Uncategorized

INI TENTANG ALRI 0032 BANYUWANGI

Maret 2013 

Saya semakin tergila-gila dengan
sejarah. Kali ini bukan sejarah klasik tapi kolonial. Tempat yang saya
datangi adalah sebuah pemakaman.

Iya… saya selalu berkata bahwa kuburan itu adalah salah satu tempat yang “keren”

Banyuwangi
mempunyai 2 Taman Makam Pahlwawan. Satu sangat tertata indah seperti
sebuah taman di depan Kantor Pemkab Banyuwnagi. Bahkan dilengkapi dengan
Wifi (konsep yang yang menghilangkan kesakralan. Ke makam buat wifi-an
bukan buat merenung atau apalah namanya itu). Konsep yang aneh ya?

Bangunan yang ada di wilayah Pantai Boom Banyuwangi yang di dominasi
warna putih. Karena dulu saya adalah anggota pramuka dan sempat menjadi
anggota Saka Bahari maka saya selalu mendapat tugas tabur bunga bulan
Agustus di makam itu.

Dulu saya tidak pernah peduli. Upacara,
tabur bunga dan finish……. Walaupun saya sempat berpikir bagaimana
jadinya ada sebuah taman makam pahlawan di pinggiran pantai. Yang saya
tahu setiap wilayah, taman makam pahlawannya ada satu. Bukan dua seperti
di Banyuwangi.

Akhirnya saya menulis ini.

Tidak banyak yang mengenal bangunan berbentuk kapal yang berada di pintu masuk sebelah kanan Pantai Boom Banyuwangi.


Mungkin juga mereka tidak sadar bahwa bangunan yang di dominasi warna
putih itu adalah sebuah kuburan. Atau tepatnya makam pahlawan. Kabupaten
Banyuwangi mempunyai dua Taman Makam Pahlwan. Salah satunya adalah yang
menyelinap di antara rimbunan bakau yang saat ini masuk di wilayah
Kampung Mandar. Kata kawan saya alasannya masuk Mandar karena berada
lepas dari jembatan. Saya butuh pembuktian lagi.

Pasukan ALRI
0032 ini sebagian anggotanya berasal dari pelajar dai Kaigun Kokusyo
Morokrembangan Surabaya (Penerbangan Angkatan Laut pada zaman pendudukan
Jepang di Indonesia) yang setela lulus pendidikan di tempatkan di
Penerbangan Angkatan Laut di Lawang Malang. Setelah Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, terjadi perebutan dna
peralihan kekuasaan dari Jepang ke Indonesia. Anggota Penerbangan
Angkatan Laut baik yang ada di Lawang maupun yang dari Morokrembangan
Surabaya, menggabungkan diri kedalam Badan Perjuangan pemuda Angkatan
Laut dibawah pimpina Letnan Suwarlan.

Pada bulan April 1946
mereka ini diperintahkan oleh Markas Besar Angkatan Laut di LAwang untuk
berangkat ke Jogya guna mengikuti LPTKP (Lanjutan Polisi Tentara
Kementrian Pertahanan) di markas Kementrian Pertahanan RI di
Gondokusuman no 2 Jogjakarta. Selesai mengikuti pendidikan LPTKP selama
kurang lebih 4 bulan, mereka dikembalikan ke Jawa Timur dengan nama
pasukan 0032 TLRI (Tentara Laut Republik Indonesia) di bawah Letnan
Suharto yang markasnya berada di Batu – Malang.

Pada bulan
September 1946 sebagian dari Pasukan ALRI 0032 ini, yaitu yang dari
seksi 3 di bawah pimpinan Letnan Misman diberangkatkan ke Pangkalan –X
Banyuwangi, dengan tugas utama untuk mempertahankan Pelabuhan Banyuwangi
dari ancaman pendaratan agresor Belanda. Pada bulan April 1947 Seksi
-3 pasukan ALRI 0032 ini diganti dengan Seksi-1 Pasukan ALRI 0032 ini
dibawah pimpinan Letnan Sulaiman yang susunan seksinya adalah sebagai
berikut. Komandan Seksi 1 : Letnan Sulaiman Komandan Regu 1 : Serna
Aspangkat Komandan Regu 2 : Serma Pudjiardjo Komandan Regu 3 : Serma
Wasito Komandan Regu 4 : Serma Ippin Sugeng Bintara staff : Serma Y.
Basri Wakil Komandan Regu 1 : Sersan Ahmad Adji Wakil Komandan Regu 2 :
Sersan Suparmak Wakil Komandan Regu 3 : Sersan Sirus Wakil Komandan regu
4 : Sersan Sutjipto


Dan 44 orang anggota pasukan ALRI 0032 lainnya
 
Tahun Juli 2947, tanda-tanda pasukan Belanda akan melakukan pendaratan
di pantai Banyuwangi terlihat dari banyaknya perahu layar yang mendekati
di wilayah dekat Watu Dodol, Meneng, ketapang, Sukowidi, Banyuwangi dan
sebagainya. Pos pos pertahanan 21 Juli 1947. Pasukan Belanda
mengadakan aksi polisionil pertama kali menjelang matahari terbit. Suara
tembakan dari pelabuhan Banyuwangi. Demikian juga di wilayah
pantai-pantai lainnya di sekitar Banyuwangi

Pos-pos pertahanan
yang berada di sebelah utara Pelabuhan Banyuwangi, seperti Gunung
Remuk, Watu Dodol, Meneng, Ketapang dan Sukowidi mengundurkan diri masuk
ke pedalaman untuk meneruskan perlawanan dengan perang gerilya.

Pasukan ALRI 0032 maupun yang dari Pangkalan X yang bertugas
mempertahankan pelabuhan Banyuwangi mendapat perintah dari Markas Besar
ALRI di Lawang untuk segera mengundurkan diri. Namun perintah menarik
diri di tolak Letnan Suleman. Jam 3 sore. Secara tiba-tiba pasukan
Belanda menyerang pasukan ALRI 0032 dari arah Kota Banyuwangi. Namun
oleh pasukan ALRI 0032, serangan tersebut di duga di lakukan jaringan
TRI yang ada di asrama Inggrisan, yang mengira pasukan ALRI adalah
pasukan Belanda yang sudah mendarat di pelabuhan.

Saat itu
Komandan Regu-2 Serma Pudjiardjo langsung naik ke atas tempat
perlindungan memegang bendera kecil merah putih di kedua tangannya
sambil berteriak: “Jangan tembak Bung, teman sendiri”. Namun tembakan
itu tidak berhenti.

Lalu Letnan Suleman menelpon ke pasukan
ALRI yang ada di Sukowidi kurang lebih 3 km sebelah utara pelabuhan
Banyuwangi, ternyata yang menerima telpon justru pasukan Belanda. Dan
ternyata pasukan TRI yang ada di asrama Inggrisan telah mundur dan
dikosongkan tanpa sempat memberitahukan pasukan ALRI 0032 yang berada di
pelabuhan Bnayuwangi. Lalu akhirnya terjadi pertempuran tidak seimbang
antara pasukan ALRI 0032 dengan Belanda.

Pertempuran
mencapai klimaks saat kedua pasukan tersebut hanya berjarak kurang dari
150 meter. Dan pertempuran berlangsung kurang lebih selama 1 jam. Saat
kehabisan peluru, Letnan Suleman memerintahkan anggotanya menyebrangi
sungai sebelah selatan pelabuhan. Pelabuhan Banyuwangi atau Pelabuhan
Boom merupakan delta atau semacam pulau kecil di depan muara sungai yang
dikelilingi laut. Sore itu laut sudah pasang. Hal itu membuat pasukan
ALRI mengalami kesulitan membebaskan diri. Hal tersebut mempermudah
pasukan Belanda membunuh mereka.

Yang lolos dari maut dalam
pertempuran sebanyak 21 orang dan seorang dari Polisi Tentara laut
Pangkalan X. Dan mereka di tangkap hidup-hidup di bawa ke pos penjagaan
sebelah utara asrama pasukan AL 0032. Setelah disiksa, pada pukul 18.30
semua pasukan yang ditangkap di giring ke tepi laut sebelah selatan
asrama dan dihabisi dengan cara ditembak.

Namun sebelum hukuman dijatuhkan Letnan Suleman sempat protes minta supaya

1. Diperlakukan sebagai tawanan perang sesuai dengan hukum Internasional
2. Diberi kesempatan untuk menaikkan Sang Saka Merah Putih
3. Menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya
4. Memekikkan “Merdeka” tiga kali.

Keempat permintaan ini tidak digubris, tapi malah diperintahkan tangan
ditaruh di belakang adan kemudian diikat dengan tampar bekas tali
kelambu asrama. Di gandeng memanjang dengan posisi duduk membentuk tapal
kuda. Dan mereka gugur ……

Pada tahun 1950 Presiden
pertama RI Bung Karno telah menyempatkan diri untuk berziarah ke makam
Pasukan ALRI 0032 ini dan beliau berkenan pula membubuhkan prasasti
dengan tulisan tangan beliau sendiri berbunyi: “Hormatku Padamu
Pahlawan” serta beliau tanda tangani dibawahnya.

Membaca dan
menulisnya kembali membuat saya yang lahir di kemerdekaan berpikir. Apa
yang sudah saya lakukan untuk Indonesia?

Oh ya.. ada tambahan tulisan kawan saya Ika Ningtyas. Masih ttg penyerbuan 0032 ini.

Serangan Belanda ke Banyuwangi melalui Pelabuhan Boom dalam sejarah
nasional kita kenal sebagai Agresi Militer Belanda I. Perselisihan
pendapat akibat perbedaan penafsiran dalam melaksanakan Perjanjian
Linggarjati menimbulkan konflik antara Indonesia dan Belanda. Pada
tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengeluarkan nota berupa ultimatum yang
harus dijawab pemerintah Indonesia dalam waktu 14 hari, karena tidak
mencapai kesepakatan terhadap nota tersebut maka pada tanggal 21 Juli
1947, tengah Malam Belanda melancarkan serangan keseluruh daerah
republik Indonesia.

Sayangnya di sejarah nasional, Banyuwangi
tidak pernah disebut sebagai daerah yang mendapat serangan Agresi
Militer. Pasukan-pasukan belanda bergerak ke Jakarta dan Bandung untuk
menguasai Jawa Barat, dan dari Surabaya untuk menguasai Madura dan
wilayah Jawa Timur, serta satu pasukan lagi untuk memduduki Semarang. Di
Sumatra pasukan Belanda berusaha menguasai perkebunan-perkebunan
disekitar Medan. Instalasi minyak dan batubara di Palembang dan
sekitarnya juga diserang dan dikuasai.

Padahal Banyuwangi
menjadi salah satu daerah yang diserang Belanda setelah Surabaya.
Belanda perlu melumpuhkan wilayah Jawa Timur di bagian selatan dengan
terlebih dahulu menaklukan Banyuwangi. Besarnya peranan pasukan ALRI
0032 untuk menghadang Belanda di Banyuwangi mendapat perhatian serius
dari Presiden Soekarno, sehingga dia datang tahun 1950 untuk meresmikan
makam pahlawan 0032.

Ini adalah salah satu pentingnya
penggalian sejarah lokal. Saya berharap para guru sejarah di SMP-SMA
bisa mengajak siswa-siswanya ke makam ini dan Pelabuhan Boom ketika
menjelaskan materi Agresi Militer Belanda 1. Sehingga pelajaran sejarah
tak sekedar dongeng…..

Mari belajar mencintai Indonesia…. mencintai Banyuwangi…..

Tagged

1 thought on “INI TENTANG ALRI 0032 BANYUWANGI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *