Catatan

Flaneur.

“Kata flanarie pada abad 16 menunjukkan sebuah kebiasaan orang-orang yang menyusuri dan mengelus jalan, menikmati udara senja atau pucuk bunga yang mulai merekah di musim panas. Ada konotasi ini adalah aktivitas untuk kaum asristokrat yang kebanyakan waktu.
Baru belakangan, kata flaneur memberi kesan ambivalen. Ada campuran arti citra rasa seseorang yang melakukan perjalanan untuk memenuhi keingintahuan dan keinginan mempelajari kebudayaan setempat. Ini kemudian berbeda dengan flaneur yang sebelumnya berarti pengelana yang berjalan ke mana saja, tanpa tujuan.
Menyaksikan flaneur, seperti melihat gambaran bergerak dari sebuah kehidupan urban” (Amba – 279)
….
Flaneur. Saya mengulangnya perlahan. Hanya sekedar persinggahan bukan rumah untuk tinggal. Lalu bagaimana saya? Seandainya punya rumah cangkang yang bisa saya bawa, tentu saya tidak akan sibuk mencari rumah tempat tinggal. Tempat saya pulang bukan hanya sekedar datang.
Sebuah Intermezo dalam “Flaneur”
Kapan kau bawa aku pergi dari sini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *