Uncategorized

INI CINTA ZAINAB DAN HUSAINI

“Raa. Ada perempuan berusia yang 75 tahun menikah dengan lelaki yang masih umur 20 tahun”

Saya menunggu pasangan itu di depan sebuah kedai di wilayah Glagah.
Pemilik kedai bercerita pasangan itu sudah menikah 4 tahun. Mereka
selalu berdua kemana-mana. “Kadung lare nom saiki yo kalah – kalau anak
muda sekarang yang kalah”, jelas pemilih kedai saat menceritakan
keromantisan pasangan tersebut. Pernah,
pasangan itu memesan satu porsi nasi lalapan, tapi karena kasihan
pemilik kedai memberikan dua porsi. Lagi-lagi pasangan itu menolak dan
tetap makan satu piring untuk berdua.

Saya penasaran Saya menunggu pasangan itu.

Jam 5 sore sudah senja. Seorang perempuan tua dengan lelaki lebih muda.
Saya yakin ini adalah pasangan yang saya tunggu. Sama-sama memakai baju
warna biru yang kusam. Saya terenyuh. Dari penampilannya, perekonomian
mereka sangat memprihatinkan.


Kami ngobrol. Bukan wawancara.
Mereka menceritakan pertemuan mereka yang singkat hingga memutuskan
menikah. Pertemuan di sebuah warung saat lelaki membeli lombok untuk
masak, ketika laki-laki datang ke rumah perempuan yang sudah punya dua
cicit dengan alasan membantu membetulkan sumur. Hingga menikah dan
memutuskan tinggal bersama dengan berjualan kacang rebus di wilayah Gor
Tawang Alun. Berjalan kaki berdua atau terkadang menggunakan sepeda
kumbang seperti sore itu.

Dengan menggunakan bahasa Using,
perempuan itu bercerita ia sangat mencintai suami yang lebih pantas
menjadi cucunya. Sang lelaki juga bercerita ia mencintai istrinya.
“Cantik, muda tidak menjamin kebahagiaan,” katanya. Saya gugup dan
menyeruput kopi di depan saya.

Saat saya tanya maukah saya
traktir makan sore itu. Mereka menolak. Ternyata mereka sudah janjian
dengan anak bawaan perempuan yang telah menikah dengan warga asing.
“Janjian jam 4 tapi sampai jam setengah 6 kok belum datang ya. Kalau
anak saya datang biasanya saya diajak makan-makan disini. Katanya ini
masih mandi,” katanya.

Tidak lama kemudian mobil datang.
Perempuan dengan baju mewah turun dengan laki-laki berkulit putih. Saya
terenyuh.”Iku anak isun,” bisiknya. Duh Gusti…… Dua dunia yang
berbeda dan saya tidak percaya jika perempuan yang berbaju mewah itu
lahir dari rahim perempuan dihadapan saya yang menggunakan sandal jepit
dengan ujung diberi peniti.

Saya mundur perlahan. Merobek-robek catatan saya. Buat saya ini tidak adil.

“Donyo hing njamin siro biso seneng ta using. Isun welas nyang rabinisun,” bisiknya ke telinga saya.

Saya menahan air mata. Memilih kembali menikmati laptop dan
catatan-catatan saya. Dari jauh saya melihat pasangan beda usia itu
duduk dipojokan lesahan. Sang istri memijat kaki suaminya sambil
menunggu pesanan makanannya datang, dengan sesekali membetulkan anak
rambut suaimya. Sedangkan disisi lain perempuan dengan lelaki asing
asyik dengan gadgetnya masing-masing.

Menghela nafas. Cinta. Sesederhana cinta Zainab dan Husaini. Saya ingin menua bersama.

Banyuwangi, 31 Maret 2014
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *