Catatan

Kamu ditelan matahari

Kemarin siang menjelang sore aku mendapat pesan di email dari Zeus. “Kekasih mu di telan matahari, Raa. Kau harus selamatkan dia”. Aku panik dan baru menyadari jika berhari hari kamu tak berkirim kabar padaku. Aku melihat jam menunjukkan pukul 14.45 wib. Masih ada beberapa jam lagi untuk menyelamatkan kamu.

“Dia di selatan. Kamu harus segera kesana jika tidak dia akan hilang dibawa matahari”, tulis Zeus di emailku. Aku membacanya pelan pelan takut ada pesan yang terlewatkan dengan kepanikan yang luar biasa

Jalananan tidak begitu ramai walau tidak bisa kusebut lengang. Tidak boleh ditunda lagu aku harus berangkat mencari mu kekasihku. Mengenakan jaket dan memasukkan handphone di saku serta mengenakan kacamata hitam. Aku menyadari aku akan berhadapan dengan matahari. Konon matahari tidak bisa dilihat dengan mata telanjang menjadi alasanku tetap menggunakan kacamata hitam

Aku memacu motor ke selatan. Jauh. Jauh berbelas belas kilo. Disebelah kanan, aku melihat matahari bulat sempurna dengan warna merah menyala nyala seperti yang digambarkan Seno Gumira dalam novelnya Senja Untuk Pacar ku yang diberikan olehmu padaku.

Senjanya tentu lebih sempurna jika yang membonceng adalah kamu seperti dulu. Aku akan peluk pinggangmu dan aku ceritakan bagaimana bentuk matahari saat itu.

“Aku tidak akan menoleh Raa. Aku akan fokus ke depan agar motornya nggak oleng. Kamu saja yang berbisik ceritakan matahari yang kamu lihat. Kau mau Raa?”. Aku mengangguk dan semakin mengeratkan pelukanku dan bersemangat bercerita jika matahari bulat seperti bentuk bola bekel. “Cahaya nya hangat dan tenang mas. Seperti aku didekat kamu,” bisikku sambil meletakkan kepalaku di bahumu. Kau menyentuh pelan lenganku dan kita melanjutkan perjalanan berdua.

Motor ku oleng. Ternyata ada lubang kecil di jalan. Aku sadar waktuku tidak lama. Aku melirik matahari yang semakin melorot ke bawah. Kurang dari 30 menit matahari tenggelam jika kamu kekasihku tidak aku selamatkan maka kamu akan di bawa matahari pergi dan aku akan sendiri.

Di depan ada persimpangan. Aku berbelok ke kanan dan menuju matahari. Aku berteriak teriak meminta kepada matahari untuk berhenti untuk berotasi.

Aku berhadapan dekat sekali dengan matahari. Dia menyeringai dan bertanya siapa aku dan siapa yang aku cari. “Namaku Raa. Zeus mengatakan kau telan kekasihku. Tolong kembalikan”

“Kekasih yang mana? Lelaki yang tingginya diatas 15 senti dibandingkan dengan tinggimu. Kau yakin dia kekasihmu? Dia tak mencintaimu”. Matahari tertawa mengejek ku.

“Aku tidak pernah tahu apakah dia mencintaiku tapi yang pasti aku sangat mencintainya. Dia kekasihku”. Entah kenapa tiba-tiba aku begitu berani menantang nya. Matahari masih tertawa terbahak bahak mungkin aku dianggap anak SD yang sedang memalak mahasiswa untuk memberikan uang seribu rupiah.

Matahari mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Dia bukan kekasihmu. Aku tahu dia tidak pernah mencintai mu. Itu alasanku menelannya. Membawanya pergi dari duniamu”

“Jangan. Tolong jangan telan dia. Sungguh aku rela menukar apa yang aku punya agar dia kembali ke bumi. Atau bagaimana jika kau yang membawaku,” tawarku

Matahari mengernyitkan keningnya. Dia kembali bertanya siapa namaku. “Raa. Namaku Raa. Kekasihku bernama Ambau. Dia lelaki baik”

“Siapa namamu”. “Raa. Namaku Raa. Raa. Raa. Kau harus ingat namaku Raa”. Aku mengulang ngulang namaku sambil mengacungkan tanganku padanya seakan akan aku menghantam dadanya dengan harapan kami kekasihku keluar dari mulut matahari.

Dia kembali tertawa. “Raa… Raa. Kamu lupa kamu sedang menghadapi dirimu sendiri. Kamu Raa. Aku Matahari. Kita satu. Kamu menghadapi dirimu sendiri. Aku. Kamu. Kamu menelan kekasihmu sendiri”

Matahari mulai tenggelam dan aku menyadari aku juga sedikit demi sedikit ikutan menghilang. Semacam monogram. Tiba tiba aku ingat perjumpaan ku dengan mu kekasihku pertama kali di teras rumahku. Aku menyalamimu dan mengenalkan diri. “Namaku Raa. Dalam bahasa Mesir Kuno berarti Matahari tapi kau harus tetap panggil aku Raa. Jangan Mata atau Hari apalagi matahari. Karena tidak ada dua matahari di muka bumi ini,” kataku sambil tersenyum.

Lalu kamu, kekasihku menyambut tanganku dan menyebutkan nama,” Ambau”, Sejak itu aku jatuh cinta pada mu tanpa kamu tahu.

Matahari semakin menyala terang benderang. Separuh bulatannya sudah tertelan gelap. Aku melihat Ambau berteriak teriak memanggilku dari dalam matahari yang tertawa tawa. Aku hanya berdiri tanpa bisa melakukan apa apa. Tubuhku semakin lama semakin hilang, menjadi semacam asap, bersamaan dengan matahari yang benar benar tenggelam. Semua gelap. Hilang termasuk aku dan kamu kekasihku.
———–
“Namaku Raa. Kau tau? matahari bukannya tenggelam. Dia hanya terbit dibagian bumi lainnya. Kamu harus meyakini itu. Jadi kalau aku hilang kau tinggal melihat matahari. Aku disana. Di dalamnya” kataku kepada mu, kekasihku ketika kita menikmati makan malam sebelum akhirnya kita bertengkar hebat lalu aku pergi meninggalkan kamu sendirian

Aku tahu , kamu kekasih ku menghadang matahari untuk mencari ku dan matahari marah hingga menelanmu. Kamu kesepian dan aku pun hilang.

Aku tahu kamu, kekasih ku menghadang matahari untuk mencariku dan matahari marah lalu menelanmu.

Kamu hilang dan aku juga hilang. Sama sama di telan Matahari.

Foto diambil saat senja di tepi jalan reklamasi Fakfak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *