Uncategorized

INDEPENDENT DAY EVERYDAY

“Raa…..
bawahan hanya menurut perintah atasan. Jika atasan bilang X maka
bawahan harus patuh. Walaupun melakukan perintah yang jelas-jelas
merupakan tindakan manipulasi. Apalagi kalau tidak menyenangkan
pimpinan”

Bicara sambil mengacungkan teunjuknya di hadapan saya.

Saya diam dan misuh-misuh dalam hati. Merekamnya dalam memori saya dan mempengaruhi alam bawah sadar saya untuk menolaknya.

Dia telah menunjukkan dirinya sebagai manusia kecil yang tidak akan pernah berkembang menjadi manusia.

“Teman-teman mu juga melakukan hal yang sama. Apa susahnya kamu juga mengikutinya. Ini sudah sistem”

Saya menggigit ujung bibir saya. Saya bukan alat yang harus di
fungsikan sebaik-baiknya untuk kepentingan mereka. Sebagai alat mereka
tidak akan pernah menjadi pemimpin yang baik.

Mudah sekali
merasionalisasikan kepengecutan sebagai bentuk kepatuhan.
Merasionalisasikan kemalasan sebagai bentuk kesulitan ekonomi.


“Siapa kamu?”
Mereka menjawab, saya bekerja di X. Saya anggota partai X. Saya anggota LSM X. Saya mahasiswa di universitas X.

Mereka yang hanya patuh pada instruksi yang mengikat. Sedang saya
selalu protes dengan pengetahuan dan pengalaman saya yang terbatas.

‘Kita ini cuma pegawai rendahan. Kalau di suruh jalan, ya kita jalan. Di suruh nunggu, ya kita nunggu”

Jawaban dari seorang manusia yang telah patah semangat. Seperti jaman
Jepang. Saat Jepang mau lewat semua jalan di tutup. Ah… Raa. Kau lupa.
Sekarang pun masih berlaku jaman Jepang. Bupati datang saja semua jalan
tikus di tutup. Ingat kemarin kamu jatuh karena hampir di serempet
mobil yang katanya mengawal Bupati dan Sang Menteri. Sedangkan bagian
keamanan langsung pergi begitu saja tanpa peduli lalu lintas yang
semrawut gara-gara mereka yang katanya pejabat itu lewat.

Beberapa hari saya menjadi manusia autis yang asyik dengan pikiran saya
sendiri. Memikirkan keputusan-keputusan yang dianggap konyol bagi orang
lain. Membenarkan yang dianggap salah oleh orang lain. Saya tahu
kemungkinan saya salah bertindak. Tapi itu lebih baik dibandingkan saya
diam. Tidak bertindak karena takut salah.

Siapa kamu Raa?

Saya adalah manusia dan bukan alat siapapun. Bergerak bukan karena
intruksi yang selalu di jadikan alat pembenaran. Bergerak sebagai
manusia

Terkadang saya bertanya kepada orang yang saya temui, “siapa anda?”
“Saya adalah anggota partai X. Kebenaran di tentukan oleh DPP”
“Saya adalah pegawai di X. Disini tidak butuh orang pintar. Tapi hanya
butuh orang bodoh yang mau disuruh jalan sambil berjongkok”

Mereka lupa bahwa mereka adalah manusia.

Saya terlalu banyak bicara.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *