Catatan

Jurnalis perempuan dan garis tepi foto warna putih

Entah kenapa saya suka sekali memberikan bingkai putih disetiap foto yang saya unggah. Kesannya rapi dan teratur.

Padahal keteraturan dan kerapian tersebut jauh dari hidup saya. Tapi memilih bingkai putih adalah sebuah pilihan, semacam saya yang memilih untuk menekuni dunia jurnalis.

Saya tidak bilang jumlah jurnalis perempuan sedikit, tapi jika dibandingkan dengan jumlah jurnalis laki-laki, kami termasuk minoritas. Anggapan bahwa jurnalisme hanyalah ranah laki-laki, membuat kami rentan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan saat melakukan peliputan di lapangan.

Apalagi, mereka yang telah menikah dan berkeluarga. Peran ganda yang harus di lalui bukan perkara mudah. Kembali lagi kepada pilihan dan konsekuensi serta panggilan jiwa

Dengan beban kerja hampir 24 jam, dan mengurusi masalah domestik rumah tangga. Dan mungkin hal ini yang membuat kami, jurnalis perempuan, sedikit selektif memilih pasangan.

Pulang tengah malam atau harus mengerjakan deadline. Pergi keluar kota berhari-hari bahkan kehilangan sinyal. Bersinggungan dengan isu isu sensitif mulai dari politik, ekonomi bahkan agama dan kuliner.

Maka. Laki laki laki yang terpilih dan memilih perempuan jurnalis sebagai pasangan adalah lelaki yang terbaik. Yang memahami bahwa pasangannya masih harus liputan hingga dini hari. Mengerti mungkin di waktu waktu tertentu harus membuat kopi sendiri, mencuci baju dan menyetrika sendiri. Tidak lagi berbicara diskriminasi ketika harus mengambil langkah untuk berganti peran sebagai bapak rumah tangga.

Mengerti jika ada saatnya harus menghadiri acara keluarga seorang diri dan mengatakan, “istriku lagi liputan,” dengan mata berbinar-binar bahagia.

Atau memandangi layar kaca, mendengar radio, atau membaca karya jurnalistik pasangannya untuk memastikan bahwa dia baik baik saja selama peliputan walaupun tidak sempat mengirimkan kabar padanya.

Saya selalu ingat kalimat yang ditulis oleh Pramudya Anaknya Toer dalam novelnya Anak Semua Bangsa,

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)”

Saya membayangkan, laki laki yang berbisik mengatakan hal tersebut. Hal yang sangat romantis dibanding sepotong es krim coklat dan setangkai bunga mawar.

Maka, semacam garis putih sebagai bingkai. Kami memilih untuk menjadi jurnalis hingga detik ini. Bertemu untuk saling menguatkan.

Oh ya jadi jurnalis itu berat. Banyak yang nggak kuat. Jadi harus berserikat!!

Terimakasih pada mas-mas pasangan kami masing masing yang telah memilih untuk menghidupi mimpi bersama sama.

Termasuk juga pasangan saya yang masih jalan sama pacarnya

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *