Kuliner, Traveling

Es Krim Domino Jember yang melegenda

5 Maret 2018
Jam 12 saya harus sudah cekout dari hotel dan mengejar kereta jam 1 siang. Masih ada sekitar 90 menit lagi. Saya mengemasi barang lalu memilih keluar dan berjalan kaki ke Kedai Es Krim Domino yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel. Kembali saya mengajak Friska.

Selama kuliah di Jember, saya sudah mendengarkan legenda es krim ini. Namun sebagai anak kuliah dengan sangu pas-pasan, saya harus menahannya karena takut harganya mahal. Saat itu tidak semudah sekarang untuk cek harga makanan sebelum memutuskan datang atau tidak di sebuah tempat makan. Sekarng tinggal klik sudah banyak pilihan harga.Nah dulu. Saya tidak punya nyali masuk ke sebuah kedai dan ternyata harganya tidak ramah untuk seorang mahasiswa yang nyambi kerja macam saya saat itu.

Saat masuk pertama kali ke kedai Es Krim Domino saya merasakan suasana jadul. Saat itu sepi, hanya kami berdua yang datang. Di dalam kedai ada beberap kursi yang ditata rapi. Tidak banyak ornamen di dalamnya. Saya bertanya es krim apa yang banyak dipesan, sayangnya saya tidak mendapatkan penjelasan detail tentang menu yang di tulis. Agak susah bagi saya yang baru pertama kali datang. AKhirnya saya hanya bisa menangkap es krim durian yang favorit, dan es krim spesial cair yang menggunakan soda. Banyak sekali pilihannya.

Akhirnya saya memutuskan Coklat (scoop), durian, dan Rainbow (5 rasa tidak bisa dipilih). Saya pikir menu yang aman bagi para pemula yang datang semacam kami. Plus saya pesan satu porsi lumpia. Saya kembali merayu Friska untuk mau memesan es krim lebih banyak. Namun dia angkat tangan dengan alasan kenyang.

Tidak mengecewakan. Es krim coklat scoop rasanya luar biasa, duriannya juga termasuk rainbow yang penyajiannya mirip es krim singapura atau semacam es lapis. Dipotong. Sumpah enak banget dan tidak eneg. Termasuk juga lumpiahnya. Saya lebih suka kuahnya. Rasanya khas sekali.

Tahun 2015, goodnewsfromindonesia menuliskan jika es krim Domino bertahan sejak 57 tahun lalu dimiliki oleh Torus Tri Sanghana (90) yang memiliki nama asli Tee San Hion. Kedai tersebut diwariskan oleh ibunya.

Kedai yang dibangun oleh Un Hwa Nio ini awalnya dibangun di toko Robinson yang kini menjadi toko karpet. Seiring berjalannya waktu, Torus memutuskan untuk memindahkan kedai miliknya di dekat warung soto Dahlok. “Selain jual es krim, mama juga bikin roti untuk Belanda dulu. Kini yang warisi adik saya (Tee San Tiong) di toko dekat Robinson itu,” jelas Torus. Tee San Tiong atau Santoso Tirtawidjaja merupakan adik kandung Torus. Di usianya yang menginjak 75 tahun, dia masih turun tangan dalam pembuatan roti secara tradisional. “Kami masih jaga kualitas dari dulu. Tidak pakai pengawet buatan dan tak pakai bahan kimia,” jelas Santoso. Hal yang sama juga dilakukan oleh Torus dalam pembuatan eskrim sehingga memiliki reputasi yang sangat terjaga. Untuk membuat adonan es krim, dia mengolah susu telur dengan kualitas terjamin. Susu yang dipilih harus susu yang benar-benar segar dan baru diperas hari itu. Susu memang menjadi bahan utama es krim yang akan mempengaruhi kualitas rasa. Dan bagi Torus, lebih baik kedainya tutup dan tak membuat es krim kalau susu segar tak ada. Dia tak mau ambil resiko atas turunnya kualitas. Tulis goodnewsfromindonesia

Pada 1990, warung es krim Domino mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Jember saat itu, R. AM Goenawan, sebagai restoran terbersih tahun itu. Juga mendapatkan penghargaan sebagai restoran dengan sanitasi yang memuaskan.

Saya bukan maniak es krim, tapi buat saya es krim domino layak untuk diapresiasi karena menjaga kualitas selama puluhan tahun. Saya akhirnya memikirkan beberapa kedai yang saya singgahi yang hanya berusia satu atau dua tahu. Untuk bertahan lima tahun saya sudah hebat. Kedai yang hanya mengandalkan wifi atau sekedar tempat untuk nonkrong tapi tidak memberikan sebuah “pelayanan” dalam sebuah masakan.

Mau tidak mau, kita harus mengakui untuk datang ke sebuah warung makan, cafe, kedai atau apapun itu istilahnya adalah untuk menyelesaikan urusan perut. Yang kedua adalah menyelesaikan rendezous.

Saya jadi ingat postingan seorang teman yang intinya adalah bagaimna kita bisa moveon jika hanya memesan menu yang itu-itu saja dan duduk di tempat yang sama berkali-kali jika datang di sebuah kedai makan.

Semacam yang sering saya katakan, bahwa makanan bukan hanya sekedar mengenyangkan perut tapi juga menyelamatkan kenangan. Kamu harus percaya itu. Jika tidak, maka tidak ada yang namanya rindu pada masakan rumah yang dimasak ibu walaupun hanya sekedar oseng-oseng terong dengan banyak kecap dan bawang putih.

Es Krim Coklat
Es Krim durian
Lumpiah

Apakah saya akan datang kembali ke Es Krim Domino? pasti!!! masih banyak es krim yang harus saya coba, es krim yang mampu mengembalikan kenangan saya kepada ibu yang sering membawakan oleh oleh es puter rasa coklat pada masa itu.

Noted

Catatan ini juga saya buat untuk mengenang 9 tahun kepergian ibu hari ini 9 Maret. Hampir satu dasawarsa ternyata. Tapi ibu tetap hidup dalam tulisan tulisan saya, hidup abadi di duniaira.
Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *