Uncategorized

HEI OKTOBER APA KABAR MU?

Ini sudah di hari ke 4 di bulan Oktober.

Saya belum sempat menyapamu. Hai Oktober? apa kabarmu? apakah kau
baik-baik saja. Pada sebuah pengkhianatan yang membuat kamu “mandeg”
tidak bergerak dan dalam posisi yang sama sejak ratusan tahun yang lalu.

Oktober sama seperti September. Adalah sebuah korban pengkhianatan.
Oktober berasal dari kata Okto, dalam Bahasa Latin berarti delapan.
Semula Oktober memang berada dalam
urutan ke delapan. Tapi ratusan tahun dia terdiam di bulan sepuluh.
Makna yang bersebrangan dengan arti nya sendiri. Sejak Roma di kuasai
Mark Anthony nama bulan Quintilis di ganti dengan Juli termasuk nama
bulan Agustus yang menjadi simbol kebesara kaisar Romawi.

Dan sebuah kesalahan yang di ulang-ulang akan menjadi sebuah pembenaran. Bahkan menjadi sebuah kepastian.

Baik Raa…. apa harapan mu di bulan Oktober?


Seperti biasa saya selalu berusaha berdamai dengan kenyataan.
Menyederhanakan mimpi-mimpi yang terkadang membuat beban bagi saya
ketika tidak sesuai dengan target. Menjadi pribadi yang menarik.
Bertemu dengan orang-orang hebat yang akan membuat otak saya terus
tumbuh dan tumbuh.

Menarik diri saya lalu kemudian menginstropeksi diri atas apa yang telah terjadi dalam pertemuan.

Kembali membuat catatan kecil tentang perjalanan yang telah saya lewati.

Tapi ada satu hal sederhana. Mengurangi ketergantungan. Ketika saya
bisa bermanja-manja. Ketika saya selalu minta tolong dan seakan-akan
“melemah” kan diri saya sendiri.

Ayolah Raa….. berpikir logika. Dulu tanpa mereka kamu toh hidup mu baik-baik saja. Tanpa mereka dulu kamu juga bahagia.

“tapi saya sekarang lebih bahagia”

Lalu bagaimana jika mereka pergi lalu kamu akan kembali sendiri. Pakai logika……!!

Baik….. melangkah mundur. Balik kanan dan lanjutkan perjalanan.

“Mungkin ini hanya sementara”
“Ini hanya sebuah permainan”
“Ini hanya bonus yang diberikan Tuhan”
“Mengalir saja.”

Raa….. percaya semua akan baik-baik saja. Sebuah ketakutan bukan untuk dipelihara, tapi di buktikan.

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada
keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada
penderitaannya saja, dia sakit”

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *