Uncategorized

JENDELA FEBRUARI

18 Februari 2014
Jendela yang sama saya lihat setiap bangun atau sebelum tidur.

Tidak ada yang istimewa di baliknya. Hanya sebuah tangga besi berada di
baliknya. Membukanya perlahan setiap pagi seakan memberikan kesempatam
pada saya untuk sempurna membuka mata.

“Tentu bedalah antara angin jendela sama kipas angin” celetuk ku saat itu ketika kau tanya kenapa saya suka melihat jendela.

Cinta. Duduklah sebentar di
dekatku. Saya mau bercerita. Saya sering bermimpi jika cerita di balik
jendela itu bisa berganti-ganti setiap saya membukanya. Berganti latar
sebuah pantai dengan matahari yang terbit atau terbenam. Latar sebuah
gunung dengan hamparan suara serta suara angin, burung dan gemericik
sungai. Atau sekedar latar sebuah pelataran sebuah stasiun? Dimana ada
pertemuan dan perpisahan disana.


Pasti kamu akan menggerutu sambil bilang, “Kamu itu lo Raa nganeh-nganehi”

“Kan Iraa emang aneh,” saya akan membela diri dan menjingkat membuka jendela.

“Itu tanda-nya cinta, aku ingin kamu menemani aku setiap saat.
Kemanapun kamu pergi atau aku pergi selalu berdua. Selalu bisa berdua
melihat latar jendela yang berbeda”

Tapi kamu tidak ada dan saya lupa tiba-tiba saja bicara sendiri di depan jendela.

Hei saya sedang tidak gila. Karena tiba-tiba saja sudah pagi, dan tandanya saya harus bergerak lagi.

Menutup jendela (lagi). Dia hanya terbuka di pagi hari. Membuka jendela
berarti Tuhan masih mengijinkan saya untuk terus mewujudkan ribuan
mimpi….

Allah, Terimakasih atas hari ini.

*melihat jendela membuat saya bernegosiasi dengan masa lalu.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *