Uncategorized

HAI DOENK ………

Hai doenk … apa kabar mu. Tiba-tiba saja nama kamu muncul berkelibat
di bayangan saya siang ini. Tidak … tidak … aku tidak pernah melupakan
kamu. Bagaimana mungkin aku melupakan laki-laki yang mengajarkan
bagaimana indahnya hidup dengan berpetualang. Indahnya hidup dengan
berjalan dan bergerak. Pindah dari satu titik ke titik yang lain.
“ Ke Jawa kok ya ndak bilang-bilang to dek”
Aku
ingin mengirim pesan kepadamu dan mengatakan aku di Jawa waktu itu.
Tapi entah kenapa aku tiba-tiba menjadi peragu?. Padahal kamu tidak
pernah suka jika aku menjadi seorang peragu.
“Jangan jadi perempuan plin-plan dek”
Ak
takut Doenk …. Aku takut kamu sibuk dan tidak bisa menemui aku. Atau
yang lebih buruk lagi aku tidka ada keberanian untuk bertemu kamu dalam
keadaan yang berantakan. Upsss…. Bukan berantakan dalam arti fisik ya.
Tapi secara batin. Aku takut … kamu akan menceramahi aku habis-habisan
dengan mengatakan bahwa aku perempuan cengeng,  tidak berprinsip, tidak
berpendirian, tidak punya kekuatan untuk bertahan. Aku tahu kalau hanya
penampilan fisik yang berantakan kita tidak perlu menutup-tutupi.
Bermalam dan berhari kita sering melakukan perjalanan panjang bukan? Dan
aku heran kamu selalu terlihat rapi dengan ke sangaran kamu. Aku suka
saat kamu mengelungkan rambut panjang mu di atas tengkuk mu dengan
selipan ranting atau pulpen agar rambutmu  tidak lepas. Aku selalu
terbahak-bahak. Lelaki feminis  yang sangar!!!

Doenk ….
Apa kabar mu hari ini? Kamu sedang dimana? Ada di negara antah berantah
mana? Baik-baik saja kan? Tanggal segini biasanya kamu deadline? Kamu
tahu? Aku masih sering membeli majalah yang memuat laporan perjalanan
mu. Dan aku akan geleng-geleng kan kepala. Aku ingat dulu ibu selalu
tanya jika kau tak ada kabar berminggu-minggu.
“Doenk kemana Raa….”
“Ke Pulau Komodo….tau tuh. Nyamain muka kali Mam”
Kapan waktu juga aku menjawab, “ Doenk lagi ke papua cari koteka”
Saat
ibu sakit pun dia masih menanyakan kamu.  Aku mengatakan bahwa kamu
sedang liputan jauh dan nggk ada sinyal telpon. Kamu tau… waktu itu ibu
memaksakan menelpon kamu. Untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja.
“Kasian
Doenk Raa …. Ibu tahu dia butuh seseorang yang mengerti. Dia butuh
rumah untuk istirahat. Untuk  pulang dan merehatkan kaki dan otak dia.
Ibu nggk tega liat matanya yang kosong.  Kamu jadilah sahabat dia.
Jangan suka bertengkat dengan dia. Anggap dia kakak kamu. Kalau
seandainya ibu nggk ada, dia masih boleh pulang ke rumah ini. Istirahat
disini. Disini rumah dia. Jangan buatkan dia kopi. Buatkan dia
secangkiri susu atau jahe panas. Urusankalian berdua mau ngopi di luar
ibu nggk mau ambil urus. Kalo dia sudah ada sinyal dan dia telpon kamu ,
tolong kasih ke ibu ya Raa. Ibu kangen sama dia”
Dan ternyata ibu meninggal tanpa sempat bertemu kamu lagi Doenk.
Hei
masih ingat tidak saat kita berdua kehujanan dan ibu sibuk
beteriak-teriak menyuruh kita segera mandi dan memaksa kamu menggosokkan
minyak kayu putih agar kamu tidak masuk angin serta menyuruh kita
segera meminum susu coklat panas? Padahal kita masih uforia dengan hasil
photo-photo kita? Ibu selalu mengatakan, “Doenk itu anak aku walaupun
dia tidak lahir dari rahimku”
Doenk …. Melihat photo mu di
berandaku  menyibak sebuah kenangan. Iya … aku kangen kamu. Aku kangen
memelukkan tangan ku ke pinggang mu dan kemudian kita berpetualang entah
kemana. Aku kangen  menikmati laut bersama kamu. Belajar mengarahkan
lensa dan otak atik program. Aku kangen kamu yang mengajarkan aku
beragama “canon” sampai detik ini. Aku kangen berlompatan bersama kamu.
Aku kangen rambut kamu yang jatuh di anak kening dan aku main-mainkan
dengan ujung jari ku. Aku kangen umpatan kamu.  Aku kangen menyisir
rambut kamu dan belajar menggelungnya agar rapi ….. dan kita berdua akan
bediri menghadap kaca untuk membandingkan rambut siapa yang paling
panjang. Dan aku kangen kamu menunggu aku di luar ruang kaca saat aku
harus siaran sebelum bepergian. Aku kangen kamu yang mencekoki aku
tentang jurnalism.
Dihadapan mu aku adalah seorang bocah
perempuan yang menemukan kakak sesuangguhnya. Aku suka bergelanyut di
lengan kamu yang kurus kering itu.
“Kadang capek dek 
hidup kayak gini”, katamu suatu waktu. “Semua orang membanggakan aku.
Enak ya… bisa kesana kemari. Padahal aku juga pingin istirahat. Aku
ingin banyak waktu untuk keluargaku”
Aku terdiam. Saat itu aku maish belum bisa mengikuti cara pikiran mu.
Doenk … dan aku kini aku pun mengalami dengan hal yang kau keluhkan bertahun-tahun lalu. Lelah … jenuh …..bercampur jadi satu.
Doenk
….. aku tiba-tiba kangen naik motor sama kamu terus kita “blusukan”
kemana pun. Asal keluar dari rutinitas ini. Aku kangen tangan kurus kamu
yang siap memegang tangan ku saat aku meloncat ke parit.  Aku kangen
obrolan berdua sambil ngopi di pagi hari. Atau makan nasi goreng di
malam hari ….. Aku kangen kamu yang duduk manis mendengarkan ocehan ku.
Aku kangen kamu yang selalu memaksa aku untuk berani menembus jalan
gelap atau duduk manis di pinggir kuburan. Aku kangen menarik-narik
ransel kamu. Memakai kamera kamu.
Doenk … aku kangen
pelukan kan kamu dan kata-kata kamu yang selalu menyakinan aku bahwa
hidup itu adalah sebuah tantangan dan perjalanan yang harus diselesaikan
saat aku terisak seperti anak bocah yang mengadu pada kakak nya.
Hai
Doenk ….. aku doakan semoga kamu baik-baik saja …. Aku menyimpannya
dalam sebuah kotak rahasia. Karena persahabatan dan persaudaraan itu
tidak bisa dipisahkan oleh keadaan.
Hai Doenk …. Kelak
bawa aku untuk melewati sebuah jurang. Dan yakinkan aku bahwa aku bisa
meloncatinya. Dan aku aku akan berteriak-teriak kegirangan saat
menyadari aku sudah berada di seberang dan melawan ketakutanku sendiri.
Sederhana saja Doenk …. Yakinkan bahwa  aku tidak sendiri.
“Mas
…. join kopinya ya…”, aku menyeruput kopimu dan tidak mengiraukan
kamu yang melotot dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Suatu pagi saat
kita menikmati hamparan pantai lewat sebuah ruang kaca …….
“Saya
keren ya mas……”, kata ku saat itu. “Iya keren …. tap lebih keren
yang moto kayaknya Dek”. Cincin mata ungu itu masih aku gunakan Doenk
……termasuk batu berbentuk hati itu. “Aku dapetin dari gunung kawi lo
de….”. Aku menyimpannya dan membawanya setiap perjalanan ku
Tagged

2 thoughts on “HAI DOENK ………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *