Catatan

Habis Fahri terbitlah Dilan

Hal terpenting sebelum membaca catatan ini adalah tulisan ini dibuat dari sudut pandang seorang iraa. Perempuan yang mencintai langit dan laut tapi nggak pandai berenang dan tidak bisa terbang. Perempuan yang mencintai ikan dan nggak tega kalau makan sate kelinci.
Saya mengenal Dilan baru-baru saja. Belum genap setahun. Termasuk kategori telat dibandingkan para penggemar Dilan lainnya. Sampai detik ini pun saya belum punya koleksi lengkap buku Dilan dan Milea. Hanya mengandalkan pinjaman. Seseorang mengatakan buku Dilan akan aneh saat berada di koleksi buku-buku saya lainnya. Saya hanya tertawa saat itu dan mengatakan, pasti akan segera mengkoleksinya. Paling tidak jika saya rindu dia, saya bisa membacanya kembali.
Buku pertama selesai kurang dari 12 jam, termasuk buku kedua dan Milea. Berbeda sekali dengan buku Gunawan Muhammad Catatan Pinggir. Sudah sebulan, kucel dan masih belum juga khatam sampai bab terakhir.
Membaca Dilan sederhananya agar saya bisa mendapatkan bahan obrolan dengan mereka yang berusia muda. Saya tidak mau terlihat konyol ketika mereka berbicara tentang percintaan Dilan dan Milea saya hanya garuk-garuk kepala.
Apakah saya suka dengan tokoh Dilan. Jawabannya Iya walaupun tidak sampai tergila-gila ataupun terobsesi.
Tapi membaca Dilan adalah membaca tentang cinta pertama di jaman SMA dan saya yakin semua orang pernah mengalaminya. Ini yang menjadi salah satu kekuatan dari cerita Dilan dan Milea. Semua pernah mengalami cinta pertama namun dengan alur cerita yang berbeda-beda. Dan ayah Pidi Baiq berhasil menuliskannya dengan bahasa yang sederhana. Bahasa yang lebih mudah dipahami. Bukan bahasa yang rumit dan mendayu dayu.
Saya pun pernah punya cinta pertama dan menganggap sebagai cinta terakhir. Mencintai secara mati-matian dan mengaburkan logika. Toh akhirnya selama belasan tahun mempertahankannya, cinta itu menjadi usang dan hanya menjadi kenangan. Bahkan jika pun saya bertemu dengan dia, mungkin akan bingung bagaimana mengawali pembicaraan. Mungkin akan bertanya apakah ukuran celananya sudah berubah dari 27 menjadi 35? atau apakah dia masih suka menggunakan parfum Axl?
Kembali ke Dilan dan Milea. Sad ending-nya adalah mereka putus dan kelak saat dewasa mereka akan bertemu pasangannya masing-masing. Menikah dan memiliki anak. Saya selalu berkata tetap ingin menjadi Milea walaupun kawan-kawan saya mengolok-olok jika Milea hanya dipacari tapi tidak dinikahi. Atau bilang, “Hei Raa. Ingat umur”. Saya hanya tertawa-tawa saja menanggapinya. Tentu tidak serius.
Iya memilih menjadi Milea walaupun berpisah, namun kisahnya abadi bersama dengan Dilan.
Lalu Fahri? semacam Dilan beberapa minggu lalu juga muncul nama Fahri, laki-laki yang diceritakan sangat sempurna di film Ayat-Ayat Cinta 2. Yang membuat teman saya seorang ibu anak satu terobsesi dengan Fahri dan berlinangan air mata sambil bilang “Romantis banget Raa”.
Saya yang sudah terpatri bahwa cowok kece itu semacam Nicholas Saputra hanya mikir romantisnya Fahri macam apa? tapi sudahlah karena kadar romantis tiap tiap orang berbeda-beda. Kayak sambel. Ada yang suka pedas, ada yang suka asin, manis atau dibanyakin terasi plus pake jeruk atau belimbing wuluh.
Semalam tadi kawan saya mention di salah satu akun instagram.
“Fahri itu dicitrakan soleh lahir batin, tapi acap kali mendua. Dilan itu dicitrakan (agak) nakal, tapi setia. Mbak-mbak pilih Dilan atau Fahri”
Baiklah saya akan menjawab. Tetap akan memilih Dilan. Mengapa? karena Dilan muda, setia dan masih bisa untuk berubah. Lalu Fahri? karena mendua sudah menjadi alasan untuk tidak memilih dia.
Alasan selanjutnya? Fahri sudah menikah. Dua malah. Sedang Dilan? dia setia dengan Milea. Kelak diceritakan setelah menikah, Dilan pun masih tetap setia dengan istrinya. Tapi entah hatinya.
Penulis Dilan, ayah Pidi Baiq mengatakan Dilan dan Milea ada. Nyata. Memiliki cela. Sedangkan Fahri? Tokoh rekaan yang sangat sempurna bahkan di dunia nyata tidak mungkin ada.
Raa. Ini film. Ya tahu. Santai saja. Ini cuma catatan sederhana di dunia iraa bukan di dunia nyata.
Noted.
Hati – hati laki-laki. Standart perempuan perempuan ini tentang pasangan sudah mulai sedikit bergeser. Cari yang sedikit nakal, suka menulis puisi, menyederhanakan sesuatu yang rumit, suka memberi kejutan semacam mengirim nasi goreng empat bungkus lewat kurir dan pastinya adalah romantis ngasih jaket pas temennya kedinginan
The End
Tertanda
Para Pencari Dilan
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *