Uncategorized

HEI….. SAYA DI SINI…… BATAM

Dan jangan pernah berpikir kedatangan saya di Batam adalah sebuah kedatangan sederhana saya seperti saya mendatangi kota-kota lain. Butuh keberanian luar biasa ekstra. Mengumpulkan semua nyali dan adrenalin yang telah saya kumpulkan selama 100 hari. Iya…. saya ternyata butuh waktu 100 hari untuk benar-benar berdamai dengan perjalanan hidup yang saya lalui.
Batam sengaja saya masukkan ke kota terakhir saya kunjungi selain Yogya dan Semarang dalam seminggu terakhir inj. Selain alasan menunggu tiket agak murah, saya ingin menggali sebuah kenang.
Batam……. saya pernah ribuan kenang di sini. Saya pernah punya pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang membuat saya tidak merasa “dying inside”. Saya mempunyài sahabat-sahabat yang selalu saya banggakan. Sehingga saya sempat menyandarkan semuanya. Iya… walaupun akhirnya saya percaya bahwa hidup ini adalah seleksi alam.
Saya bayangkan, ketika saya datang ke kota ini saya menemukan sahabat-sahabat yang selama ini saya selipkan namanya dalam doa saya. Tapi biarlah…… saya percaya sahabat-sahabat itu juga butuh seleksi alam.
Akhirnya saya menghela nafas berat saat turun dari bandara Hang Nadim Batam. Melewati semua jalan mulai dari gang kecil sampai jalan poros. Semuanya punya kenang.
Mungkin bagi orang lain saya bodoh. Hanya hidup dengan masa lalu. Dengam penyesalan-penyesalan yang terus di ratapi. Tidak! Tidak sesederhana itu. Bagi saya ketakutan itu harus di lawan. Saya bukan tipe orang yang lari dari sebuah hal tidak mengenakkan. Saya hanya butuh 100 hari untuk kembali dan men-cek apakah luka saya masih ada atau tidak.
Akhirnya saya menyimpulkan luka itu masih ada tapi sekarang hanya berupa bekas. Iya…. bekas. Karena masih belum sepenuhnya kering. Masih bisa terkoyak setiap saat.
Pasti ada yang mempertanyakan sesakit apa sih Raa? Bahkan sampai keluar dari Batam. Maka saya akan diam. Biar saya, Tuhan dan orang-orang terpilih yang tahu alasan penyebab luka itu.
Dan akhirnya hari ini saya menginjak lagi Pulau Batam. Bukan….. bukan untuk tinggal dan menetap di sini lagi. Saya hanya singgah 2 atau 3 hari saja.
Batam….. batam….. batam…… saya mengejanya perlahan. Saya pernah menggantungkan masa depan di sini. Pernah sangat mencintai Melayu bahkan sampai detik ini cinta pada melayu itu tidak pernah berubah.
Saya tidak ingin menangis lagi. Saya tidak akan mengumpat-umpat lagi. Saya hanya akan berjalan…….. berjalan…….. berjalan. Titik.
Seperti layaknya sebuah buku. Seburuk.buruknya catatan  yang pernah kita tulis selalu tersedia lembaran baru yang bersih untuk kembali menulis lagi.
Dan saya siap untuk menulis lagi
: orang bodoh tidak percaya Tuhan. Tetapi lebih bodoh orang yang percaya Tuhan tapi tidak percaya kuasaNya

Ini saya dan  sahabat saya Wenny setelah mendarat di Bandara Hang Nadim Batam setelah perjalanan panjang yogya semarang. Iya….. Weny salah satu hasil  seleksi alam dari persahabatan di Batam. Saya dari Banyuwangi dia terbang dari Batam dan  bertemu di yogya untuk melakukan perjalanan bersama sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *