Catatan, Traveling

Kak.. jangan bawa guru kami

“Kak…jangan bawa guru kami”
Kamis, 3 Desember 2015
Setelah 12 jam tembus laut China Selatan dan menginap semalam di Tarempak, perjalanan kembali di mulai. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Etang, tepatnya di SD Negeri 007 Desa Air Pasir Kecamatan Siantan Timur Kepulauan Anambas.
Iseng saya searching tentang Pulau Etang di google tapi “zonk”. Tidak terdeteksi. Di pulau yang berjarak sekitar 30 menit menggunakan speedboot dari pusat pemerintahan Kepulauan Anambas saya bertemu dengan Minawati Dewi Ariyani. Dia adalah SM3T yang mengajar di pulau yang hanya berpenghuni 34 KK.
Perempuan lajang asal dari Majalengka tersebut mengajar sejak bulan Agustus 2015. Dia adalah 60 SM3T yang dikirim menuju kepulauan Anambas yang berada di Kepulauan Riau. Tidak seperti guru-guru lainnya yang mengajar sampai puluhan siswa perempuan yang akrab dipanggil ibu Mina tersebut hanya mengajar tiga siswa yang duduk di kelas dua. Iya jumlah siswa di SDN 007 Etan Desa air putih Kecamatan Siantan timur kepulauan Anambas hanya 19 orang.
Perempuan yang usianya 10 tahun lebih muda dibandingkan saya tersebut adalah lulusan dari PGSD UPI Bandung. Walaupun baru bertugas tiga bulan ia mengaku sudah jatuh cinta pada Pulau Etang. Dia tinggal bersama salah satu keluarga nelayan dan membayar 600 ribu untuk biaya menginap dan juga makan selama 1 bulan.
Saat saya bertanya apakah dia rindu dengan keluarga di Bandung dia menjawab pasti. Tapi panggilan sebagai guru mengalahkan rasa rindu dia pada keluarga. Selama 1 bulan tinggal di pulau Etang, dia hanya sekali ke pulau Tarempa itu pun yang menumpang kapal pompong milik nelayan.
“Kalau sewa bisa 1 juta 700 an. Biasanya ikut Bu Tri yang juga guru asli pulau sini. Ke Tarempa sekadar jalan jalan dan pingin makan makan yang berbeda,” jelasnya sambil tertawa.
Bukan hanya mengajar dia juga memberikan watunya 24 jam untuk anak anak yang tinggal di pulau tersebut. “Tidak hanya di kelas tapi juga kadang main di laut atau pantai. Warga di sini baik baik semua. Kami seperti keluarga,” kata perempuan berjilbab tersebut. “Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya untuk mengajar di sini.”.
Saat kami tiba di Pulau Etang, ujian sekolah sedang berlangsung. Iseng saya bilang kalau kami datang untuk menjemput Bu Guru. Sontak ke tiga anak tersebut berdiri dan memeluk Bu Mina.
“Kakak. Jangan ambil guru kami. Kalo guru kami pergi tak ade yang mengajar kami,” kata Sindy seorang murid sambil memeluk erat Bu Mina. Bahkan saat kami mengajak Bu Mina untuk foto di depan sekolah, muridnya mengekor dan tidak melepas pelukannya pada Bu Mina. 
“Ibu nggak kemana mana. Cuma mau foto di depan,” katanya lembut. “Ibu jangan pergi. Kalau ibu pergi kami ikut,” kata muridnya.
Dada saya sesak. Menjadi guru dengan modal ijasah mungkin sangat gampang, tapi menjadi guru yang dirindukan oleh muridnya itu yang tidak mudah.
Saya duduk bersimpuh di depan Sindy dan menanyakan apakah dia sayang sama Bu Mina. Dia mengangguk, “Kami sayang bu guru. Jangan ambil guru kami”. Bu Mina mengelus rambut murid muridnya dan meyakinkan bahwa dia tidak akan pergi. Saya melihat mata Bu Mina berkaca kaca. 
Lalu saya? jangan di tanya sesaknya dada saya. 
“Mereka selalu sedih jika guru guru SM3T yang hanya bertugas setahun kembali ke tempat asalnya. Saya saja yang baru tiga bulan saja nggak bisa bayangin nanti pisahnya kayak apa.”
Saat saya tanya apakah dia akan kembali lagi ke Anambas jika tugasnya telah selesai, ia menjawab kemungkinan besar iya. “Menjadi guru itu bisa di mana saja tapi di sini lebih membutuhkan lagi”.
Kami kembali ke speedboot dan melanjutkan perjalanan lagi. Bu Mina dan murid muridnya melambaikan tangan. Saya terharu dan benar benar terharu. Dulu di usia yang sama dengan Bu Mina, saya banyak menghabiskan waktu dengan nongkrong nongkrong nggak jelas. 
Tapi Bu Mina dan ribuan Sarjana Mengajar memilih mengabdi di wilayah terpencil. Semacam mengutuk diri sendiri dan berpikir apa yang telah saya lakukan untuk negara ini.
Baiklah. Bu Mina dan ribuan sarjana mengajar lainnya. Sehat sehat dan semoga tangan Tuhan bekerja bersama kalian. Yup Indonesia tidak butuh penggerutu, tapi butuh mereka yang peduli. 
“Hiduplah Indonesia Raya”
*foto pinjam milik mbak Firoh secara file foto saya rusak. Mungkin ini cara Tuhan untuk merencanakan saya kembali ke Anambas dan mengambil foto lebih banyak
Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *