Catatan

Jemput

: Kau tidak akan pernah menjemputku dan menghentikan perjalanan di pelabuhan
Menatap punggungmu dan bertanya,” Kapan kau membawaku pergi?.” Kau diam dan tak berbalik arah. Kau lupa bahwa pernah mencintai mataku dan bibirku serta menggengam jemariku di dadamu sambil berkata, “Jangan pergi. Aku tidak berkawan”.
“Kapan kau membawaku pergi?,” tanya ku sekali lagi dengan nada bergetar. Kau diam lalu menjawab, “Aku tidak tahu.”
Kau yang mencintai mataku, bibirku dan mencintai jari jari tanganku. “Tatap mataku,” pintaku. Kau menggeleng dan aku masih menatap matamu. Kau bernafas berat, dan aku mulai mengkhawatirkanmu.
Perjalanan kita berhenti di pelabuhan. Kau tidak akan tinggal di sini bersamaku, tapi kau tak juga pergi meninggalkanku. Semacam pusaran air yang membuat ku semakin tenggelam.
“Kapan kau membawaku pergi?,” tanyaku tanpa suara. Kau diam. Aku juga diam. Pelabuhan ini semakin sunyi dan aku semakin menua. Mereka bilang penulis akan hidup dalam kesendirian. Aku membantahnya.
Malam tadi. Aku tidak ingin mengaminkan takdir, tapi berharap kau benar benar membawaku dari pelabuhan ini.
“Ada badai sayang. Berlindunglah di belakangku,” teriakku. Maka semua ini akan benar benar berhenti. Jika badai ini selesai, lanjutkan saja perjalananmu.
Aku tetap di sini. Sendiri. Ini hati. Bukan warung kopi
Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *