Catatan

Januri 2018

Seumur umur baru kali ini ngliat kembang api dalam jarak yang cukup dekat pas malam tahun baru. Biasanya tepat tengah malam udah bobok manis di dalam kamar.
Semalam di Banyuwangi, shalawatan dan yang hadir ribuan orang. Sumpah buat saya ‘kemesar’. Saya ndak tau cocok nya kemesar dalam bahasa Indonesia itu apa.
Dan ending nya ya pesta kembang api ini yang meledak tepat di samping kanan dan kiri saya berdiri. Sumpah mengingatkan saya pas liputan perang-perangan atau pas simulasi penangkapan teroris. Jauh dari perasaan menyenangkan apalagi menenangkan.
Mungkin pesta kembang api dan pengajian sengaja diselenggarakan secara bersamaan dan masyarakat dipersilahkan untuk memilih yang mana.
Saya tidak merayakan tahun baru karena tidak ada hal khusus yang saya siapkan dan saya lakukan pada malam tahun baru tapi saya juga tidak nyinyir dengan menulis status “tahun baru saya bukan 1 Januari tapi blaaa….blaaa…”, karena mau tidak mau saya tinggal di Indonesia yang menggunakan penanggalan Masehi. Secara gaji saya ditransfer setiap pertengahan bulan penanggalan Masehi dan akta kelahiran saya juga tertulis di penanggalan Masehi.
Tahun baru entah Masehi dan Jawa selalu saya jadikan sebagai pertanda waktu apakah saya sudah menjadi pribadi yang lebih baik lagi atau bukan.
Kembali ke kembang api. Saya pernah ikut EO untuk sebuah pagelaran biasa saja dan angka pengeluaran buat kembang api untuk 10 menit cukup fantastis bagi saya. Saat itu saja cukup buat beli dua sepeda motor baru. Tapi mungkin bagi panitia ah sekalian menyenangkan orang lain juga nggak apa apa. Saat itu saya hanya mbatin, Eman tapi ya sudah dianggarkan. Bagaimana lagi.
Hal kedua yang saya pikirkan adalah bagaimana keadaan langit di dunia tadi malam? Ledakan luar biasa dalam waktu bersamaan mau tidak mau akan merubah kualitas udara malam tadi. Saya hanya mikir tapi tidak tau harus bagaimana menyikapinya. Hal yang berulang akan menjadi pembenaran.
Merayakan ya sudah rayakan. Dengan catatan tidak berlebihan. Dan berlebihan ini tentunya masih masing orang punya standar yang beda beda. Ndak bisa disamaratakan
Selamat siang wahai kaum yang tidurnya diatas jam 3 malam
Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *