang saya berpikir betapa menyenangkannya memiliki keluarga. Minimal saya tidak harus selalu berdamai dengan kesepian dan hanya berbicara dengan tumpukan-tumpukan buku yang mudah berdebu jika pulang ke rumah.

Terimakasih.

Peserta pelatihan menyusun kamus yang diselenggarakan Sengker Kuwung Blambangan di aula kampus Untag Banyuwangi Sabtu 10/2/2018
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *