Uncategorized

KAMU SUDAH MAKAN?

kenapa sih Raa….kalo mau makan sibuk cari bacaan”
Saya hanya tersenyum sambil berkata, “kebiasaan makan sendirian”
Mungkin
saya bukan tipe perempuan yang menikmati makanan saya di meja makan
dengan keluarga. Sejak kecil saya selalu menghabiskan makanan saya
sendirian. Ibu saya yang selalu berangkat lebih dulu memaksa saya unuk
menghabiskan sarapan saya seorang diri. Makan bersama adalah moment
special bagi saya. Setiap awal bulan saat ayah saya pulang dari Bali dan
mengajak  ibu, saya dan mas Nurul dengan naik becak Pak Johar langganan
sekolah saya untuk makan di kedai Pak Umar. Kedai yang menjual sate dan
gule. Itu adalah masa-masa yang membahagiakan buat saya. Saat saya
makan sendirian, otak saya memaksa untuk mengingat saat saya tertawa
makan satu meja bersama ayah, ibu dan kakak saya. Dan kami berebut untuk
menghabiskan sate tanpa berbagi karena saya dan kakak saya mendapatkan
satu porsi sate berisi 10 tusuk. Semuanya kini hanya kenangan. Saat saya
semakin larut dengan pola makan saya dengan berteman Koran dan buku
bacaan. Kebiaaan awal agar saya agar tidak memikirkan kenangan makan
bersama keluarga. Hal itu berlangsung bertahun-tahun. Saat saya kost
waktu kuliah saya selalu menghabiskan nasi bungkus saya sendirian
dipojokkan kamar dengan buku, walaupun ada teman-teman kost di kamar
saya. Saya lebih menikmati acara makan seorang diri.  

Jika
bagi orang lain acara makan adalah saat untuk kebersamaan keluarga ,
tapi bagi saya bukan apa-apa. Bagi saya acara makan ya makan….masukkan
makanan lewat mulut … lalu kenyang dan selesai. Saya selalu merasa kaku
dan bingung jika makan di meja makan. Karena saya lebih suka makan
selonjoran di depan TV di lantai sekali lagi sambil baca buku.
Jika
makan di restoran saya selalu bingung apa yang saya lakukan saat saya
menunggu makanan datang. Dengan siapapun. Itu juga menjadi salah satu
alasan bagi saya untuk membawa buku di dalam tas saya. Oh Tuhan…..betapa
saya sadar  tidak normalnya hidup yang selama ini saya lewati.
Saya
sering menghabiskan waku saya di warung kopi. Mulai warung kopi pinggir
jalan yang kini telah di bongkar sampai warung kopi kelas atas tempat
nongkrong para sosialita dan anak gaul. Saya selalu menebak-nebak apa
yang ada dalam pikiran mereka yang datang makan berdua dengan
pasangannya? Apakah mereka bahagia? Atau pura-pura bahagia? Saya terlalu
sering iri saat seorang laki-laki yang sibuk menuangkan air minum untuk
perempuannya.Kau tau…..saya selalu membayangkan saat kamu membuatkan
saya secangkir Teh untuk saya sambil berkata, “Jangan kebanyakan ngopi”
Walaupun mungkin saat itu saya merengut ataupun tertawa kecil, kau haru
tahu betapa bahagianya saya mendapat kan perhatian dari kamu.  Saya
sering menguping pembicaraan pasangan di tempat saya menghabiskan kopi
saya. Saat sang laki-laki memilihkan menu makan untuk perempuannya yang
mengangguk bahagia. Bukan sepeti kamu yang mengatakan, “terserah” saat
saya menanyakan mau pesan makan apa. Hmmmmm saya boleh iri kan?
Saya
jadi membayangkan apa yang akan saya lakukan jika kamu mengajak saya
“candle ligh dinner” seperti di TV-Tv itu? Saya tersenyum sendiri. Saya
tidakmengharapkan hal berlebihan seperti itu. Mempunyai waktu berdua
sekedar menemani dan memastikan kamu makan sudah cukup buatku tenang.
: Dear
Tahukan
kamu . Saya suka menemani kamu makan walaupun terkadang bingung apa
yang harus saya lakukan. Duduk di sebelah mu yang sedang makan  saya
rasa sudah cukup membuat saya bahagia. Melihat cara kamu menyuapkan
makanan ke mulut kamu dengan cara unik. Atau saat kamu
menggerak-gerakkan bibirmu dengan lucu saat kepedasan. Atau saat kamu
memajukan mulutmu saat saya bilang, “makan sekarang, Nda nggk mau
tahu”.  Mungkin bagi kamu saya adalah perempuan tercerewet yang pernah
kamu kenal apalagi urusan makan. Kamu tidak tahu bertapa saya harus
beradaptasi untuk menemani kamu makan di sebuah meja. Tapi santai saja
sayang……aku bahagia menemani kamu menikmati makananmu.
Lalu
bagaimana dengan saya? Ah…..saya sudah terbiasa seperti ini. Heiiii
tiba-tiba saya rindu kata-kata kamu setiap saya mengatakan, “Nda sudah
terbiasa”. Dan kamu kemudian berkata kepada saya, “Nda…jangan bilang
seperti itu lagi. Bukankan sudah aku di samping kamu?”. Saya rindu
kata-kata itu sayang…..
Hmmm…..mungkin bagi kamu sepele. Hanya
sekedar makan. Tapi saya akan terus memastikan bahwa kamu sudah makan,
walapun saya tidak selalu menemani kamu makan dan tidak pernah
memasakkan sarapan untuk kamu.Walaupun klise saat saya bilang saya takut
kamu sakit.
Dan seperti biasa saya akan sibuk mencari
bacaan untuk menemani saya makan. Saat kamu tidak ada disamping saya
menghabiskan makan siang saya hari ini.
: Dear, kamu sudah makan?
Saya yakin kamu akan memonyongkan bibir kamu sambil bilang bahwa saya cerewet
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *