Uncategorized

HIATUS

Prolog
: saya seharusnya membaca pesan itu 8 jam yang
lalu setelah kamu menulisnya. Bukan saat sekarang saat kamu berada di hadapan
saya. Saya tiba-tiba saja membenci diri saya sendiri. Tidak bisa membuat dirimu
nyaman di sebelah saya. Setelah saya pikir bahwa saya telah memberikan yang
terbaik untuk dia. Paling tidak jika saya membaca nya 8 jam yang lalu, saya
sudah mempersiapkan diri bagaimana saya harus bertemu kamu. Dan tidak
menunjukkan genangan air saya nyang sudah mengumpul di balik kaca mata saya. Ah
Untungnya kamu langsung pergi dari hadapan saya. Hingga akhirnya saya bisa puas
menulis catatan-catatan saya dengan air mata saya
 ***


Ibu saya menghabiskan banyak waktu untuk
mendidik saya menjadi perempuan. Ya…benar-benar perempuan! bukan perempuan
yang pasrah pada nasib dan hanya menangis meraung-raung jika kehilangan. Dan
itu bukan lagi masa-ku. Ibu ku menghabiskan waktu bertahun-tahun mendidikku
menjadi perempuan biasa yang taoi berusaha menjadi tidak biasa. Bahkan sampai
ibuku meninggal pun dia tetap melatihku menjadi perempuan yang mmapu bertahan
dalam keadaan apapun. Saat ibu ku meninggal dia memberikan ribuan pertanyaan
yang harus aku jawab satu persatu. Dan jika aku berhasil menjawabnya, aku
diharuskan mencontrengnya dengan nafas lega. Hari ini aku buka kembali
pertanyaan-pertanyaan yanng harus aku jawab di atas bukit. Aku baru menyadari
bahwa contrengan yang aku tandai masih dalam kategori sedikit. Belum apa-apa!
bahkan belum seperempatnya. Aku terrtawa lirih sendiri di bukit itu siang ini.
Lalu apa yang telah aku lakukan selama ini? hanya menyesal….protes pada Tuhan
tentang hidupku yang tidak pernah aku anggap aku adil?

Jika bukan karena ajaran ibuku. Mungkin hari ini
aku akan menangis sejadi-jadinya. Menampar dirimu. Mencaci maki, atau mungkin
membunuh dirimu. Tapi jika aku lakukan juga lalu apa gunanya ibu mengajariku
menjadi perempuan yang perempuan. Pesannya…..”Jika marah maka marah lah
dengan cantik”. Walaupun mungkin saya tidak cantik tapi paling tidak saya
tidak perlu marah besar seperti orang kesetanan. Saya bukan anak kecil yang
akan marah-marah hanya karena tidak bisa memiliki sebuah permen. Ya….saya
belajar untuk menjadi perempuan yang benar-benar perempuan. Perempuan
dewasa……
Hiatus….jeda…..mungkin itu yang akan
saya lakukan. Setelah berbulan-bulan saya dipermainkan dengan perasaan konyol
yang membuat saya menjadi perempuan bodoh. Mengkosongkan kembali pikiran saya.
Perasaan saya. Hati saya. Dan saya yakin bisa. Walaupun hal tersebut bukan hal
yang mudah bagi saya untuk melewatinya seorang diri.
Hiatus bukan berarti aku akan mengurung diri
dalam kamar. Hiatus bukan berarti aku berhenti menulis dan beraktifitas. Saya
hanya ingin dengan satu jentikan jari semua yang ada dalam diriku kosong
melompong. Dan aku akan kembali menata nya satu persatu. Membuang
pecahan-pecahan hati yang membuat saya tersayat-syat dan tersikas selama
berbulan-bulan.
Lalu apakah aku akan menyesal dengan keputusan
yang telah aku ambil dalam beberapa bulan lalu? saya jawab TIDAK! tidak pernah
saya menyesal. Saya malah mengucapkan terimakasih karena keputusan yang telah
saya ambil itu sempat membuat saya bahagia dan sangat bahagia. Selain itu juga
mengajarkan banyak hal pada saya. Melatih kesabaran, emosi saya dan membuat
saya menjadi seorang perempuan yang benar-benar perempuan.
Saya sempat mebaca sebuah catatan. Kalau tidak
salah seperti ini:
 Cinta yang belum matang berkata:
“Aku cinta kamu karena aku butuh kamu”
Cinta yang sudah matang berkata:
“Aku butuh kamu karena aku cinta kamu”
 Ya…saya berharap cinta saya adalah cinta
seorang perempuan yang sudah matang. Ya….aku membutuhkan mu karena aku
mencintai kamu. Bukan karena aku mencintaimu maka aku membutuhkanmu.
Saya akan belajar melepaskannya Karena sebuah
cinta itu membahagiakan bukan menyiksa. Dan saya merasa bahwa cinta yang ada
dalam hati kita adalah cinta yang menyiksa.
Jika kamu merasa tersiksa maka saya akan belajar
untuk melepaskannya agar kamu bahagia……..
 Dan saya akan kembali hiatus dalam dunia
saya. Membahagiakan diri saya sendiri setelah sekian lama saya selalu berusaha
membahagiakan dirimu. Hiatus…….seperti saat saya dalam sebuah kamar yang di
dalamnya hanya ada aku dan kamu. Dulu…….
Sekarang berbicalah dengan tulisanku. Saat
kamu anggap bahwa kita tidak perlu lagi berbicara saat aku mengajakmu berbicara
baik-baik. Saya tahu bahwa kamu adalah orang yang akan berabjak dewasa.
Perjalanan mu masih panjang sayang. Semoga pertemuan kita adalah sebuah langkah
awal membuatmu semakin bisa bertahan.
Kamu mundur…? aku akan tetap berdiam disini.
Memandangmu dari jauh. Dan aku akan tetap mengenggam tanganmu jika kamu
butuhkan. Karena cintaku adalah cinta perempuan dewasa. Cinta tanpa sebuah
tuntutan!
Walaupun saya tetap memilih untuk hiatus!!!!!
 ***
Epilog :
Hidup adalah sebuah catatan-catatan yang
terkumpul. Antara kenyataan dan khayalan. Menulis lah Raa….maka hatimu akan
tenang. Dan saya akan tetap menulis hingga huruf-huruf ini hilang dalam otak
saya. Ada atau tidka ada kamu di samping saya!
Batam, 14 november 2011
Tagged

2 thoughts on “HIATUS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *