Catatan, Life Style

Fendi, Fitri Carlina dan penjaga mimpi Batara

Emaknya Pendik mengusap air matanya, saat saya datang ke Kampoeng Batara beberapa waktu lalu. “Pendik mondok mbak. Duh nelongso kadung ndeleng acara hing ono Pendik,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Saat itu saya hanya bilang kalau Pendik sedang belajar, orang tua tinggal mendokan. Kalo sukses juga nanti orang tua yang bangga.

Pendik punya peran penting di Kampung Baca Taman Rimba yang jaraknya hanya 100 meter dari hutan. Tahun 2014, dengan membawa patrol, dia akan keliling Papring untuk mengajak temen-temennya bermain di halaman rumah Cak Wiwi, panggilan teman baik saya Widi yang menginisiasi rumah baca sederhana itu.
Setahun setelahnya, saat punya sepeda gayuh, dia yang menjemput teman temannya saat ada relawan yang datang diluar jadwal. Dia memimpin teman-temannya dan dipanggil Kapten Batara.

Suatu hari, ketika saya mengajak Fitri Carlina ke Kampung Batara, Pendik memainkan kendang mengiring penyanyi dangdut nasional tersebut bernyanyi. Saya yang tidak pernah menyadari, jika peristiwa tersebut sangat membekas pada Pendik dan membuat dia percaya diri. Kemampuan bermain musik Pendik meningkat dan dia berlatih secara otodidak.

Selepas Fitri pulang, Pendik mendekati saya dan bercerita jika diajak bertaruh oleh anak seberang kampung sebesar 25 ribu rupiah.

“Lare iku ngomong kadung hing mungkin penyanyi dangdut nang tv gelem teko nang Papring. Kadung ngundang jarene mbayar 25 juta. Ngejaki totoan. Isun hing gelem. Isun wedi mbok Ira hing mrene ambi Fitri Carlina. Kalah isun yoro,” katanya.

Ayah Pendik adalah seorang Linmas dan tidak bisa membaca serta menulis. Ibunya seorang ibu rumahtangga yang sedikit bisa membaca dan menulis. Kedua kakak perempuannya menikah diusia sangat muda. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga Pendik mengandalkan hutan.

Pendik bertekad untuk membuat perubahan untuk dirinya dan keluarganya.

“Isun klendi mbok.Bingung. Kadung mondok sopo hang ngancani Cak Wiwi? Sekolah SMA nang kutho abot bandane,” keluhnya. “Hang penting sekolah lek,” kata saya saat itu.

Akhirnya, Pendik memilih mondok dan meninggalkan Kampung Batara yang letaknya tepat di depan rumahnya.

Lalu Mas Widie Nurmahmudy cerita, dua hari sebelum berangkat mondok, Pendi membuat baling baling bambu. Dia berpesan kepada teman-teman, selama baling-baling bambu berbunyi, maka dia akan selalu ada di Batara. Pendik juga meminta agar baling baling itu dijaga dan jika rusak segera diperbaiki.

Pendik berangkat mondok diantarkan oleh “pasukannya” ke pondok pesantrennya.

Saya mendengarkan cerita itu sambil merasakan nyesek luar biasa. Nelangsa campur bangga. Sudah banyak aktivis aktivis literasi yang saya temui tapi entah kenapa jiwa perubahan ini benar benar ada di Kampung Batara. Bukan sebuah proyek ambisius yang hanya berkutat dengan angka. Bukan sebuah kegiatan yang wah tersorot banyak media. Kampung Batara yang dijadikan salah satu indikator Banyuwangi sebagai Kota Layak Anak tapi sama sekali tidak pernah didatangi oleh pejabat struktural. Apalagi bicara bantuan. Saya ingin bercerita detail disini, tapi ah sudahlah.

Ambisius tidak ada disini. Yang adalah adalah bagaimana membuat perubahan pelan pelan. Merawat dengan kasih bukan hanya sekedar eksistensi di tengah keterbatasan.

Yang penting adalah perubahan besar terjadi di Papring Kalipuro. Sekolah menjadi perioritas, anak anak berani bermimpi, angka pernikahan usia anak menurun drastis. Warga guyub dan ikut ambil peran dalam perubahan sekitar.

PR terbesar adalah bagaimana mereka bisa mandiri secara finansial.

Percaya Pendik. Mbak Iraa ikut menjaga baling baling bambu kamu walau entah bagaimana caranya.

Sehat ya Lek.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *