Uncategorized

JEDA : ketika budayawan dan seniman salaman

“Raa…. kita mau buat kunjungan anak-anak SMA untuk mengenal seniman dan budayawan”

“Apa yang bisa Iraa bantu pak”

“Kita butuh tempat yang agak luas. Soalnya setiap acara ada 3 kelas yang ikut”

“Di tempat kerja Iraa Insya Allah bisa”

2 Mei 2013. adalah kunjungan hari kedua siswa SMA 1 Giri. Dari Pak
Suhalik, guru sejarah mereka membuat sebuah kegiatan sederhana.

Para siswa duduk mendengarkan. Dan seniman serta budayawan bercerita.
Ada sebuah proses disana lewat pertanyaan-pertanyaan sederhana.

“Gelang Alit itu artinya apa?”
“Kok bisa ngaranag kayak gitu? caranya gimana”

dan semuanya mengalir seperti air.

Ada beberapa peristiwa yang saya rekam jelas di otak saya.
1. Saat mereka, anak mnuda tidak tahu dan tidak mengenal lagu-lagu
Kembang Kirim, Jaran Ucul, Lancing Tanggung dan lagu-lagu “lama”
Banyuwangi sejamannya

2. Pertanyaan saat menanyakan, “Mbak… lagu Genjer-genjer itu lagunya PKI?”

3. Saat Pak Fatrah Abal, Pak Nasikin, Pak BS Noerdian bercerita dengan
sangat berapi-api saat kesehatan mereka sudah sangat menurun drastis,
dan para anak muda sibuk menulis apa di ceritakan.

4. Saat Gandrung Darti “nggending” dan “Paju Gandrung” diantara para anak SMA dan mengajari bagaimana melemparkan “Selendang”

5 Bagaiamana mereka sibuk foto dengan seniman budayawan dan sibuk
upload di jejaring sosial dan mengganti status BBM mereka maisng-masing.

6. Bagaimana mereka nyanyi serempak gending “Umbul-umbul Blambangan”

Duh Gusti Allah …… ada sebuah perasaan yang membuat saya “bungah”.

Akhirnya saya berpikir, bagaimana kabar penguasa dan pemangku
kebijakan? Kita hidup sekarang bukan hanya untuk kesenangan sendiri kan?
tapi untuk anak-anak kita yang akan menruskan tongkat estafet
perjalanan kita.

Dan saya mengistropeksi diri. Apa yang telah
saya lakukan Untuk Indonesia? ahh terlalu tinggi Raa…… okeh untuk
Banyuwangi? Raa…. Banyuwangi terlau luas? untuk keluarga? atau untuk
saya sendiri? Tidak ada. Lalu apa lagi yang harus saya sombongkan.

Saya selalu mengutip sebuah “quote” yang saya lupa membacanya dari mana

“Lebih baik menyalakan lilin, dari pada kita mengutuk kegelapan”

ya sudah….. mari kita nyalakan lilin dengan cara kita sendiri agar hidup di sekitar kita tidak terlalu gelap.

Otak kanan… otak kiri.

: mengenal sebuah masa lalu, sejarah dan budaya agar hidup kita ini seimbang.

3 Mei 2013

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *