Catatan, Life Style

Goyang 250-an dan cinta musisi pada Banyuwangi

“Cinta akan membuatmu ingin menjadi orang yang lebih baik: benar, benar. Tapi mungkin cinta, cinta sejati juga memberimu kesempatan untuk mejadi dirimu sendiri”

Kutipan dari buku Gone Girl dari Gilian Flyn saya baca berulang-ulang setelah melihat potongan video klip yang liriknya ada kata “Yo wes ben jarene rong atus seketan, seng penting iso gawe ngisi dandang”. Potongan video klip itu juga saya unduh lalu saya simpan handphone untuk diputar berulang-ulang. Entah siapa yang pertama kali mengunggah potongan video klip itu, tapi sumpah menghibur sekali liriknya.

Konon video klip itu muncul setelah seorang penyanyi dangdut asal Banyuwangi mengeluarkan statmen sarkasem yang diduga menghina pekerja seni khususnya pekerja musik di Banyuwangi. Bahkan puluhan orang sempat mendatangi Kantor Dinas Pariwisata Banyuwangi untuk meminta klarifikasi dari pihak penyanyi tersebut awal pekan ini. Saya membacanya di portal online dan juga membaca komentar para warganet di facebook, instagram yang memuat berita tersebut. Sumpah serem sekali membaca komentarnya. caci maki dan membawa-bawa nama keluarga penyanyinya juga. Banyak cerita mengalir setelah stalking satu persatu dari ratusan komentar. Serius. Saya membacanya satu persatu. Tidak ada yang saya skip.

Termasuk membaca pernyataan sang penyanyi di grup whatsapp yang juga saya ikuti. Tapi untuk menghargai privasi, saya tidak akan membuka percakapan itu di catatan ini. Sepengetahuan saya, ini adalah kedua kalinya penyanyi yang juga menjadi artis tersandung dengan omongannya. Sebelumnya kejadian yang nyaris sama terjadi pada tahun 2016 lalu.

Tapi saya tidak ingin membahas detailnya, tapi lebih suka membahas potongan video klip yang sudah beredar luas di facebook dan instagram. Menjawab nyiyiran dengan karya adalah sebuah pukulan telak. Bahkan tidak sedikit yang mem-viralkannya dengan membuat challange. Dan buat saya ini adalah salah satu hal terkece yang telah dilakukan oleh para musisi Banyuwangi.

Saya jadi ingat ketika saya mengajar di salah satu PAUD. Suatu hari saya marah kepada Rama yang telah membuat seorang temannya menangis dan menghukum Rama berdiri di pojokan kelas. Tidak berapa lama, seorang murid berkata jika sepatu saya basah karena direndam di dalam ember berisi air oleh Rama. Saya kaget lalu berbicara pelan-pelan kepada Rama mengapa dia merendam sepatu saya. Tiba-tiba dia nangis dan memeluk saya, “Aku marah sama miss Iraa. Kok aku yang dihukum? yang salah itu temenku. Dia coret-coret bukuku. Aku sudah minggir, tapi terus bukuku terus di coret. Aku marah, aku pukul. Tapi aku yang dihukum,” katanya sambil tersedu-sedu.

Saat itu saya shock dan benar-benar merasa bersalah. Saya memeluknya selama 10 kali hitungan. Setelah itu saya meminta maaf atas kesalahan karena telah menghakimi dia sebagai anak yang suka membuat keributan. “Miss Iraa minta maaf. Miss Ira tidak tahu. Mau maafkan miss Ira?,” kata saya berjongkok dihadapannya. Mata kami sejajar. Dia mengangguk dan kemudian tersenyum. Saling memaafkan lalu dia berlari kembali bermain dengan teman-temannya.

Semacam ini mencintai. Karena cinta sejati, akan memberimu kesempatan untuk mejadi dirimu sendiri.

“Seng penting goyang rong atus seketan… Abaikan semua yang penting senang-senang,” lirik potongan video klip saya putar berulang-ulang.

Catatan ini dibuat dalam keadaan sadar diri, sebagai bentuk suport untuk musisi Banyuwangi. Pokoknya musisi mau yang nyanyi diterop ataupun yang sering tampil di TV. Banyakin karya dan terus membumi. Tidak perlu saling klaim mana yang paling banyak memberikan kontribusi pada Banyuwangi. Karena cinta bukan seperti itu.

Oh ya, ngetik catatan ini pake jari, dan tolong bacanya pake hati, karena kita selalu punya cara berbeda untuk mencintai tanah kelahiran ini.

*Sengaja pake foto diri sendiri karena bingung mau pake foto siapa. Masak mau pake foto mantan saya? Ntar kalo pasangannya marah siapa yang salah?

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *