Catatan, Life Style

Jaran goyang, antara cinta dan sakit hati di Banyuwangi

Apa salah dan dosaku, sayang
Cinta suciku kau buang-buang
Lihat jurus yang kan ku berikan

Jaran goyang, jaran goyang
Zaman now, siapa yang nggak pernah dengan lagunya Nella Kharisma yang judulnya Jaran Goyang. Mulai anak anak ngemut permen, ABG labil sampai dosen gaul sahabat saya hapal diluar kepala lagunya Mbak Nella. Bahkan beredar surat ijin seorang siswa ijin tidak bersekolah untuk melihat Mbak Nella nyanyi lagu Jaran Goyang, lagu populer yang diciptakan oleh pencipta lagu asal Banyuwangi.
Berbicara Jaran Goyang adalah berbicara tentang Banyuwangi. Sebelum detail berbicara tentang Jaran Goyang, ijinkan saya bercerita keunikan Suku Using di Banyuwangi. Berbeda dengan Jawa Mataraman yang percaya ‘hanya’ dengan dua ilmu yaitu ilmu hitam yang menyakiti bahkan membunuh, serta ilmu putih yang menyembuhkan, masyarakat Suku Using yang tinggal di Banyuwangi percaya dengan empat ilmu yaitu ilmu merah, ilmu kuning, ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu hitam dan putih fungsinya kurang lebih mirip dengan yang dipercaya oleh Jawa Mataraman, tapi untuk ilmu merah lebih mengarah ke permasalahan hubungan asmara, sedangkan ilmu kuning lebih mengarah ke masalah kewibawaan dan urusan pekerjaan.
Nah. Jaran Goyang ini adalah bagian dari ilmu merah yang “menyelesaikan” masalah urusan asmara dan percintaan. Selain nama Jaran Goyang, ada juga ajian Kucing Gorang, Kebo Bodoh, Celeng Kesrek dan beberapa ilmu lainnya. Nama-nama yang diambil dari nama binatang kaki empat yang didomestik-an. Mereka adalah binatang-binatang liar yang dibuat ketergantungan kepada manusia. Seperti itu juga korban dari ilmu merah atau banyak yang menyebutnya dengan ilmu pengasihan.
Dari cerita tutur, disebutkan nama jaran goyang diambil dari nama pasukan prajurit perempuan kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Sayu wiwit karena kebanyakan korban dari ilmu merah adalah perempuan. Ada juga yang menceritakan nama Jaran Goyang diambil karena korban yang terkena ilmu ini susah dinasihati atau bertingkah tidak wajar seperti kuda yang masuk musim kawin. You know lah. Tidak perlu dijelaskan. Yang pasti kalau istilahnya orang Using, “Sampek dibelakani nyuwun gombalan mulih nang umahe wong lanang”, yang artinya kurang lebih adalah sampai dibela-belain bawa-bawa bajunya ke rumah laki-laki. Ya seperti umumnya orang jatuh cinta, mereka yang terkena ilmu Jaran Goyang selalu ingin dekat dengan pasangannya tapi tentu sudah dalam tahap tidak wajar. Walaupun kadang saya mikir emang ada ya orang yang jatuh cinta masih berbuat wajar?
Mantra Jaran Goyang adalah bagian dari sastra lisan yang tumbuh subur dikalangan masyarakat Banyuwangi yang lebih dikenal dengan santet. Ini poin penting. Santet bukan ilmu yang menyakiti atau membunuh seperti layaknya ilmu hitam. Kata santet menjadi negatif setelah ada kasus pembunuhan dukun santet secara besar-besaran di wilayah Jawa Timur pada akhir tahun 1990-an. Saya nggak mau bahas itu dicatatan ini karena menyakitkan bagi sebagian orang. Jadi catatan ini sekalian meluruskan tentang apa makna santet sesungguhnya drai pandangan Suku Using.
Santet adalah akronim dari mesisan ganthet (sekalian bersatu) atau mesisan benthet (sekalian rusak). Pada jaman dulu, mantra Jaran Goyang dirapalkan oleh pihak keluarga untuk anaknya agar mau menikah dengan orang yang sudah dijodohkan. Nah dalam tahap ini santet yang berlaku adalah santet akronim mesisasn ganthet, untuk menyatukan. Tapi jika sang anak sudah memilih pasangannya sendiri, maka disini santet yang berfungsi untuk memisahkan digunakan. Perjodohan ini penting untuk menjaga garis keturunan masyarakat Using. Secara jaman dulu pasca perang Puputan Bayu, masyarakat Suku Using terpencar kemana-mana. Agar tetap jelas garis keturunannya maka mereka menikah dengan di jodohkan dengan kerabat agar garis keturunan tidak tercampur dengan suku lain.
Fungsi mantra Jaran Goyang pun akhirnya melebar bukan melulu tentang menikahkan pasangan,namun masih tetap di lingkup asmara. Jauh sebelum ada lagunya mbak Nella Kharisma, sudah booming juga Lagu Jaran Goyang yang dipopulerkan mbak Adistya dengan bahasa Using diawal tahun 2000-an di album Patrol Orkestra Banyuwangi. Atau tari Jaran Goyang yang pertama kali ditarikan pada tahun 1966 oleh penari Darji dan Parmi dari Lembaga Kesenian Nasional milik Partai Nasional Indonesia yang ada di Kecamatan Genteng. Konon pasangan Darji dan Parmi akhirnya menikah. Ah Tuhan. Semoga saya bisa dipertemukan mereka berdua. Tarian Jaran Goyang kemudian dikembangkan oleh Pak Mitro seniman tari dari Mangir Rogojampi dan juga dikreasikan Om Bahri dengan Tari Jaran Goyang Aji Kembang. 
Tari Jaran Goyang yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan namun ditolak. Lalu sang laki-laki merapalkan mantra Jaran Goyang dan melempar bunga ke sang perempuan. Finish. Endingnya mereka saling jatuh cinta. Menikah.
So. Buat kamu jangan pernah main-main dengan mantra Jaran Goyang karena ending ceritanya adalah pernikahan. Jika kamu cuma buat mantra Jaran Goyang cuma buat iseng-iseng, ya sudah terima sendiri nasibmu nanti. Bukannya nakut-nakuti. Buat saya cinta itu bukan buat uji coba.
Oh ya. Jika ada yang tanya apakah saya bisa mantra Jaran Goyang dengan tegas tentu saya jawab “yes aku hapal diluar kepala bahkan”. 
Sederhananya kita akan bisa mengatakan rujak soto enak dan menuliskannya secara detail rasa dan bagaimaa cara membuatnya setelah kita benar-benar membuat dan makan rujak soto. Semacam itu ketika saya menulis catatan ini.
Jika ditanya apakah saya pelaku atau korban dari Jaran Goyang, mungkin saya hanya akan menjawab hahahahaha……
Percayalah. Cinta sejati itu turunnya dari hati. Nggak usah ngoyo. Nggak usah pake ilmu-ilmu macam itu kalau cuma buat buktikan bahwa kamu keren karena bisa dapatkan pasangan dengan cara ‘rebutan’. Kalau saya mah penganut kepercayaan kalau cinta nggak akan kemana. Dia akan bertahan. Bertahan bersama-sama.Jika hanya satu yang bertahan yang sudah lepaskan. Serius untuk pargraph ini adalah curhatan.

“Dan dudidam aku padamu, I love you
I can’t stop loving you oh darling
Jaran goyang menunggumu”

Salam Hokyaaaaaa……
Note:
Foto ini diambil ketika wisatawan asing ikut parade Banyuwangi Ethno Carnival 2017 lalu. Agak nggak nyambung sih sama tulisannya tapi minimal menceritakan jika Banyuwangi ini indah kawan
Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *