Catatan

Jangan main main sama Ijen ya dek…

Rabu 21 Maret 2018

Sekitar jam 7 malam, saya mendapatkan kabar jika Gunung Ijen mengeluarkan gas beracun dan ada dua orang yang di evakuasi ke Puskesmas Sempol Bondowoso yang sekarang berganti nama Puskesmas Ijen. Saya pikir mereka adalah pendaki yang melewati jalur menuju ke dam yang tidak terbuka untuk umum.

Namun semakin malam, informasi yang masuk semakin simpang siur. Hingga akhirnya jelang tengah malam saya mendapatkan konfirmasi jika Gunung Ijen mengeluarkan gas beracun. Ratusan orang dikabarkan mengungsi. Dan kelak saya mengetahui jika ada 3 dusun dengan total sekitar 200 jiwa yang mengungsi menuju ke Kecamatan Ijen. Mereka berasal dari Watu Capil, Margahayu, Kali Pait, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur

Fix!! malam ini pendakian yang seharusnya dibuka jam 1 dini hari dinyatakan ditutup.

Dan saya agak ragu ketika mendapatkan informasi jika Menteri Pertanian pada Kamis (22/3/2018) akan panen bawang putih di lereng Gunung Ijen arah Kabupaten Banyuwangi. Serius? Baiklah. Kondisinya aman untuk wilayah Banyuwangi.

Saya jadi ingat moment seorang menteri mengatakan bahwa Bali baik-baik saja ketika Gunung Agung akan meletus. Dan mengatakan hal tersebut di Pura Besakih yang masuk zona merah dan semua warga di sekitarnya mengungsi. Mungkin jika mengatakan hal tersebut di Pantai Kuta tak akan menjadi sorotan banyak pihak.

Kamis 22 Maret 2018, saya dan beberapa kawan memutuskan untuk datang e Pos Pantau Gunung Api Ijen di Jambu Llicin sebelum memutuskan ikut ke acara menteri. Saya yang berbagi tugas dengan kawan dari Jember yang diminta untuk backup Bondowoso karena tidak memungkinkan saya untuk mendaki hari itu juga.

Pak Heri, penjaga pos pantau Gunung Api Ijen menjelaskan gas beracun tersebut muncul dari bualan atau letupan di Kawah Ijen yang membawa materi gas dan membuat warga Bondowoso keracunan gas muncul selama 938 detik atau sekitar 15 menit pada Rabu (21/3/2018) pukul 19.13 WIB.

Letupan tersebut kemudian menghantam tebing pinggiran kawah sehingga mengeluarkan suara cukup keras semacam ledakan. “Suara tersebut didengar oleh para penambang yang saat itu ada di sekitar kawah dan mereka melaporkan kepada kami,” ujar Bambang Heri Purwanto Kepala PVMBG Gunung Ijen.

Ia menjelaskan, selama dua hari terakhir, jumlah gempa vulkanik dangkal meningkat antara 11-22 kali. Bahkan sejak Kamis 22 Maret 2018 tengah malam hingga 22 Maret 2018 pukul 08.00 WIB, gempa vulkanik dangkal terjadi 12 kali. Padahal, normalnya hanya 2-4 kali.

Saya berpikir ini bukan main-main. Ini gas beracun yang benar-benar berbahaya. Saya tahu bahwa setiap gunung punya karakteristiknya masing-masing dan berbicara Guungg Ijen maka gas beracunnya itulah yang perlu diwaspadai. Saya tidak tau bagaimana kacaunya malam itu jika gas yang sama mengarah ke arah timur yang berarti ke Banyuwangi dan banyak pendaki malam itu.

Jumat, 23 Maret 2018

Pagi hari saya memutuskan ke Paltuding Ijen dan menuju langsung ke Sempol. Saya janjian dengan Friska, kawan jurnalis dari Bondoowoso. Pendakian yang agak nekat karena saya seorang diri dari Banyuwangi dan jalur yang dilewati licin karena embun dan sangat ekstrik dengan tanjakan dan turunan yang curam. Sepanjang jalan saya hanya berdoa agar Allah melindungi perjalanan saya pagi itu. Memilih perjalanan pagi, karena gas beracun akan cepat terurai oleh sinar matahari.

Belum jam 9 pagi saya sudah sampai di Paltuding Ijen. Tempat terakhir berisitirahat sebelum melakukan pendakian. Hari itu, beberapa spanduk larangan pendakian sudah dipasang di beberapa titik. Beberapa petugas juga telah berjaga. Beberapa petugas bercerita betapa kacaunya malam itu.

“Ada seorang yang pingsan di daalam mobil dekat sungai kali pait karena menghirup gas beracun. Untuk mengevakuasi ke Sempol kami harus menggunakan gas oksigen,”kata seorang petugas.

Friska datang ke Paltuding. Kami mengambil beberapa foto di sana lalu menuju ke tempat wisata kalipait yang hebatnya adalah masih dibuka!!! Petugasnya menutupi wajahnya dengan masker ketika kami mengambil gambar Kalipait dari jauh.

Iya. Gas beracun yang pekat ini mengikuti aliran kalipait dan lembahnya hingga menuju ke pemukiman warga. Saya pribadi merasa miris ketiga penjaganya mengatakan kondisinya aman. Membayangkan jika gas itu masih ada disana dna terhirup oleh masyarakat wisatawan yang datang.

Saya dan Friska menggunakan masker khusus di area tersebut. Kami menyadari bahwa keselamatan kami nomer satu dan tidak akan pernah mau main-main dengan hal yang satu tersebut.

Dengan dua motor kami turun ke Sempol. Pemandangan berbeda kami temukan sepanjang jalan. Tanaman kubis menguning dan daunnya mengering. Hampir 700 hektar ladang kunis rusak dan terancam gagal panen. Ladang tersebut berjarak 200 hingga 300 meter sebelah kiri dan kanan lembah kalipait sejauh 7 kilometer.

Kami menemui para petani yang tertunduk lesu dan dengan sedikit harapan menyelamatkan tanamannya. Paling tidak mengembalikan modal mereka. Untuk satu hektar, saat menanam membutuhkan dana hampir 10 juta lebih. Ada juga petani yang memilih memanen awal agar ruginya tidak lebih banyak.

Kami melanjutkan perjalanan kembali ke Watu Capil. Seorang nenek menangis bercerita kejadian malam itu. “Seperti kiamat.Mata saya panas, susah bernafas dan semua orang berhamburan lari ke jalan. Rumah rumah tidak ada yang ditutup. Ditinggal begitu saja. Bahkan anak saya pun lari lebih dulu. Saya di tinggal,” ceritanya sambil menangis.

Semalaman dia tidur di masjid bersama warga lainnya di masjid Sempol tanpa membawa uang dan baju ganti. “Lapar takut semuanya jadi satu. Saya nggak berani pulang,” katanya. Dia sendiri baru pulang pada Kamis sore. “Tadi malam saya nggak bia tidur. Hari ini juga nggak kemana-mana. Trauma. Baru kali ini saya mengalami hal ini,” katanya.

Dan akhirnya kami tiba di Sempol dan singgah di rumah Pak Sinder yang kemudian sedia menampung saya untuk menginap semalam.

Iya saya memilih menginap karena tidak memungkinkan saya pulang malam hari. Selain kondisi jalan yang berbahaya untuk perjalanan malam. saya khawatir jug bualan kembali muncul malam hari, karena salah satu penyebab bualan adalah intensitas hujan yang cukup tinggi sehingga permukaan kawah menjadi dingin.

Saya menyadari bahwa bahaya bencana alam itu selalu datang mengancam.

Akhirnya saya ingat ketika akhir 2017 lalu saya menginap di Paltuding Ijen. Ada serombongan anak muda yang mendaki hanya menggunakan sandal jepit, celana jeans dan jaket seadanya. Bahkan sambil cekikikan mereka bilang,”Halah nggak usah lebay pake masker apaan sih. Ribet. La cuma naik ke Ijen,” kata mereka sahut-sahutan.

Saya disebelahnya saat itu hanya menghela nafas lalu lewat depan mereka sambil berpesan hati-hati jika gas beracun muncul. “Kalian harus banyak baca berita, banyak yang meninggal di atas sana. Jangan macam-macam,” kata saya sambil berlalu.

Saya tidak peduli dengan raut wajah mereka saat itu. Pendaki-pendaki macam ini yang kadang buat emosi.

Pro dan kontra dari tulisan yang saya buat pasti ada.

Namun yang penting adalah, fakta itu ya fakta.

Kami menulis fakta. Fakta pada tahun 1976, 6 orang meninggal karena bualan, atau letupan yang mengeluarkan gas beracun dari kawah gunung Ijen dan 32 orang koma karena penyebab yang sama. Fakta bawa Rabu (22/3/2018), ratusan orang di evakuasi dan mengevakuasi diri karena gas beracun yang turun hingga ke tiga dusun yang membuat mereka kesulitan bernafas dan takut mati.

Kami tidak melebih lebihkan fakta yang ada di lapangan. Pekerjaan kami mengharuskan kami menulis yang ada tidak mengada-ada.

Salam dari kaki Gunung Ijen.

Dari saya dan Friska

‘bersambung’

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *