Catatan

“Kamu harus kenal sama Margaret Thatcher”.

Nama asing, selain nama Benazir Bhutto. Iya. Nama-nama yang benar tidak populer bagi saya yang saat itu masih belum genap berusia 10 tahun.

Lalu ayah saya bercerita bahwa Margaret Thatcher itu punya tangan besi. Dan saya membayangkan bahwa tangan perempuan itu benar-benar terbuat dari besi yang bisa menghancurkan kaca tanpa terluka.

Keren, dalam pandangan anak perempuan. Dan saya sempat terobsesi dengan kisah perempuan itu, selain kisah tentang perempuan-perempuan lain seperti Benazir Bhutto, Bunda Teresa, Nawal El-Saadawi dan nama-nama perempuan lain yang membuat saya mampu “melek” semalaman untuk membaca kisahnya.

Margaret Thatcher muncul dari akar rumput. Lulus dari Oxford, ia mencalonkan diri menjadi anggota parlemen dari Dartford, namun kalah. Namun mata dunia terbuka, karena dia satu-satunya kandidat termuda dan dia satu-satunya perempuan.

Denis Thatcher yang kelak menjadi suaminya mengatakan tentang strategi pencitraan. Wanita yang tak menikah dan berambisi politik tak akan mudah diterima masyarakat yang masih memiliki pandangan kolot. Margaret menikah dengan syarat tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga. Ia ingin berkarier secara penuh.

Iya menikah, dan berstatus istri mungkin menjadi salah satu “cara” membuat ia terbang. Tahun 1959 ia menjadi anggota parlemen dari Finchley pada tahun 1959. Dan ia menjadi Menteri Pendidikan dan Sains, kemudian menjadi pemimpin Partai Konservatif, dan akhirnya perdana menteri perempuan pertama di Inggris.

Keren bukan?

Saat topi khasnya menyembul di antara topi-topi para lelaki.

Bergulat dengan diskriminasi perempuan di dunia politik yang dianggap dunia “laki-laki”. Melawan sebuah konsep konservatif tentang “ibu bekerja”.

Margaret mempunyai peran penting terutama dalam runtuhnya tembok Berlin dan terjadinya gelombang keterbukaan di Rusia. Ia sempat berkata terhadap para pemimpin Rusia yang kemudian terkenal: “They put guns before butter, while we put just about everything before guns…….”
Ucapan yang membuat media Rusia menjulukinya ”Iron Lady”.

Margaret membawa perubahan radikal semasa pemerintahannya. Tentang perbaikan ekonomi Inggris, merebut kembali kepulauan Falkland yang diserobot Argentina, lolos dari pengeboman oleh gerilyawan Irlandia Utara, dan menjadi teladan pemimpin yang bersih. Dia juga pro senjata nuklir, berteman baik dengan pemimpin apartheid Afrika Selatan, menentang penyatuan mata uang Eropa, menyetujui pengeboman Libya, dan juga mendorong AS untuk melakukan operasi militer ke Irak yang saat itu menginvasi Kuwait.

Lalu apa kabar Denis? mereka bersama sampai Denis meninggal di usia 88 tahun. Denis sempat menjuluki dirinya sebagai bayangan sepanjang masa. Dennis adalah pengusaha sukses yang rela melepaskan seluruh kegiatan usaha dan kepentingannya untuk mendampingi istrinya. Tak sekali pun dia pernah berusaha mencampuri beragam urusan kenegaraan sang istri

8 April 2013 bersamaan dengan Ulang Tahun saya yang sudah masuk di angka 3. Dia meninggal. Iyaa… dia yang telah menua di usia 85.

Lepas dari kontoversi tentang dia, saya hanya belajar dan membaca bahwa perempuan itu luar biasa.Dia bisa menjadi apa saja seperti mimpinya.

Iya….. dengan konsep sehebat-hebatnya perempuan dia tetap menjadi istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya.Duh….. saya selalu menghela nafas jika harus menulis “quote” itu.

“If you want something said, ask a man; if you want something done, ask a woman” (Margaret Thatcher)

Damai di surga my iron lady.

Nanti saya pun bercita cita sederhana. Kembali ke rumah. Lebih baca membaca buku dan menulis. Membuatkan kamu kopi sore hari lalu berbincang hingga lepas malam dan kita berdua lelah berdua.

Itu saja. Cita cita yang sederhana

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *