Kuliner, Traveling

JANGAN LEROBAN SAMBEL BLOTONG

: bertahan atau terlupakan

Beberapa hari lalu, saat ke Licin, Ratih menawari saya sarapan Jangan Leroban, sambel blotong. Saya mengiyakan. Saat mencicipinya rasanya sama dengan masakan emak saya dulu saat masih kecil. Saya baru sadar jika yang dimasak emak dulu namanya Jangan Leroban

“Kadung hing nglentik yo hing nggawe jangan leroban mbak,” kata Ratih.

Jangan leroban tidak menggunakan santan tapi menggunakan air dari sisa santan yag dipanaskan saat membuat minyak kelapa atau dikenal minyak klentik. Ampasnya yang gurih berwarna coklat disebut blotong.

Tidak perlu bumbu khusus, hanya gula garam,lengkuas dan batang serai serta lombok utuh. Tapi jangan lupa Daun Singkil yang fungsinya sama dengan daun salam sebagai penyedap rasa. Dimasukkan,dimasak dengan sayur sayuran seperti jantung pisang muda dan pakis.

Sumpah. Rasanya istimewa.

Dulu emak saya sering buat minimal sebulan sekali saat panen kelapa. Emak membuat minyak klentik yang dicampur dengan daun mangkokan, kembang kembangan untuk cem cemam rambutnya dan juga rambut saya. Agar hitam dan cepat panjang. Minyak klentikan dengan aroma khas melekat diatas bantal

Saya tidak menyangka jika sisanya juga bisa buat makanan yang istimewa. Mencicipi jangan loroban semacam kembali ke masa kecil.

Dari obrolan dengan beberapa orang, jangan loroban adalah kuliner khas suku Using Banyuwangi. Jauh lebih dulu dibandingkan dengan rujak soto, sego tempong dan pecel rawon yang baru muncul sekitar tahun 80 an.

Sayangnya, jangan loroban terlalu ndeso untuk tampil muka publik. Kalah populer karena pembuatannya rumit dan tidak praktis. Tidak bisa instan. Harus nglentik dulu yang membutuhkan proses berjam jam.

Jangan Leroban harus bertahan ditangan pewaris kuliner Using Ya. Bertahan atau terlupakan.

Beruntunglah saya sempat menulisnya. Siapa tau nanti kuliner Jangan Leroban ini sudah benar benar hilang dan tinggal kenangan

 

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *