Kuliner, Traveling

Jangan Kesrut Banyuwangi, Sup atau Soto?

Jangan Kesrut terenak yang pernah saya makan adalah di Desa Alas Malang Singojuruh hampir 17 tahun yang lalu. Saat itu ada perayaan Kebo keboan dan saya disuguhi Jangan Kesrut yang isinya adalah ceker, kepala dan leher ayam. Saat saya tanya, emaknya cuma bilang bumbu sambel terus dikasih belimbing.

Noted! Pulang saya langsung masak dengan resep serupa tapi zonk!!! Rasanya nggak karuan.

Jangan Kesrut adalah salah satu makanan khas Using yang saya sukai. Di beberapa desa sudah saya cicipi tapi belum menemukan rasa sederhana tapi intens seperti yang saya cicipi di Desa Alas Malang. Bahkan pernah di sebuah warung, Jangan Kesrut yang disajikan full rempah sehingga kuahnya jadi pekat seperti jamu.

Rasa Jangan Kesrut pedas asam yang berasal dari belimbing. Namun ada yang menambahkan kecombrang atau asam sunti atau asam wadung. Boleh juga menggunakan asam Jawa, namun kuahnya akan keruh tidak bening kemerahan yang berasal dari cabai yang dihaluskan. Jangan Kesrut berisi tulangan ayam kampung, ataupun bagian punggung. Pakai daging pun nggak masalah tapi kurang cocok dengan pemberian namanya Kesrut yang diambil dari cara makan yang di sruput dan mengeluarkan suara sruuuttt….. Sebagian ada juga yang menggunakan kikil kambing atau juga sapi. Hanya saja kolagen dan tulang lunak di bagian kaki membuat kuahnya sedikit berlendir dan padat lemak.

Nah sekarang pertanyaannya Jangan Kesrut termasuk sup atau soto?

Sup dalam KBBI berarti masakan berkuah dari kaldu yang diberi bumbu pala, lada dan sebagainya, ada berbagai macam seperti — sayuran,– jagung, –buntut.

Nah jika soto dalam KBBI berarti masakan yang kuahnya dimasak tersendiri dan rangkaian isinya antara lain daging, kentang, bawang goreng yang di masukkan kemudian pada waktu akan dihidangkan.

Jadi intinya adalah jika sup semuanya dimasak menjadi satu tapi jika soto ada isiannya yang dimasak terpisah.  Mungkin untuk jelasnya adalah sup ayam dan soto ayam. Untuk sup ayam semua isiannya dimasak dalam satu kuali, berbeda dengan soto ayam yang isinya lebih kompleks dan ayamnya masih harus digoreng sebelum disuwir menjadi lebih kecil.

Namun jika ada yang menemukan sup kaki di wilayah Jakarta, nah ini kuliner ambigu karena walaupun sup tapi karakternya soto.

Jadi inti catatan ini, hanya sebuah kesimpulan bahwa Jangan Kesrut ini adalah jenis makanan sup.

Tahun ini, Jangan Kesrut yang berasal dari masyarakat ‘akar rumput’  naik kelas karena masuk dalam Festival Banyuwangi Kuliner. Mengapa saya sebut naik kelas, karena Jangan Kesrut menggunakan isian tulangan karena harganya murah. Saat itu masyarakat kalangan bawah tidak sanggup untuk membeli daging atau dagingnya untuk juragannya. Berapa banyak kuliner yang dihasilkan oleh masyarakat ‘akar rumput’? Banyak sekali dan salah satunya ya Jangan Kesrut ini. Sayangnya sejarah kuliner Banyuwangi sangat minim sekali bahkan nyaris tidak ada sama sekali. Namun makanan sejenis Jangan Kesrut tersebar di Indonesia sebut saja garang asem ayam,  atau pindang daging yang tetep menggunakan tulangan sapi.

Banyak orang yang suka makan. Suka kuliner tapi tidak tau bahkan malas mencari tahu bagaimana kuliner tersebut terbentuk. Bagi saya makan bukan hanya sekedar kenyang. Ada sebuah ruang penasaran yang harus juga terjawab dari sebuah sajian makanan.

Dan foto Jangan Kesrut ini saya ambil di Alas Malang beberapa minggu yang lalu dipernikahan sahabat saya. Rasanya mirip dengan Jangan Kesrut yang saya nikmati 17 tahun yang lalu di rumah Mamang. Nah sepertinya untuk yang akan ikut Festival Banyuwangi Kuliner tahun ini harus banyak belajar bagaimana membuat Jangan Kesrut yang baik dan benar kepada warga Alas Malang, karena bumbu yang ditumis atau langsung dimasukkan ke dalam kuah bisa membuat citarasa yang berbeda.

Selamat makan…..

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *