Uncategorized

FESTIVAL SANGRAI KOPI, SAAT SUKU USING TER “EKSPLOITASI”

Bagi saya Banyuwangi adalah tempat pulang. Setelah saya melakukan
sebuah perjalanan panjang. Dan Desember 2011 ini saya kembali ke
Banyuwangi.
Kebetulan sekali ada 2 event yang ada di
Banyuwangi yang pas sekali di adakan saat saya pulang kampung. Event
tersebut berkaitan dengan Hari Jadi Banyuwangi yang 240 setiap 18
Desember (berbarengan dengan ulang tahun Ibu saya). Dua event itu (1)
nyapu bersama sepanjang jalan utama di Kab. Banyuwangi mulai dari
Kecamatan Kalibaru sampai Kec. Wongsorejo. (2) Festival Sangrai kopi.
Kegiatan pertama? Buat saya hanya sekedar sebuah formalitas. Bukankah
setiap hari kita menyapu halaman? Hanya sebuah moment saja menyamakan
waktu menyapu! Nothing spesial di mata saya. Alhasil saya memilih
kegiatan kedua. FESTIVAL SANGRAI KOPI!
Ada beberapa alasan saya memilih Festival Sangrai Kopi
  1. Saya adalah pecinta kopi (dunia akhirat semua tahu kalau saya suka kopi)
  2. Saya akan bertemu dengan teman-teman wartawan dan itu berarti adalah REUNI!
  3. Refresh klik kanan. Eksplore dan belajar fotografi lagi!
Sabtu 10 Desember 2011.
Festival
Sangrai kopi di adakan di Desa Kemiren Banyuwangi. Pada Festival
Sangrai Kopi Massal tersebut, menghabiskan 300 kilogram biji kopi
robusta, 300 tungku, penggorengan dan kayu. Masing-masing tungku
berjarak kurang lebih satu meter yang di pasang berjajajar di sepanjang
jalan desa yang mencapai 2 kilometer yang sukses yang membuat keringat
saya terkuras seperti orang marathon. Dan memaksa saya untuk membeli
topi tani untuk sedikit mengurangi rasa panas yang menyengat.
Secara
teori, untuk menyangrai satu kilogram kopi membutuhkan waktu sekitar 20
menit dengan temperatur 180 hingga 200 derajat celcius. Tidak perlu
sampai hitam gosong tapi coklat tua. Dalam proses ini akan di hasilkan
biji kopi yang berkualitas dengan cita rasa yang luar biasa. Tapi ingat!
Secara terori…lepas dari teori Hanya Tuhan yang tau…….
Dari
270 bungkus kopi hanya 10 bungkus yang lolos untuk proses giling dan
kemudian diuji oleh para penguji kopi. Dan sayangnya saya bukan salah
satu pengujinya (mikir….siapa saya ya harus ikut jadi penguji?).  Dan
Festival Sangrai kopi ini tercatat dalam Museum Rekor Indonesia sebagai
sangrai kopi massal terbanyak di Indonesia.
Bangga…..? Iya saya
sanggat bangga sekali. Tapi saat saya duduk di teras rumah seorang warga
di Kemiren saya ngbrol dengan seorang ibu yang usianya sudah udzur.
Saya bertanya, “Ibu Senang dengan acara ini?”. Dengan bahasa diplomatis
dia menjawab, “Kadung hang ngongkon pemerintah yo klendi maning? Tapi
kadung milih yo lebih seneng kadung acarane iki bisa ngasilaken picis
kanggo masyarakat kene” (Kalau yang menyuruh pemerintah ya bagaimana
lagi. Kalao bisa pilih ya memilih kegiatan yang lebih menghasilakn uang
untuk masyarakat sini).
Sayakembali bertanya, “bukankah
ibu bisa jualan kayak sekarang?” Dia tertawa pelan, “Dodolan kang mung
dino iki thok! Kesuk? Mosok eling uwong-uwong iku ambi awak-awak hang
ono reng kemiren”. (jualan kan hanya hari ini. Besok? Mereka tidak akan
ingat dengan masayarakat Kemiren). Katanya sambil menunjuk rombongan
orang yang sedang jalan-jalan di sepanjang jalan dengan sorotan banyak
kamera. Saya diam dan tidak meneruskan pertanyaan saya.
Acara
sudah hampir usai. Para pejabat sudah menuju satu lokasi. Dan akhirnya
saya memilih untuk menepi bersama salah satu sahabat saya untuk makan
siang di sebuah warung kecil. Sambil tiduran saya berpikir tentang 
perkataan ibu yang saya ajak bicara tadi. Ya…saya bangga sebagai warga
Banyuwangi. Saya bangga dengan pemecahan MURI sebagai sangrai kopi
terbanyak. Saya bangga Banyuwangi di ekspose habis-habisan di sleuruh
media massa lokal, nasional, bahkan internasional. Tapi secara
substansial bagaimana?
Saya terus berpikir kenapa
Banyuwangi tidak membuat program yang lebih mengena pada masyarakat?.
Perbaikan jalan mungkin? Ya…saya baru sadar jika jalan di Banyuwangi
benar-benar parah. Apalagi jika di bandingkan dengan jalan aspal dari
kota-kota lain yang saya kunjungi? Kenapa program-program yang di
gembar-gemborkan pada tahun-tahun ini hanyalah program yang hanya “jual
tampang?”. BEC yang sumpah buat saya nggk banget karena nyontek
kabupaten sebelah dan harus mengeluarkan dana hingga 500 juta? Angka
yang fantastis yang saya pikir kalo di alokasikan untuk pembangunan
jalan, pendidikan, kesehatan atau mungkin untuk pemberdayaan masyarakat
kenapa tidak?
Dan semuanya selalu beralasan atas nama melestarikan
budaya Banyuwangi, yang notabene terwakili oleh Suku Using. Apakah
untuk sebuah pencitraan nama pemimpin, Suku Using harus di eksploitasi?
Picik!
Saya
jadi ingat sahabat-sahabat saya dari komunitas sejarah banyuwangi.
Mereka lebih semangat memberdayakan Banyuwangi dan merekamnya dalam
tulisan-tulisan yang saya pikir lebih baik dari pada program-program
yang hanya pengumpulan massa, pencitraan. Bekerja menggunakan otak.
Merekam perjalanan sejarah dalam tulisan. Bukankah dalam tulisan sejarah
akan bisa abadi? Bukan hanya sekedar pencitraan yang selintas lalu
kemudian…..terlupakan!
Saya sengaja memilih judul yang saya
yakin akan menimbulkan kontroversi. FESTIVAL SANGRAI KOPI, SAAT SUKU
USING TER “EKSPLOITASI”. Ya…saya sengaja memilih kata eksploitasi.
Kalo bukan eksploitasi lalu apa? Semua ramai-ramai bicara tentang Using,
tentang Banyuwangi……berbicara ini….itu….tapi apa yang telah
kita lakukan untuk Suku Using? Untuk Banyuwangi…?
Ya saya tahu
saya tidak dan bahkan belum melakukan apa-apa untuk Banyuwangi tanah
kelahiran saya. Hanya mengkrittik, protes, nggrundeng lewat catatan yang
tidak seberapa ini.
Masih ada Paidi, Saidi, Gopar yang
butuh lapangan pekerjaan……..Mbok Nah, Mbok Tun, Mbok Sri, Mbok Ipah
dan mbok-mbok yang lain yang tidak perlu lagi banting tulang untuk
membeli kebutuhan bahan pokok yang harganya semakin naik. Masih banyak
ana-anak putus sekolah karena biaya mahal, walaupun klaim pendidikan
gratis terpampang di semua sekolah-sekolah negeri. Nyatanya? Sama aja
Nihil!!! Penjual di pasar Blambangan bisa berjualan dengan tenang tanpa
takut jualannya diangkut oleh oknum.  Para nelayan bisa melaut dengan
tenang tanpa takut dengan solar yang hilang dari peredaran. Pak Pri yang
kesulitan membeli pupuk untuk sawahnya yang nggk seberapa. Tidak ada
lagi perempuan-perempuan Banyuwangi yang menjadi TKW yang menjadi
korban!Saat saya menemukan cerita bahwa Banyuwangi adalah salah satu
kontong terbesar pengirim TKW!
Saya
menyelesaikan tulisan ini di Batam dengan perasaan tidak karuan. Saya
rindu Banyuwangi. Banyak yang ingin saya lakukan untuk Banyuwangi tapi
saya tidak punya daya apapun. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang
perempuan yang lahir di Bali dengan ibu asli suku Using, Ayah Bugis dan
menghabiskan banyak masa-masa saya di Banyuwangi. Banyak yang ingin
saya protes? Tapi pasti ada yang bilang , “Kamu Cuma bisa ngomong doang
Raa”. Ah…biarlah….dari sini saya hanya mengatakan saya mencintai
Banyuwangi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Dan jika saya
protes, maka itu sama saja dengan memprotes diri saya sendiri. Jika saya
menilai banyuwangi buruk, maka itu berarti sama saja mengatakan bahwa
saya juga buruk. Entahlah saya berharap agar Banyuwangi lebih baik lagi.
Bukan hanya sebuah ruang kosong melompong tanpa isi tapi di luar
berhias bunga plastik. Palsu!
Saya akhir catatan ini dengan
menyesap kopi terakhir saya di malam ini, 17 Desember 2011. Pahitnya
sama dengan kopi yang saya nikmati di Banyuwangi. Hanya saja di sini
tidak berampas. Dan saya selalu membiarkan gulanya menggumpal di bawah
tanpa perlu mengaduknya. Pahit memang! Tapi saya yakin bahwa saat habis
saya akan menemukan rasa manis di sesapan terakhir kopi saya. Saya suka
menyesap kopi dengan kedua gigi saya di satukan hingga mengeluarkan
suara khas. …..yang tidak akan di miliki oleh orang lain saat meminum
kopi!
Ya….seperti Suku Using yang mempunyai khas
sendiri! Yang tidak akan tergantikan. Suku Using sudah mengalami proses
panjang seperti pembuatan kopi. Dan saya yakin suatu saat Suku Using
akan menemukan rasa manis di sesepan terakhir. Entah kapan…tapi saya
percaya…….

Ah semakin malam catatan saya semakin
kacau! Segera harus diakhiri. Untuk terakhir saya ingin katakan bahwa
Saya sangat mencintai Banyuwangi. Banyuwangi sangat indah. Suku Using
sebagai suku asli Banyuwangi adalah suku yang mempunyai budaya yang luar
biasa. Percayalah dengan kalimat-kalimat terakhir saya……
Tiba-tiba
saya ingin kembali lagi ke Banyuwangi! Karena Banyuwangi adalah jalan
di mana saya pulang………..Saya percaya….pada saatnya Suku Using
tidak akan ter “eksploitasi” Tapi Suku Using akan tetap bertahan di
jaman modernisasi dan bukan lagi korban sebagai ajang pencintraan diri!
Saya Rindu Banyuwangi!
Kita
pernah berbincang kan? pada malam itu saat kita berbicara tentang
hidup……..tentang akal, tentang pikiran! tentang semuanya
………Hei….bukankah kalian selalu menasehati saya untuk berpikir
positive dan optimis………Santai saja kawan…..saya akan kembali
pada kalian….dan akan saya ceritakan kisah perjalanan saya………
Kembali
ke Habitat………

Kembali ke mereka seperti kembali ke awal perjalanan ku, kembali ke
dunia yang membuat saya bahagia. Kembali ke dunia yang penuh
tawa……….ya! perbincangan bersama meraka membuat saya terlahir
kembali. Kembali ke mereka membuat saya tahu di mana jalan untuk pulang
ke tanah kelahiran saya Banyuwangi!

Tagged

1 thought on “FESTIVAL SANGRAI KOPI, SAAT SUKU USING TER “EKSPLOITASI”

  1. Saya rasa dengan diadakannya acara "nyapu bareng" + festival sangrai kopi ini koq kesannya seperti mempertontonkan kemiskinan saja (di mata saya).Padahal banyak kegiatan yang lebih berguna misalnya bakti sosial benerin jalan yang bolong bolong atau rumah warga yang sudah mau ambruk.
    Yang ditakutkan adalah mengadakan acara asal asalan tp dengan dana anggaran yang menggelembung besar.

    Tapi salut saya dengan mbak.Sebagai warga memang harus kritis dalam bersuara.Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *