Uncategorized

HARI TANPA MAK ILIK #10 FEBRUARI 2014

Ini hari pertama saya tanpa Mak Ilik. Dan saya sangat sedih sekali,

Hei Raa. Siapa Mak Ilik.

Baiklah saya akan sedikit bercerita tentang Mak Ilik. Dia adalah
pemilik warung kecil di halaman belakang DPRD Banyuwangi. Saya kenal Mak
Ilik sudah cukup lama bahkan sebelum saya menikah. Dulu saat press room
DPRD belum di bangun saya sering nongkrong di warungnya, atau sekedar
ngetik di teras halaman rumah dinas suaminya. Warungnya persis nempel di tembok belakang antara dinding rumah dan pagar DPRD Banyuwangi.

Setelah saya keluar dari Banyuwangi, warung Mak Ilik adalah tempat
nostalgia yang wajib saya datangi. Ketemu ama kawan-kawan lama atau
sekedar ngopi atau mendengarkan mak Ilik nyanyi gending-gending Gandrung
di dapurnya.

“Siro iki nyangendi byen byeng. Ilang terus teko.
Ucul koyo singgat,” katanya ketika saya kembali dan bercerita bahwa
saya menetap kembali di Banyuwangi.


Mak Ilik adalah tempat
pelarian saya ketika uang saya menipis buat makan. Saya bisa makan di
Mak Ilik pake hutang yang saya bayar seminggu sekali. Bahkan saya tidak
pernah menghitung berapa habisnya. Saya titip uang dan ketika saya tanya
apakah uangnya kurang dia selalu menjawab,”cukup Raa.” Saya juga sering
membawakan baju ibu saya yang kekecilan agar bisa dipakai Mak Ilik buat
nyanyi Gandrung.

Sekarang warung Mak Ilik hanya jadi cerita.
Mak Ilik sudah pindah sejak jumat lalu. Waktu Mak Ilik pergi saya ikut
nangis. Terus saya kalau makan sarapan, makan siang, atau sekedar pesen
kopi ke siapa lagi dong?. Ini bukan hanya berlaku untuk saya tapi semua
teman-teman jurnalis yang kebanyakan “kerja” dan ngirim berita lewat
press room DPRD Banyuwangi.

Hari ini hari pertama saya bekerja
tanpa warung Mak Ililk. Saya lupa bawa botol air minum dan akhirnya saya
kehausan akut. Belum lagi saya dan kawan-kawan kelaparan dan harus
keluar untuk beli makan. Padahal beritanya sudah ditunggu “pemirsa”.
Biasanya tinggal teriak sama Mbak Yuyun dan pesan makanan serta minuman
langsung diantarkan ke press room yang jaraknya hanya sekian langkah.

Akhirnya hari ini saya belajar untuk menghargai sebuah kenangan dan
pentingnya seseorang walaupun terkadang kita tidak menyadari
keberadaannya. Mak Ilik ternyata mempunyai peran penting dalam catatan
perjalanan dunia saya dunia Iraa.

Saya masih kangen dengan
obrolan di dapur. Nyanyian-nyanyian dia dengan cengkok gandrung khas
Banyuwangi. Kangen sama rujak buatannya. Sama lemuru, ‘iwak nus’,
gimbal, jangananan bali, dan sambelnya.

“Mak mangan. Masak paran”
“Iku ono sambel ambi iwak. Goleto dewek weh. Piringe nyang mburi”

Saya berjingkat dan melewatinya. “Siro koyo kucing yo Raa. Delengen ta,
sego diulet ambi sambel ambi lemuru thok. Panganen kono iwake endog ta
daging”

Saya tertawa ngakak dan mengatakan hanya ingin makan
pake sambel saja sama lemuru. Dan baru sadar jika ternyata itu terakhir
saya makan di Mak Ilik

Saya kangen Mak Ilik.

“Kenangan
itu semacam jaring laba-laba dalam otak. Menangkap serta menyimpan. Dan
baru sadar jika sudah dipojokkan berdebu menjadi usang.”

Tapi yang pasti saya sangat kehilangan dia, Mak Ilik.

*Curhatan saya yang bekerja tidak punya bangunan kantor di daerah. Yang
tidak pernah makan dirumah. Yang jarang pulang kecuali untuk tidur dan
ganti baju.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *