Uncategorized

HETARAI DAN PEREMPUAN SANG PEMIMPI

“Perempuan yang sepi hatinya adalah secawan kopi
Perempuan yang sepi, ia minum hatinya sendiri”


Kali ini saya ingin bercerita tentang Hetairai atau pelacur kelas atas
masa peradaban Yunani kuno yang dianggap sebagai sumber renaissans
(kelahiran kembali)di Eropa Barat pada abad ke 15.

Peradaban ini melahirkan sejumlah ahli pikir dan juga memunculkan hetairai. Berbeda dari perempuan Athena lainnya,
Hetairai menduduki posisi lebih tinggi dalam masyarakat. Para
negarawan dan filsuf sangat menghargai mereka karena kecerdasan mereka.

Perempuan pada masa itu mendapat pembatasan. Mereka tidak wajib bisa
membaca dan menulis serta tidak boleh menjadi penjabat pemerintahan
lokal. Bahkan mereka tidak punya hak-hak sipil.

Lalu bagaimana jika perempuan ingin mempunyai posisi tinggi? ia harus menjadi Hetairai.

Hetairai pertama kali di tujukan pada Rhodopis, seorang perempuan asal
Turki yang pindah ke Mesir dan menjadi Hetairai pertama dan terkenal di
kalangan pembesar Mesir.

Untuk menjadi Hetairai seorang
perempuan tidak hanya harus cantik tapi juga harus memahami seni,
filsafat dan politik. Hal itu penting agar ia bisa bergaul dengan
tamu-tamu yang datang. Hetairai harus mahir menari, ahli bermain musik.
Mampu mengimbangi diskusi-diskusi khusus dengan tamu lelakinya.


Beberapa tokoh penting Athena seperti Pericles (orator dan negarawan),
Praxiteles (seniman patung), dan Epicurus (filsuf) mempunyai Hetairai
masing-masing. Hidup Hetairai berbeda dengan perempuan umumnya, bahkan
anak-anaknya mempunyai hak istimewa dari sang ibu. Padahal aturan tidak
memperbolehkan anak di luar pernikahan untuk memperoleh hak politiknya.

Heteirai sebenarnya tidak menginginkan kehamilan dengan tamunya, tapi
mereka sering terlibat secara emosional sehingga memutuskan diri menjadi
seorang selir. Dan saat itu selir mempunyai fungsi sebagai penghasil
keturunan atas persetujuan istri sah.

Hetairai membangun kuil megah yang dipersembahkan kepada Aphrodite – Dewi cinta kecantikan dan seksualitas.

Memasuki abad ke 4 masehi ketika agama muncul, peradapan Yunani Kuni
mulai tenggelam. Heteirai hilang. Mereka dianggap sampah dan kotor.

Lalu bagaimana perempuan sekarang?

Tanpa perlu pengakuan, sampai detik ini makhluk laki-laki masih membutuhkan “Hetairai”.

“Tidak semua laki-laki Raa”

Oke tidak semua laki-laki. Saya sangat sepakat itu dan saya tidak
melakukan penyangkalan. Masih banyak laki-laki yang sangat baik dan
tidak membutuhkan Hetairai atau pun perempuan yang mereka anggap bisa di
beli.

Saya hanya ingin menyederhanakan bahwa lelaki
membutuhkan perempuan-perempuan cerdas untuk mendampingi, bukan hanya
perempuan-perempuan yang dibayar, digunakan lalu ditinggal.

Nama Hetairai sudah menghilang namun profesinya tidak akan pernah di tinggalkan

“Mbak Iraa saya lelah. Saya capek kerja seperti ini”

Saya selalu memonyongkan bibir dan menahan perasaan saya.

“Masih ada stok air mata Raa?”

Saya diam beberapa detik dan mengangguk. Duh Gusti…. ingin saya lesap dalam pelukan dia.

Seperti Hetairai, banyak perempuan-perempuan yang “menjual diri’ hanya
untuk mendapatkan pengakuan posisi dalam lingkungan sosial yaitu
permasalahan ekonomi.

“Jangan sebut aku perempuan sejati jika
hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki
untuk aku cintai. (Nyai Ontosoroh)”

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *